Iklan Suhatri Bur Kiri
Iklan Rahmang Kanan

Putusan Vonis Muzni Zakaria Ditunda Seminggu

  • Bagikan
Muzni Zakaria jelang mengikuti persidangan, Rabu (14/10). Namun, sidang putusan vonis Muzni itu ditunda karena belum selesainya amar putusan majelis hakim. (Foto: Datiak.com)

Padang | Datiak.com – Sidang putusan vonis Muzni Zakaria yang menjadi terdakwa dugaan korupsi pembangunan Masjid Agung dan Jembatan Ambayan Solok Selatan tahun 2018, diundur hingga Rabu (21/10). Pasalnya, amar putusan majelis hakim belum selesai. Padahal, pada sidang pembelaan (pledoi) Muzni pada Rabu (30/9), majelis hakim menetapkan sidang putusan vonis Muzni dilaksanakan pada Rabu ini (14/10).

“Kami minta waktu satu minggu lagi. Jadi, sidang kami tunda Rabu depan (21/10),” ujar Ketua Majelis Hakim Yoserizal, yang didampingi hakim anggota M Takdir dan Zaleka, usai membuka sidang di Pengadilan Negeri Padang, Rabu (14/10).

Sebelum menunda persidangan, Yoserizal menjelaskan bahwa sidang pembacaan putusan Rabu depan (21/10), pelaksanaannya tetap digelar secara virtual. Hanya terdakwa Muzni yang dihadirkan dalam sidang tersebut. Sedangkan Penasihat Hukum (PH) Muzni, mendengarkan amar putusan melalui telekonferensi. Begitupun dengan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Usai majelis hakim memutuskan untuk menunda persidangan, Muzni pun tampak keluar kembali dari ruang sidang. Bupati Solsel non aktif yang terlihat menggunakan batik berwarna cokelat itu, dibawa lagi oleh petugas kendaraan ke ke Rumah Tanahan (Rutan) Anak Air Padang.

Untuk itu diketahui, dalam perkara ini Muzni Zakaria didakwa oleh JPU KPK telah menerima berupa uang tunai, barang, dan uang pinjaman secara bertahap dari M Yamin Kahar yang telah ditetapkan sebagai terpidana dalam kasus serupa. Dalam dakwaan itu, Muzni Zakaria diduga menerima uang dengan total Rp 3,375 miliar.

Namun, saat sidang pledoi, Muzni membantah dakwaan bahwa dirinya pernah menerima pemberian dari M Yamin Kahar. Uang yang didakwakan senilai Rp 3,375 miliar itu, katanya Rp 3,2 miliar merupakan pinjamannya yang didasarkan pada satu akta notaris.

Sedangkan uang senilai Rp 175 juta lagi, lanjut Muzni, merupakan pinjaman pribadi Plt Kepala Dinas Pekerjaan Umum Solsel, Hanif Rasimon, kepada anak buah terpidana M Yamin Kahar yang bernama Suhandana Peribadi alias Wanda. Muzni pun tegas menolak apabila pinjaman pribadi Hanif itu dikaitkan dengan dirinya, seperti yang dijelaskan Hanif dalam sidang kesaksiannya. (da.)

  • Bagikan