Iklan Suhatri Bur Kiri
Iklan Rahmang Kanan

Vaksinasi di Mentawai Dimulai, Bupati Sudah Siap-siap Malah Batal

  • Bagikan
Vaksinasi di Mentawai dimulai, Bupati Yudas Sabaggalet sebagai calon peserta vaksinasi pertama mengikuti pemeriksaan kesehatan sebelum disuntik vaksin sinovac tersebut. (Foto: Sabarial/Datiak.com)

Mentawai | Datiak.com – Vaksinasi di Mentawai dimulai. Hal itu ditandakan dengan di-launching-nya, vaksin sinovac di Aula Kantor Bupati, Rabu (3/2). Sebanyak 30 orang pejabat esensial hadir sebagai peserta pertama vaksinasi pencegahan Covid-19 tersebut.

Pantauan Datiak.com, dalam peluncuran vaksin di Mentawai itu tampak dihadiri Bupati Yudas Sabaggalet, Wakil Bupati Kortanius Sabeleake, Ketua DPRD Yosep Sarogdok, Kapolres AKBP Mu’at, Kajari Mentawai, Kepala BPBD Mentawai Nopriadi, dan pejabat lainnya.

Sebelum dilakukannya penyuntikan, para peserta yang akan divaksinasi tersebut melakukan pendaftaran terlebih dahulu. Setelah itu, mereka menjalani serangkaian pemeriksaan kesehatan. Hasilnya, dari pemeriksaan kesehatan, Bupati dan Wabup serta sejumlah pejabat di Bumi Sikerei itu, dinyatakan belum bisa divaksinasi.

Keputusan itu diambil para petugas yang akan melakukan vaksinasi, lataran kondisi kesehatan para pejabat tersebut tidak mengizinkan. Misalnya ada riwayat penyakit yang dalam pemulihan serta kondisi tensi yang tinggi atau rendah.

Seperti diketahui, vaksin sinovac memang hanya dapat diberikan kepada orang yang dinyatakan layak dari hasil pemeriksaan medis. Artinya, para calon penerima vaksin sinovac, harus dipastikan tidak mengalami penyakit, jantung dan diabetes. Calon peserta juga tidak bisa divaksinasil dalam kondisi tensi tinggi ataupun rendah.

Kendati begitu, bukan berarti para calon penerima vaksin yang dinyatakan belum layak, batal untuk divaksinasi. Sebab, mereka dipastikan divaksinasi setelah kondisi kesehatannya dinyatakan layak oleh medis.

“Hari ini memang belum bisa, tetapi bisa dilakukan waktu berikutnya,” ujar Bupati Kepulauan Mentawai, Yudas Sabaggalet. “Padahal, saya sudah siap divaksin. Bahkan, baju ganti sudah saya siapkan,” imbuhnya.

Yudas menegaskan bahwa vaksin sinovac sudah memenuhi kriteria World Health Organization (WHO) atau organisasi kesehatan dunia. Artinya, vaksin virus corona itu tidak perlu diragukan lagi. “Yang belum layak divaksin itu karena aspek kesehatan. Itu SOP-nya. Jadi, bukan karena vaksinnya tidak layak,” katanya.

Rentetan Vaksinasi
Vaksinasi di Mentawai Dimulai Bupati Sudah Siap siap Malah Batal 1
Kandinkes Mentawai, Lahmuddin Siregar sebagai calon peserta vaksinasi pertama mengikuti pemeriksaan kesehatan sebelum disuntik vaksin sinovac. (Foto: Sabarial/Datiak.com)

Vaksin sinovac yang kini direalisasi di Mentawai baru tahap pertama. Para peserta vaksinasinya yaitu pejabat esensial dan tenaga kesehatan di sana. Jika seluruhnya sudah divaksinasi, sasaran berikutnya adalah ASN, lanjut kepada tokoh agama, dan terakhir masyarakat Mentawai.

“Vaksinasi ini akan dilaksanakan di seluruh puskesmas kita dan RSUD Mentawai. Laporan yang kita terima, yang sudah menjalankannya yaitu Puskesmas Mapaddegat dan Peipei, lalu RSUD Mentawai,” ungkap Kepala Dinas Kesehatan Mentawai, Lahmuddin Siregar.

Lahmuddin menjelaskan, setelah penyuntikan pertama, dua minggu kemudia peserta vaksinasi bakal menjalani penyuntikan kedua. “Vaksinasi di Mentawai ini ditargetkan rampung tahun 2021 ini,” ungkap Lahmuddin.

Efek Samping

Usai divaksinasi, para penerima vaksin diminta menjalani observasi selama 30 menit oleh medis. Hal itu dilakukan untuk melihat apakah vaksin menimbulkan efek samping atau tidak. Nyatanya, tidak ada efek samping berbahaya yang diterima para peserta vaksinasi tersebut.

“Kalau efek yang saya rasakan usai divaksinasi yaitu lapar dan ngantuk,” ungkap Ruth Tasirileleu, salah seorang tenaga kesehatan yang menjadi peserta vaksinasi pertama itu.

Tetap Patuhi Protokol Kesehatan

Divaksinasi bukan berarti leluasa dalam beraktivitas. Pasalnya, protokol kesehatan harus tetap dipatuhi. Mulai dari mencuci tangan, menjaga jarak, dan memakai masker. “Budayakanlah protokol kesehatan dalam kehidupan kita,” ajak Yudas.

Menurutnya, tidak tepat jika menjalani protokol kesehatan hanya karena takut dengan Covid-19. Sebab, protokol kesehatan banyak manfaatnya untuk menghindari manusia dari berbagai virus dan penyakit menular. “Misalnya pakai masker, setidaknya kita bisa terhindar dari TB, debu,” hematnya. (da.)

  • Bagikan