Iklan Suhatri Bur Kiri
Iklan Rahmang Kanan

Penyakit Pisang Membuat Petani di Solsel Kebingungan

  • Bagikan
Penyakit pisang membuat tanaman pisang petani di Solok Selatan rusak hingga gagal panen. (Foto: Istimewa)

Solok Selatan | Datiak.com – Bertani yang aman terbilang sulit di zaman sekarang. Sekalipun tanaman yang dikembangkan dinilai mudah. Contohnya tanaman pisang, kini juga membuat petaninya kelabakan. Pasalnya, penyakit pisang membuat tanaman berpohon lunak itu selalu gagal panen.

Di Sumbar ini, salah satu kejadiannya di Kabupaten Solok Selatan (Solsel). Sejumlah petani di sana mengeluhkan buah pisang banyak rusak karena diserang virus. Kerusakannya tidak saja pada buahnya, tetapi juga pada batang pisang.

”Sejak pertengahan 2020 hingga kini, buah pisang belum bisa dipanen. Buahnya membusuk dan pohonnya juga rusak,” kata Syahdiqin, petani pisang di Sungai Salak, Nagari Lubuk Gadang Utara Kecamatan Sangir, kemarin (1/1).

Parahnya lagi, penyakit pisang itu dominan mengenai pisang-pisang unggulan. Contohnya pisang roti, pisang panjang, pisang buai, pisang batu dan lainnya. Yang bertahan hanya pisang jantan karena dinilai agak kebal dari serangan virus.

BACA JUGA:  Pengawasan Orang Asing Harus Libatkan Masyarakat

Biasanya pohon pisang yang terkena virus harus ditumbangkan seluruhnya. Ini agar tidak menyebar ke pohon pisang lainnya dan batangnya dibersihkan kembali. Sehingga, ketika tumbuh tunas baru, lebih aman dari serangan virus.

”Sejak enam bulan terakhir kami belum bisa memanen pisang, karena virus musiman datang. Justru itu, pagi ini kami tumbangkan pohon pisang yang terserang penyakit,” paparnya.

Mudahan saja, harap Syahdiqin, penyakit musiman ini berakhir agar ada pemasukan keluarganya dari penjualan buah pisang. Jika buah pisang aman dari penyakit, biaya kebutuhan seminggu bisa didapatkan dari buah pisang. Tapi sekarang musim gagal panen, hal ini sudah biasa terjadi dan dialami petani pisang di Solsel.

BACA JUGA:  Potensi Sektor Kelautan Bisa Tingkatkan PAD Sumbar

”Buah pisang di dalamnya membusuk, kalau kerugian kita tidak bisa menaksir jumlahnya. Yang jelas satu tandan buah pisang kalau dijual ke pedagang kisaran Rp35 ribu hingga Rp75 ribu, buah pisang panennya sekali seminggu,” ujarnya.

Cerita Petani Lainnya

Khairul juga menyampaikan hal yang sama. Yang paling rentan diserang penyakit, pisang yang harganya mahal. Misalnya pisang roti, pisang panjang dan pisang batu. Di sisi buah lebih unggul, termasuk harganya, tetapi rentan diserang penyakit.

Tanda-tanda mulai terserang ketika terlihat dari perubahan daun dan batang. Termasuk buah sehingga ia pun harus menebang seluruh pohon pisang yang terserang, jika tidak penyakit bisa cepat menular ke rumpun pisang lainnya.

BACA JUGA:  Ketua PP SNNU Dikabarkan jadi Menteri Investasi, Rodi: Sangat Cocok

“Karena serangan penyakit, pernah pisang kami mati semua. Kemudian ditanam baru kembali dan menunggu waktu panen. Sekarang penyakit musiman datang lagi,” ujarnya.

Hal senada juga dikatakan Nola Indrya, pohon pisangnya yang tersisa dari serangan penyakit tinggal dua batang saja. Selebihnya sudah mati, serangan tersebut terjadi sejak awal tahun 2020. Penyakit buah pisang tidak bisa ditaksir, biasanya kerap terjadi ketika pohon pisang mulai berbuah.

“Ketika pisang batu kami rata-rata sudah berbuah, sebelum dipanen pohonnya sudah mulai mati dan harus ditanam ulang kembali,” paparnya. (da.)

  • Bagikan