UMKM Lokal Sumbar Hanya Butuh Bukti Cinta

  • Bagikan
Wayoik salah satu UMKM lokal Sumbar
Kaos buatan Wayoik dengan sablon nama-nama tempat (nagari dan kecamatan) di Padangpariaman. (Foto: FB Ajo Wayoik)

Pandemi Covid-19 membuat UMKM lokal Sumbar sangat terpuruk. Terlebih yang bergerak di sektor kreatif. Misalnya sablon pakaian, atau pembuatan dompet, ikat pinggang, dan tas custom. Untuk bertahan di masa pandemi ini, mereka hanya butuh bukti cinta produk-produk Indonesia. Terutama dari para tokoh terkemuka. Kenapa demikian?

Wayoik salah satu brand pakaian yang cukup dikenal di Sumatera Barat. Khususnya di daerah Piaman (Padangpariaman dan Kota Pariaman). Sebab, produk Wayoik terbilang kreatif. Baik dalam penggunaan gambar ataupun tulisan pada setiap sablonan pakaian yang diproduksinya.

Tidak hanya itu, Wayoik diminati masyarakat Piaman di ranah dan rantau, lantaran ide sablonannya datang dari para pelanggannya. Pengumpulan ide itu dilakukan oleh owner Wayoik, Muhammad Fadli, dengan berbagai cara. Salah satunya lewat media sosial.

Namun belakangangan, tampaknya yang tinggal kebesaran nama Wayoik saja. Sebab, distro satu-satunya UMKM lokal Sumbar yang berada di Simpang Lintas Lubukalung, Padangpariaman ini, sudah ditutup oleh Muhammad Fadli. Penyebab tak lain adalah masalah modal usaha.

“Penjualan tidak lagi mampu menutupi biaya sewa toko (ruko di Simpang Lintas Lubukalung, Red),” ujar Fadli –sapaan Muhammad Fadli, ketika dihubungi via telepon pribadinya, Rabu (14/7) malam.

Sekarang, imbuh Fadli, usahanya dijalaninya di rumah saja. “Sebenarnya hal seperti ini (memindahkan usaha ke rumah, Red) tidak saya saja yang mengalaminya, tapi banyak teman-teman kreator sablon pakaian lainnya di Sumbar,” ungkap Fadli.

BACA JUGA:  Masih Ada yang Menolak Sertifikat Tanah Gratis di Padangpariaman

Menurutnya, efisiensi pengeluaran dengan meniadakan toko, langkah terakhir UMKM lokal Sumbar untuk tetap bertahan. Lalu memproduksi barang hanya ketika ada permintaan dari peminatnya. “Pemasaran masih berjalan. Setidaknya untuk menjaga kebesaran nama Wayoik,” beber Fadli yang juga dosen ISI Padangpanjang tersebut.

Dampak Pandemi Covid-19

Mewabahnya Covid-19 kata Fadli sudah pasti meremuk UMKM lokal Sumbar seperti yang digerakkannya. Sebab, masyarakat sekarang tidak begitu peduli dengan style. “Sekarang keramaian dilarang, aktivitas masyarakat di luar dibatasi. Jadi, orang sudah pasti tidak lagi memikirkan soal baju baru,” hematnya.

“Makanya, jangankan Wayoik yang masih brand kecil, Tangkelek saja yang sudah sangat besar mengalami penurunan penjualan hingga 70 pesen sejak pandemi ini. Ngerikan,” ungkap Fadli.

Makanya, lanjut Fadli, tak banyak pelaku UMKM lokal Sumbar sepertinya yang bernyali besar menjalankan usaha di masa pandemi ini. Misalnya dengan melakukan produksi untuk dipajang di toko. “Yang membuat ekonomi itu sulit, karena rendahnya daya beli masyarakat,” hematnya.

Kendati demikian, ia mengaku tidak dapat menyalahkan kondisi yang kini dilanda pandemi. Menurutnya, satu-satunya yang harus dilakukan, yaitu meramaikan pasar Indonesia dengan produk-produk lokal. Lalu membatasi produk impor.

“Kalau UMKM kita disuruh berkompetisi di toko online dengan produk impor, sudah pasti malah ‘membunuh’ UMKM lokal. Sebab, produk impor itu hanya mengedepankan harga murah dan bahan kualitas rendah bahkan ada yang rusak sehari pakai,” cetusnya.

BACA JUGA:  Mutakhirkan RKPD Padangpariaman, Seluruh Program Kerja Sinkron
Peran Para Tokoh Majukan UMKM Lokal Sumbar

Di samping menyarankan penyaringan secara ketat produk impor, menurut Fadli minimnya minat masyarakat terhadap produk UMKM lokal Sumbar, karena kurangnya dukungan dari para tokoh. Padahal, baginya artis yang bisa membesarkan UMKM lokal itu bukan saja figur di dunia hiburan, tetapi juga tokoh-tokoh di pemerintahan.

“Jadi cinta produk-produk lokal itu memang harus dibuktikan oleh para tokoh kita dengan menggunakannya. Terlebih para tokoh yang berkiprah di pemerintahan. Itu harus dilihat dan digalakkan di masyarakat. Ini kan masih banyak juga tokoh kita itu yang bangga memakai barang impor atau bermerk luar negeri,” katanya.

Ia mencontohkan produk yang baru dikembangkannya 2 tahun belakang, yakni tas, dompet dan ikat pinggang full kulit. Produk itu dibuatnya dengan cara handmake (custom) sesuai keinginan pelanggan. “Baru pak Gubernur (Mahyeldi) tokoh kita di pemerintahan yang membeli dompet Wayoik,” bebernya.

Sedangkan para tokoh pemerintahan lainnya, imbuh Fadli, urung membeli produknya setelah mendengar harganya. Padahal, menurutnya harga tas, dompet dan ikat pinggang yang diproduksi Wayoik masih mematok harga murah. Yakni dikisaran Rp 300-400 ribu untuk harga dompet, Rp 150-200 ribu untuk harga ikat pinggang, dan tas sekitar Rp 600 ribu.

“Bahannya full kulit asli. Saya rasa, masalah kepercayaan terhadap kualitas produk UMKM lokal saja yang tidak dimiliki para tokoh kita itu. Padahal, dengan mereka membeli, mereka bisa menjadi ‘model’ untuk memancing masyarakat mencintai produk lokal,” jelas Wayoik.

BACA JUGA:  Laporan Harta Kekayaan Cawako Solok dan Wakilnya

Apabila para tokoh di pemerintahan yang menolak membeli produk UMKM lokal Sumbar, karena banyaknya pilihan produk murah di toko online, baginya hal itu pilihan yang salah. Sebab, katanya produk murah dan berkualitas mustahil ada di pasaran.

“Kalau ada tas, dompet ataupun ikat pinggang dengan harga di bawah Rp 1 juta di toko online, bisa dipastikan itu tidak berbahan kulit asli, dan pembuatannya tidak custom atau handmake. Apalagi produk impor,” klaim Fadli.

Sebab, sepengetahuannya produk handmake justru lebih mahal di luar negeri. “Orang luar negeri itu membeli produk custom karena kegemaran. Jadi mereka tidak memikirkan soal harga. Beberapa teman-teman kita sudah ada yang mendapat pelanggan dari luar negeri itu. Makanya, kita tahu bahwa produk custom berbahan asli itu jarang di jual murah,” cermatnya.

Untuk itu, Fadli berharap selain membuktikan kecintaan terhadap produk UMKM lokal Sumbar, para tokoh pemerintahan juga “cerdas” dalam berbelanja. “Cerdas yang saya maksud itu, setiap pengeluaran kita harus mampu menggeliatkan ekonomi daerah kita. Jangan sampai seluruhnya di beli di luar, sehingga uang yang kita terima di pusat kembali lagi ke ibu kota (Jakarta),” tukas Fadli. (da.)


Temukan berita Padangpariaman hari ini dan berita Sumbar terkini di Datiak.com.

  • Bagikan