Teroris Dinilai Potensial Berkembang di Sumatera Barat

Target Perekrutan Orang Berpaham Radikal

  • Bagikan
teroris di Sumatera Barat
Ilustrasi penangkapan teroris. Pekan lalu, Sumatera Barat dihebohkan karena adanya 16 orang yang diduga teroris ditangkap oleh Densus 88, di Tanahdatar dan Dharmasraya. (Gambar: Tim Datiak.com)

Padang | Datiak.com – Sumbar sempat dihebohkan dengan penangkapan 16 terduga teroris jaringan NII oleh Densus 88 beberapa hari lalu. Keenam belas tersangka tersebut diamankan di Dhamasraya dan Tanahdatar. Penangkapan itu menjadi atensi serius. Bahkan bisa disebut Sumbar menjadi salah satu provinsi untuk merekrut orang-orang yang bisa diajak bergabung.

Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama Kota Padang Prof Dr Salmadanis mengatakan, jaringan teroris di Sumbar menjadi salah satu momok menakutkan yang harus dibasmi secara bersama. Ditangkapnya 16 orang tersangka tersebut tentunya Sumbar menjadi salah satu target operasi mereka (teroris, red) untuk merekrut orang-orang agar memiliki pemahaman yang serupa dengan mereka. Tentunya hal tersebut harus diantisipasi.

Ia mengatakan, meningkatkan pemahaman keagamaan dapat membantu menetralisir pengaruh teroris di Sumbar. “Gerakan radikal dan ekstrem itu sudah mulai muncul di Sumbar, banyak dari mereka memahami agama hanya secara tekstual dan menginterprestasikan sendiri ayat-ayat yang mereka baca di Al Quran. Sehingga, jika tidak sepemahaman dengan mereka kita dianggap sebagai kafir, munafik dan syirik,” ucapnya.

Salmadanis juga mengatakan dalam pemahaman mereka orang-orang yang kafir, munafik dan syirik tadi darahnya halal untuk ditumpahkan sehingga sangat membahayakan kerukunan masyarakat terkhususnya di Sumbar. “Kita sangat khawatir akan gerakan tersebut, di Padang sendiri ada beberapa orang pemahamannya sangat keras akan agama dan tidak mentolelir apapun meski mereka belum melakukan hal-hal yang menjurus ke arah tindakan teroris,” ucapnya.

Salmadanis mengatakan sempitnya pemahaman orang-orang tersebut membuat mereka hanya memahami Al Quran secara tekstual tanpa memahami kontekstual dari Al Quran tersebut. Untuk itu ia mengimbau masyarakat mempelajari agama secara moderat, terbuka dan transparansi yang mencatut hasil ijtihad, hadits, ayat Al Quran dan tafsir Quran.

”Tentunya semua bagian tersebut dapat dilakukan oleh yang memiliki otoritas dan memahami agama seperti ahli hadist, ahli tafsir, ahli fiqih yang kompetensi tersebut tidak dimiliki oleh orang-orang berpaham radikal, sehingga mereka hanya bisa menelaah ayat tanpa dasar itulah yang membuat mereka menjadi keras,” ungkapnya.

Salmadanis mengimbau kepada masyarakat agar tidak terhasut dengan paham-paham radikal yang suka mengadu dan menyalahkan semua aspek dalam keagamaan tampa landasan pasti, ia mengarahkan kepada masyarakat agar belajar agama kepada orang-orang yang kredible tentang keilmuan agama islam.

Senada dengan Salmadanis Ketua MUI Kota Padang Dr Japeri Jarab mengatakan, masyarakat harus pandai memilah yang sesuai atau tidak dengan budaya Minangkabau. Ia juga menekankan kepada masyarakat Sumbar terkhusunya Kota Padang agar selalu melakukan penyaringan informasi agar tidak mudah diperdayaorang-orang yang memiliki niatan buruk di masyarakat.

“Sesuai dengan surat Al-Hujurat Ayat 13, Allah memerintahkan kita untuk memeriksa terlebih dahulu berita yang kita terima sehingga kita dapat menyaring apa yang kita pelajari baik atau tidaknya untuk kita, dengan demikian tidak akan terjadi penyesalan diakhir,” tutupnya. (da.)


Baca berita Sumatera Barat hari ini di Datiak.com.

  • Bagikan