Gempa di Pasaman Barat Menyisakan Pencarian Batin 2 Bocah

  • Bagikan
gempa di pasaman barat
(Foto Kiri), Alisya tertidur lelap setelah menangis siang dan malam menanyakan keberadaan ayahnya. (Foto Kanan), Nadia yang berhasil dibujuk kerabatnya karena selalu menanyakan keberadaan ayah dan bundanya. (Foto: Ist)

Gempa di Pasaman Barat yang memporakporandakan Nagari Malampah, menceritakan banyak cerita pilu bagi masyarakat setempat. Selain menghancurkan rumah, ada nyawa yang terenggut dalam peristiwa itu. Nadia (4 tahun), menjadi yatim. Sementara Alisya menangis siang malam merindui ayahnya.

Pilu, hati terasa teriris melihat dua balita yakni Nadia dan Alisya yang hidup di tenda pengungsian pasca gempa di Pasaman Barat. Sepekan usai gempa, sepekan juga mereka dibalut kerinduan. Hari-hari mereka kini murung. Tak seceria sebelum bencana gempa dan galodo itu merenggut.

Akibat gempa di Pasaman Barat, hampir seratus persen rumah masyarakat di Nagari Malampah mengalami kerusakan. Selain rumah masyarakat yang hampir seratus persen hancur juga ada beberapa orang yang kehilangan keluarga tercintanya.

Nadia dan Alisya diantaranya yang tinggal Jorong Siparayo Kampuang Guguang, pusat galodo itu bergemuruh. Rodi (32 tahun), ayah Nadia ditemukan jasadnya Minggu kemarin dalam keadaan meninggal dunia. Sedangkan ibunya Upiak Madan (27 tahun), masih dalam pencarian.

“Malam acok manangihnyo pak. dima bunda tek? Lamonyo pulang lai? Nadia alah taragak bana ka bunda (Malam sering menangis dia pak. Di mana bunda tante? Lama lagi pulangnya? Sudah rindu Nadia sama bunda,” begitu kata kerabat Nadia menceritakannya.

Sementara Alisya terus menangis dipelukan sang bunda sambil terus menanyai soal keberadaan ayahnya Sapar (49 tahun). Sampai detik ini orangtuanya itu masih dalam pencarian tim gabungan dan masyarakat. Sama halnya dengan Alisya, terus bertanya tentang ayahnya.

“Bilo ayah pulang Nda? Keceknyo capek pulang sampai kini alun pulang lai? Indak sayang ayah ka Ica lai Nda? (Kapan Ayah pulang Bunda? Katanya pulang cepat, kok sampai sekarang belum pulang juga? Apakah ayah tidak sayang lagi ke Ica Nda?”

Begitu teriris hati sang bunda mendengar tangisan dan pertanyaan-pertanyaan yang terus diucapkan anak gadisnya yang masih balita itu di dalam tenda sederhana tempat Alisya mengungsi. Menurut keterangan Etek Nadia, Ni Jas, bahwa keluarga dan masyarakat masih terus mencari keberadaan ibu Nadia dan ayah dari Alisya di sekitaran kebun dekat sungai.

Kronologinya kedua orangtua Nadia dan Alisya tengah pergi ke kebun. Karena gempa di Pasaman Barat pertama, ibu Alisya pulang sendiri karena khawatir keadaan Alisya yang ditinggal di rumah. Kemudian datang gempa kedua dengan kekuatan 6,1 SR disertai longsor yang menghantam kebun milik warga.

Sejak itulah orangtua Nadia dan Alisya hilang. Rodi ayah Nadia pada hari Minggu baru ditemukan dalam keadaan meninggal dunia, terkubur galodo. Sedangkan ibu Nadia dan Ayah Alisya, pasca gempa di Pasaman Barat tersebut, belum juga ditemukan hingga sekarang.

“Kami keluarga besar Nadia dan Alisya meminta doa semuanya, semoga orangtua Nadia dan Alisya segera ditemukan dalam keadaan sehat selamat. Terima kasih banyak kami ucapkan atas perhatiannya kepada Nadia dan Alisya,” ucap Etek Nadia.

Sebelumnya, korban luka berat bernama Desi Ratnasari (25 tahun), juga menghembuskan napas terkahirnya di RSUP sr M Djamil Padang. Ia meninggalkan 3 orang anak 1 usia 7 tahun, 2 usia 4 tahun, dan terakhir usia 4 bulan. Kabarnya, anak yang berusia 4 bulan diantar ke Kinali oleh suami Desi ke tempat eteknya karena anak tersebut tidak bisa minum susu bantu. (da.)


Baca berita Pasaman Barat hari ini di Datiak.com.

  • Bagikan