Tanggul Limbah Jebol, 600 Nelayan di Pasbar Sengsara

  • Bagikan
Para nelayan di Aia Bangih tampak mengumpulkan ikan hasil tangkapannya yang sangat sedikit. Di Mentawai potensi lautnya juga belum tergarap maksimal, karena keterbatasan alat tangkap nelayannya. Padahal, Mentawai bisa kaya dengan potensi lautnya. (Foto: Istimewa)

Pasaman Barat – Tanggul limbah PT. Bintara Tani Nusantara (BTN) jebol sejak Jumat (18/4). Dampaknya, Batang Pigogah hingga laut di Aia Bangih jadi tercemari. Bahkan, seluruh ikan larangan di Batang Pigogah, mati karena limbah beracun tersebut.

Melihat kejadian tersebut, sekitar 600 nelayan di Pasaman Barat (Pasbar) menuntut kompensasi ganti rugi kepada PT BTN. Nilainya Rp 150 ribu per nelayan, yang harus dibayar hingga 30 hari.

Perhitungan itu diusulkan, karena 600 nelayan tersebut terancam tidak bisa memancing hingga sebulan lebih ke depannya.

Hal itu disampaikan oleh Ketua Ikan Larangan, Suarto. Ia menjelaskan bahwa Batang Pigogah tercemarnya sejak Jumat lalu, sekitar pukul 4 sore atau 16.00 WIB.

Hanya selisih sehari, ikan yang berada di aliran sungai tersebut mati. Kondisi itu membuat warga geram, lantaran sungai itu tempat ikan larangan.

Tidak hanya itu, dampak pencemaran limbah tersebut turut membunuh kehidupan di lautan Aia Bangih. Sebab air laut di sana menjadi hitam sehari setelah kejadian jebolnya tanggul limbah milik PT BTN.

“Sehari setelah kejadian, air laut menjadi merah hingga hitam pekat. Aromanya bau busuknya sangat menyengat,” ujar Suarto, Jumat siang (23/4).

Menyikapi itu, imbuhnya, para nelayan di sana sudah mendatangi pihak PT BTN. Diakuinya, pihak PT BTN merespon kedatangan nelayan itu dengan baik.

Hanya saja, sampai sekarang permintaan kompensasi yang diusulkan nelayan, belum direalisasikannya oleh PT BTN.

“Dana kompensasi yang diusulkan para nelayan berdasarkan kajian di lapangan. Sebab nelayan sangat merugi karena kejadian ini. Mereka tidak bisa melaut (memancing),” ujarnya.

Begitupun soal tercemari hingga matinya ikan di Batang Pigogah, masyarakat juga menuntut PT BTN melakukan pembenahan hingga sungai kembali normal.

“Kondisi Batang Pigogah belum normal hingga saat ini. Memang butuh waktu lama agar air sungai kembali bersih seperti semula,” pungkasnya.

Dikonfirmasi, Mill Manager PT BTN, Harli mengatakan bahwa pihaknya sudah menyerahkan permasalahan tersebut sepenuhnya kepada Dinas Lingkungam Hidup Pasbar.

Jadi, katanya dinas akan melakukan uji labor dan kajian, hingga akhirnya mengambil keputusan.

“Soal ganti rugi atau bayar kompensasi, kami kami menyerahkan semuanya pada keputusan uji labor dan kajian Dinas Lingkungan Hidup,” ujar Harli. (da.)

  • Bagikan