Menjadi Istri Kedua Berat, Simak Curhat Wanita 28 Tahun Ini

  • Bagikan
Menjadi Istri Kedua Berat, Simak Curhat Wanita 28 Tahun Ini
Ilustrasi wanita yang dijadikan istri simpanan atau istri kedua. (Foto: Tim DatiakCurhat)

Menjadi istri kedua tidaklah mudah. Seperti yang dirasakan V, seorang wanita 28 tahun ini. Menjadi istri kedua, membuatnya tersiksa. Ia merasa tidak mendapatkan keadilan kasih sayang ataupun finansial dari suaminya. Simak curhatnya yang diberangkum Tim DatiakCurhat berikut ini:

Saya V usia 28 tahun. Saya karyawati swasta. Suami K usia 33 tahun. Kami telah menikah 3 tahun dan memiliki anak perempuan berumur 2 tahun. Sekarang, saya sedang mengandung anak kedua. Usia kandungan saya sudah 7 bulan.

Saya menjadi istri kedua bagi suami. Tapi, suami tidak pernah adil dalam membagi kasih sayang maupun finansial. Suami hanya satu bulan sekali pulang ke rumah. Itupun, hanya malam saja dan subuhnya sudah kembali. Ia tidak pernah telepon maupun SMS.

Saya dan anak saya sangat menderita. Bila saya bicarakan masalah ini dengan suami, ia selalu mengucapkan kata “cerai”. Ini selalu ia lakukan sejak saya hamil anak pertama. Saya sangat tak kuat menahan derita berkepanjangan ini.

Saya terguncang dan sudah dua kali mengalami pendarahan. Sholat hajat, tahajud, membaca Al Quran dan zikir tak putus saya lakukan. Saya putus asa. Kaki saya rasanya tidak menginjak bumi lagi. Saya berharap Allah memanggil saya sewaktu persalinan saya.

Untuk itu, saya ingin bertanya beberapa hal. Apa yang harus saya lakukan atas rumah tangga seperti ini? Untuk bertahan tidak mungkin, karena saya tidak mampu lagi menjadi istri kedua. Hati  saya sudah tidak kuat.

Dan, tindakan apa yang saya harus saya lakukan kepada suami? Bagaimana mengatasi depresi yang berkepanjangan ini? Terima kasih. Wassalam.

Untuk mengatasi masalah V dan orang-orang serupa yang mengalaminya, Tim DatiakCurhat merangkum sejumlah pandangan pengamat psikolog berikut ini:

  • Bagikan
Daftar dan masuk untuk mengambil konten!