Rabu, 21 Februari 2024

Datiak.com

Berita Sumbar Terbaru Hari Ini dan Info Terkini

Manifesto Aliansi Civitas Akademika Unand, Serukan Penyelamatan Bangsa

Aliansi Civitas Akademika Unand menyerukan "Manifesto untuk Penyelamatan Bangsa" di depan Unand Conversion Center pada Jumat (2/2/2024). (Foto: Facebook/Info Minang)
76 pembaca

Padang | Datiak.com – Aliansi Civitas Akademika Unand (Universitas Andalas) menyelenggarakan kegiatan bersejarah yang dikenal sebagai “Manifesto untuk Penyelamatan Bangsa” di depan Unand Conversion Center pada Jumat (2/2/2024).

Meskipun hujan deras di Padang, ratusan peserta, terdiri dari mahasiswa dan dosen dari berbagai fakultas di Unand, berkumpul untuk menyuarakan keprihatinan dan ketidakpuasan mereka.

Orasi dan pembacaan puisi menjadi bagian dari kegiatan protes, dengan salah satu fokusnya adalah keterlibatan Presiden Joko Widodo dalam dinamika pemilihan presiden dan pemilu tahun 2024 mendatang.

Harry Efendi, salah seorang penggagas acara tersebut, menjelaskan bahwa kegiatan yang dilaksanakan hari itu merupakan bentuk ekspresi keprihatinan mendalam dalam komunitas akademis Unand terkait kondisi saat ini di Indonesia yang dianggap tidak menguntungkan.

“Menurunnya kampus-kampus di seluruh negeri merupakan tanda bahwa kita memiliki kekhawatiran yang sama tentang keadaan negara kita. Oleh karena itu, kami turun ke jalan hari ini untuk menyuarakan pendapat kami, dengan harapan akan didengar oleh mereka yang berkuasa,” katanya.

Efendi menegaskan bahwa aksi ini dipicu oleh para pemimpin yang secara terang-terangan menyatakan dukungan dan keberpihakan mereka, terutama yang terlihat dalam dua minggu menjelang pemilihan.

Dia berharap tekanan moral yang diwujudkan selama acara ini akan mengingatkan presiden dan pemerintah, dari pusat hingga daerah, untuk melakukan proses pemilu dengan jujur dan adil.

Dia menekankan pentingnya menyampaikan pesan ini, memperingatkan bahwa ketidakmengakuan kredibilitas dalam proses pemilihan sejak awal dapat menjadi bahaya bagi legitimasi pemenang atau peserta pemilu di masa depan.

“Jika pemilihan tidak adil dari awal, itu akan berbahaya seperti permainan sepak bola yang curang. Mereka yang kalah tidak akan menerimanya dengan baik. Namun, jika prosesnya berjalan dengan baik, kami sebagai perwakilan komunitas akademis akan menerima kekalahan dengan lapang dada. Itu adalah sikap kami terhadap para pembuat kebijakan di negara kita,” tambahnya.

Dalam acara tersebut, Aliansi Civitas Akademika Unand menyatakan penolakan terhadap segala bentuk politik dinasti dan pelemahan institusi demokrasi. Mereka mendesak Presiden Joko Widodo untuk tidak menggunakan kekuasaan yang berpotensi menyebabkan praktik kecurangan pemilu.

Selain itu, para demonstran menuntut agar Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) menegakkan aturan netralitas dalam pemilu, sesuai dengan amanat Reformasi Konstitusi.

Mereka juga mendesak pemerintah untuk mengembalikan marwah Perguruan Tinggi sebagai lembaga penjaga nilai dan moral yang independen, tanpa intervensi dan politisasi oleh elit.

Sebagai penutup, aliansi mendorong masyarakat untuk bersikap kritis, menolak politisasi bantuan sosial untuk kepentingan politik status quo atau kelompok tertentu dalam politik elektoral.

Mereka juga menekankan penolakan terhadap kekerasan budaya, pembatasan kebebasan berekspresi, berkumpul, berpendapat, serta penyusutan ruang sipil. (*)