Iklan Suhatri Bur Kiri
Iklan Rahmang Kanan

Siska Hamdani, Anak Penjahit di Solok, jadi Pejabat Prancis

  • Bagikan
Siska Hamdani 2021
Siska Hamdani, seorang WNI asal Kabupaten Solok yang kini menjadi ahli kelistrikan di Prancis. Kisahnya sangat menginpirasi untuk mencapai karir tersebut. (Foto: Istimewa)

Siska Hamdani, bukti bahwa siapa saja bisa sukses. Tidak tergantung latar belakang. Tidak soal kaya dan terpandang. Asal ada kemauan, cita-cita bisa tercapai. Itulah yang menjadi bekalnya. Sehingga, Siska yang dulunya diremehkan, kini terpandang dan dihargai keberadaannya di Eropa. Hal itu karena ilmunya di bidang kelistrikan. Ingin tahu ceritanya?

Siska Hamdani berasal dari Nagari Guguk, Kecamatan Gunung Talang, Kabupaten Solok. Ia merupakan anak pertama pasangan Yulizar (69 tahun) dan almarhumah Yasma Erni. Kehidupan keluarganya sangat sederhana. Sebab, ayah Siska bekerja sebagai penjahit yang disambi dengan bertani.

Meski perekonomian keluarga pas-pasan, Siska Hamdani di masa kecil masih bisa memulai pendidikan di tingkat SD hingga SMP dengan lancar. Yakni di SD 01 Jawi-jawi dan SMPN 3 Gunung Talang. Selama menempuh pendidikan SD hingga SMP, Siska sempat menjadi juara umum. Ia bahkan kerap mewakili sekolah dalam lomba tingkat provinsi.

Namun, begitulah perekonomian, selalu menjadi sudut pandang utama dalam kehidupan sosial. Cemooh muncul saat Siska Hamdani memutuskan untuk melanjutkan pendidikan ke Sekolah Analisis Kimia Padang (SMAKPA). Orangtuanya yang kerap mendengar ejekan itu.

“Ya, beberapa orang di kampung kala itu bilang saya tidak tahu diuntung. Hal itu karena saya melanjutkan pendidikan di SMAKPA yang biayanya mahal,” ungkap Siska Hamdani.

Untungnya, orang tua Siska sosok yang sabar. Mereka tidak menanggapi pandangan masyarakat yang memandang “sebelah mata”. “Mereka (warga yang mencemooh, Red) tidak tahu bahwa saya mendapat beasiswa penuh sejak tahun kedua di SMAKPA,” bebernya.

Setamatnya di SMAKPA, Siska berkesempatan melangkah ke perguruan tinggi. Ia menempuh pendidikan di Akademi Teknologi Industri Padang (ATIP). Saat itu, Siska mendapat beasiswa gratis biaya semester dari Bumi Asih. Pasalnya, Siska mampu meraih Indeks Prestasi (IP) 3,98-4.0.

Lebih mengagumkan lagi, wanita kelahiran 25 Januari 1980 ini hanya membutuhkan waktu 2,5 tahun untuk tamat dari ATIP. “Saya sangat bersyukur saat menyelesaikan pendidikan di ATIP tahun 2002 silam, dengan waktu kuliah 2,5 tahun,” ungkapnya.

Usai menamatkan perkuliahannya di ATIP, Siska termotivasi untuk terus melanjutkan pendidikan. Hal itu setelah ia mendapat nasehat sejumlah akademisi terkemuka di Sumatera Barat. Di antaranya Pembantu Rektor I Universitas Andalas (Unand) 2006-2010 yang kini menjabat Rektor Institut Seni Indonesia (ISI) Padangpanjang, Prof. Novesar Jamarun. Lalu almarhum Rusdi Jamal yang pernah menjabat Wakil Rektor I Unand, serta salah seorang dosen Kimia Unand, Zam Sibar.

“Akademisi-akademisi hebat itu memotivasi saya untuk terus melanjutkan pendidikan. Mereka menyarankan saya melanjutkan kuliah S1 ke Universitas Gajah Mada (UGM). Dengan semangat dan optimisme, saya mengikuti saran mereka,” kenang Siska Hamdani.

Ekonomi keluarga pun kembali menjadi ujian terbesar Siska Hamdani kala itu. Terlebih sang ayah mengaku tak sanggup mewujudkan impian Siska kuliah ke UGM. Belum lagi, cemooh semakin ramai menghampiri telinga keluarganya. “Pekerjaan ayah saya saat itu sebagai penjahit yang disambi dengan bertani. Jadi, ayah mengaku hanya mampu membiayai sekolah 2 orang adik-adik saya,” ungkapnya mengenang.

Namun bukan Siska namanya jika patah arang. Ia tetap optimis bisa kuliah ke UGM. Sehingga, impian Siska masih mendapat jalan dari Allah. Kegigihannya pun menuai kejutan. Siska berhasil mendapatkan uang Rp 4 juta untuk biaya masuk UGM.

“Saat itu saya coba mencari bantuan ke teman-teman saya semasa di SMAKPA. Alhamdulillah, tiga teman yang bekerja di Jakarta memberikan bantuan. Yakni Ari Satriawan, Basri Hamdani dan Andre,” ungkapnya.

  • Bagikan