Tak Semanis Petani Cabai (Catatan Aris Prima Gunawan)

  • Bagikan
Tak Semanis Petani Cabai (Catatan Aris Prima Gunawan)
Redaktur Padang Ekspres yang Wartawan di Padang Pariaman, Aris Prima Gunawan, penulis artikel opini "Tak Semanis Petani Cabai (Catatan Aris Prima Gunawan)". (Foto: FB Aris Prima Gunawan)

Harga cabai melampaui Rp 100 ribu per kilogram (kg), petani cabai bahagia. Artinya, kenaikan harga cabai positif bagi petaninya. Namun, hal ini tidak berlaku bagi petani sawit. Mereka menjerit. Perkaranya, harga sawit dibanderol murah. Padahal, harga minyak goreng (migor) masih banyak yang mahal sekarang.

SEORANG teman yang berkembun sawit, hanya bisa tertawa. Hal itu saat saya bandingkan harga minyak dan harga sawit atau TBS (tandan buah segar). “Tidak ada pengaruhnya bung. Minyak ya minyak, TBS ya TBS. Itu faktanya sekarang. Seakan minyak tidak berasal dari sawit lagi,” kata teman yang seorang petani sawit di Nagari Bawan, Kecamatan Ampeknagari, Kabupaten Agam tersebut.

Sebagai petani sawit, tak sedikitpun ia merakasan manisnya migor mahal. Malah kondisi itu makin mempersulitnya. Sebab, dapur petani sawit juga butuh minyak goreng. “Tidak tahu kerjaan siapa bung. Pengepul juga banyak pusing bahkan merugi menghadapi kondisi ini,” ungkap teman yang semasa kuliah sekamar kos dengan saya itu.

Mendengar rentetan cerita sahabat yang saya kenal sejak 10 tahun silam tersebut, tentu hati ikut prihatin. Ia sangat gigih merawat kebun sawitnya, tapi hasil membohonginya. Saking serius berkebun sawit, rumah saja di lingkungan kebunnya itu.

Keluhan rumahnya harga TBS, tidak saja disampaikan teman saya itu. Tapi seluruh petani sawit yang diwawancarai tim Padang Ekspres. Di antaranya di Pesisir Selatan, Agam, Sijunjung, Dharmasraya, dan Solok Selatan.

Harga sawit di daerah itu memang beragam. Terparah di Pesisir Selatan, sekarang harganya mentok di tingkat pengepul Rp 600 per kg TBS. Sedangkan yang termahal di Solok Selatan, yakni dikisaran Rp 900-1.100 per kg di tingkat pengepul. Harga itu hasil wawancara Kamis (7/7/2022).

Memang ada yang dibeli lebih mahal dari itu. Harganya dikisaran lebih dari Rp 2.500 per kg. Namun, hanya dapat dirasakan petani yang mitra perusahaan sawit, yang punya kelompok dan atau tergabung dalam koperasi. Tak jelas kenapa ada penyekatan begini. Apakah karena TBS sawit dari kebun petani perorangan tidak berkualitas?

Menyimak penjelasan Kabag Tanaman Tahunan dan Penyegaran Disbuntanhor Sumbar, tampaknya tak begitu. Penekanannya memang lebih pada dorongan agar petani bermitra dengan perusahaan. Hal itu dimulai dengan membuat kelompok tani. Jadi, petani bisa langsung menjual ke perusahaan.

Penyekatan dan dorongan seperti ini tampaknya tak etis. Sebab, tak seluruh orang ingin terikat. Dan tak seluruh kelompok membawa sukses bagi petaninya. Saya berkata demikian, lantaran kelompok juga bukan kewajiban bagi petani. Dan menurut saya, tidak pantas pula diwajibkan kepada petani.

Perlu kita ketahui, beberapa daerah yang sempat menolak pengembangan perkebunan sawit, karena tak ingin lahan mereka dikuasai korporasi. Salah satu indikasi awalnya, dimulai dengan menekan harga sawit. Lalu membuat petani terpaksa terikat. Jadi, jika pemerintah memang sulit menaikkan harga TBS, setidaknya mintalah perusahaan tidak membedakan petani.

Berbeda halnya jika memang petani perorangan hasil TBS-nya buruk. Wajar jika harganya dibedakan. Tapi apabila kualitas TBS-nya sama dengan petani mitra perusahaan atau yang memiliki kelompok, seharusnya mereka diperlakukan sama. Yakni dengan membeli TBS mereka dengan harga yang sama dengan petani sawit mitra perusahaan.

Itupun, petani yang kualitas TBS-nya buruk, seharusnya diedukasi, bukan dipaksa bergabung sebagai mitra perusahaan atau membuat kelompok tani. Terlebih di zaman sekarang ini, banyak media yang dapat dimanfaatkan pemerintah untuk mengedukasi.

Solusi itu saya kemukakan, lantaran melihat sekarang yang terjadi aksi saling “lempar batu”. Saling menduga, bahkan menyalahkan. Ada yang menganggap penghentian sementara ekspor biang anjloknya harga sawit. Itu dominan anggapan petani sawit. Ada juga dugaan permainan pengepul sawit. Ini disampaikan pihak Pemprov Sumbar.

Pemerintah sendiri, tampaknya juga menghindar. Luar negeri (pasar global) jadi sasaran pesalahannya. Versi Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Panjaitan, ekspor sunflower Ukraina juga mempengaruhi murahnya TBS.

Sampai sekarang, belum ada gambaran siapa yang menyelesaikan kondisi ini. Sementara petani, sudah berlarut tekanan bahkan merugi. Sebab TBS siap panen tak memberi tenggang waktu. Mereka harus diturunkan dan dijual.

Terakhir, saya mengutip penyataan, Prof Syafrudin Karimi; “Logikanya, seharusnya ketika keran ekspor kembali dibuka, permintaan kembali meningkat dan harga sawit tentunya menguat. Namun yang terjadi adalah sebaliknya”.

Membaca pernyataan Guru Besar Universitas Andalas itu, saya berpikir, apakah penghentian ekspor sementara bagian dari konspirasi saja? Mungkin karena tak puas dengan keuntungan mahalnya harga minyak goreng? Atau justru ingin membuktikan power kepada pemerintah yang sudah menghentikan ekspor sementara? Semoga itu hanya dugaan saya saja. (*)


Catatan: Tulisan ini sudah tayang di Koran Padang Ekspres, Minggu (10/7/2022). Kami terbitkan ulang atas izin penulisnya.


Artikel opini ini ditulis oleh Aris Prima Gunawan (Wartawan di Padang Pariaman, Redaktur di Koran Harian Padang Ekspres)


  • Bagikan
Daftar dan masuk untuk mengambil konten!