Anak Krakatau ada Blind Spot, Alat BMKG tak Dapat Kirim Informasi

  • Bagikan

Jakarta | Datiak.com – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sampaikan status Gunung Anak Krakatau sekarang ini bertambah dari tingkat II atau siaga menjadi waspada. BMKG menyebutkan sekarang ini ada sejumah hal yang perlu jadi perhatian pada leval waspada, terhitung masalah di kompleks Gunung Anak Krakatau.

Hal itu dikatakan Kepala BMKG Dwikorita. Ia awalannya menerangkan jika tidak ada yang penting dievakuasi berkaitan keadaan Gunung Anak Krakatau sekarang ini.

“Barusan ada pertanyaan, ‘apa harus ada yang dievakuasi, contoh di Pulau sibesi?’ Siaga masih tingkat kesiagaan. Maknanya, persiapkan segala hal pada peluang terjelek yang kelak harus dilaksanakan . Maka tidak pada tingkat penyelamatan, bukan benar-benar,” kata Dwikorita dalam pertemuan jurnalis seperti ditayangkan di YouTube Informasi BMKG, Senin (25/4).

Dwikorita menerangkan pada tingkat siap sedia ada banyak hal yang perlu mulai disiapkan seluruh pihak. Banyak hal yang perlu disiapkan, diantaranya rambu penyelamatan sampai lokasi penyelamatan.

“Memberikan info ke seluruh pihak, baik pengurus kelayaran, contoh di sana ada hotel, ada pemda, ada warga, jika mulai siap sedia, yang maknanya, contoh telah persiapkan rute penyelamatan, tempat penyelamatan, dilihat. Karena kadang, jika lama tidak digunakan, paling akhir 2018, saat ini 2022, rambunya kemungkinan telah pada lenyap,” tuturnya.

“Nach ini BPBD, contoh dapat pasang rambu-rambu. Sebenarnya semuanya telah ada, tetapi tinggal dilihat, telah pada lenyap pada hancur atau pada kotor, shelter telah lima tahun tidak dipakai kemungkinan telah kotor,” tambah Dwikorita.

Selanjutnya Dwikorita menyentuh beberapa masalah dalam memantau Gunung Anak Krakatau. Ia menyebutkan ada salah satunya titik di kompleks Gunung Anak Krakatau yang tidak terlihat oleh BMKG.

“Yang perlu barusan, jaringan komunikasi. Memang kesusahan di kompleks Gunung Anak Krakatau, barusan telah dikatakan ada blind spot. Walau ada alat, tetapi signal tidak ada, hingga tidak dapat kirim info. Ini dalam babak kesiagaan,” bebernya.

Tetapi, Dwikorita pastikan BMKG besama Kominfo sampai Kementerian KKP tengah menangani masalah itu. “BMKG bersama Kominfo, Telkomsel, KKP, sedang mempersiapkan, akan memasangkan visa satelit. Bahkan juga di depan, mungkin diperkokoh mekanisme yang lain semakin kuat. Belum babak kedaruratan,” paparnya.

Untuk dipahami, Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda naik status dari tingkat II (siaga) jadi tingkat III (waspada). Erupsi Gunung Anak Krakatau terjadi terus-terusan semenjak awalnya April 2022.

Letusan paling akhir terjadi pada Minggu (24/4) jam 20.20 WIB, tinggi kolom abu terdaftar 3.000 mtr. di atas pucuk. Erupsi dua hari akhir-akhir ini munculkan kemilau lava yang terekam terang dalam CCTV punya Badan Geologi.

“Minggu, 24 April 2022, jam 20:20 WIB dengan tinggi kolom abu teramati ± 3000 m di atas pucuk (± 3157 m di permukaan laut),” catat laporan Badan Geologi, Minggu (24/4).

Erupsi ini terekam dalam seismograf punya Badan Geologi, Kementerian ESDM dengan amplitudo maksimal 55 mm dan durasi waktu 0 detik. “Kolom abu teramati warna putih sampai kelabu dengan intensif tebal ke tenggara dan selatan. Erupsi ini terekam di seismograf dengan amplitudo maksimal 55 mm dan durasi waktu 0 detik,” tulisnya. (da.)


  • Bagikan