Pers Publik Gradiasi

Tema Wordpress Berita Pers Publik Gradiasi

BREAKING NEWS
    1,946 view

    Ketegangan AS-Iran Memuncak, Teheran Ancam Infrastruktur Kabel Internet Dunia

    Waktu Baca: 3 menit

    Pers Publik – Timur Tengah kembali berada di ambang konflik besar setelah ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran memasuki fase baru yang dinilai jauh lebih berbahaya. Presiden Amerika Serikat Donald Trump dilaporkan mengeluarkan ultimatum keras kepada Teheran agar segera tunduk pada tuntutan Washington atau menghadapi konsekuensi besar berupa serangan militer.

    Ketegangan meningkat setelah Trump menggelar pertemuan darurat bersama jajaran keamanan nasional Amerika Serikat di klub golf pribadinya di Virginia pada Sabtu, 16 Mei 2026. Pertemuan tersebut dihadiri sejumlah pejabat penting, termasuk Wakil Presiden Judy Fans, Menteri Luar Negeri Marco Rubio, Direktur CIA John Redcliff, dan utusan khusus Steve Wkov.

    Menurut laporan CNN, rapat tertutup itu berlangsung hanya beberapa jam setelah Trump kembali dari kunjungan diplomatik ke China, yang dikenal sebagai salah satu mitra ekonomi utama Iran.

    Sehari setelah pertemuan tersebut, Trump melalui media sosial menyampaikan ancaman terbuka kepada Iran. Pentagon disebut telah menyiapkan rancangan operasi militer besar-besaran yang mencakup serangan presisi terhadap infrastruktur strategis dan fasilitas energi di wilayah Iran.

    Langkah itu dipertimbangkan sebagai upaya terakhir untuk memaksa Teheran berkompromi, meskipun Trump dikabarkan masih membuka peluang diplomasi.

    Sumber ketegangan utama disebut berasal dari penutupan Selat Hormus yang berdampak besar terhadap distribusi minyak dunia. Gangguan di jalur pelayaran strategis tersebut menyebabkan lonjakan harga energi global dan memicu kekhawatiran pasar internasional.

    Trump juga disebut telah melakukan komunikasi langsung dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu guna memperkuat koordinasi menghadapi Iran.

    Di sisi lain, Iran menolak tekanan dari Washington. Melalui mediator Menteri Dalam Negeri Pakistan Mohsin Naqvi, Presiden Iran Massud Pesiskian menegaskan bahwa kehadiran militer Amerika Serikat di Timur Tengah merupakan sumber utama ketidakstabilan kawasan.

    Dalam pernyataannya kepada kantor berita Tasnim, Pesiskian menuduh Amerika Serikat dan Israel terus berupaya memecah belah negara-negara Islam demi kepentingan geopolitik mereka.

    Situasi semakin memanas setelah Iran disebut mulai mengembangkan strategi perang asimetris dengan menargetkan kabel serat optik bawah laut di Selat Hormus. Infrastruktur tersebut merupakan jalur vital komunikasi digital global yang menopang transaksi keuangan internasional bernilai triliunan dolar.

    Berdasarkan laporan CNN, Iran berencana menerapkan kebijakan baru berupa biaya lisensi dan tarif transit terhadap perusahaan teknologi global seperti Google, Microsoft, Meta, dan Amazon apabila kabel data mereka melintasi Selat Hormus.

    Juru bicara militer Iran, Ibrahim Sulfagari, menyatakan hak perbaikan dan pemeliharaan kabel bawah laut di kawasan tersebut harus berada di bawah kendali perusahaan Iran.

    Media yang berafiliasi dengan Garda Revolusi Iran bahkan memberi sinyal ancaman gangguan terhadap arus data global apabila perusahaan-perusahaan teknologi menolak mengikuti kebijakan tersebut karena terbentur sanksi Amerika Serikat.

    Pengamat geopolitik Dina Esfandiary menyebut strategi Iran dirancang untuk menciptakan tekanan ekonomi global sehingga negara-negara Barat berpikir ulang sebelum melancarkan serangan militer terhadap Teheran.

    Sementara itu, pakar komunikasi Mustafa Ahmed memperingatkan bahwa gangguan terhadap kabel strategis seperti Falcon dan GBI dapat memicu krisis digital lintas kawasan. Dampaknya diperkirakan meliputi lumpuhnya sistem perbankan, terganggunya komunikasi militer, gangguan industri outsourcing di India, hingga pemadaman internet di sebagian wilayah Afrika Timur.

    Iran dinilai mencoba meniru model bisnis Mesir yang memperoleh pendapatan besar dari jalur kabel bawah laut di Terusan Suez. Namun, sejumlah pakar hukum internasional menilai langkah Teheran berpotensi melanggar Konvensi Hukum Laut PBB atau UNCLOS 1982 karena Selat Hormus merupakan jalur laut internasional.

    Konflik terbaru antara AS dan Iran kini tidak lagi dipandang sekadar perebutan pengaruh geopolitik atau sumber energi, tetapi juga menyangkut penguasaan infrastruktur digital global yang menjadi tulang punggung ekonomi modern. (*)


    Sumber: Kompas.com

    Penulis Pers Publik
    Penulis
    Editor

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *