Iklan Suhatri Bur Kiri
Iklan Rahmang Kanan

Silek Sunua, Pagar Diri yang Berlandaskan Nilai Islami

  • Bagikan
Para generasi muda di Nagari Sunua tampak fokus mempelajari Silek Sunua yang merupakan peninggalan leluhurnya. (Foto: Istimewa)

Silek (silat) Sunua tidak hanya dikenal sebagai salah satu silat tertua di Minangkabau. Silat yang berkembang di Pesisir Barat Sumbar ini, juga disebut sebagai silatnya para kiai (ulama). Hal itu lantaran Silek Sunua dikembangkan oleh Syekh Burhanuddin.

Dalam silat Sunua, sebenarnya tidak hanya dikenal nama Syekh Burhanuddin. Namun ada pula nama Syekh Badarudin, Syekh Badu Elang, Syekh Daud, Anduang Ijuak, Syekh Bani Adam, Anduang Joki, Mak Munaf, Baka Baluik, Rajo Ageh, Sulaiman, dan Ali Musa. Seluruhnya adalah tokoh agama terkemuka di Minangkabau ini.

Mereka memperkenalkan silat Sunua sejalan dengan memperkenalkan Islam kepada masyarakat di Minangkabau. Jadi, silat Sunua bukanklah keterampilan beladiri biasa. Namun, ada nilai-nilai keislaman terkandung di dalamnya.

Makanya, orang yang belajar Silek Sunua, hanya menggunakan keterampilan beladirinya untuk menjaga diri. Mereka tak pernah diajarkan untuk menyerang lawan, tetapi selalu menunggu serangan lawannya. Walau begitu, jangan anggap enteng silat tertua di Ranah Minang ini. Pasalnya, keahlian para pesilatnya tidak hanya bertumpu pada fisik, tetapi juga kecerdasan dan batin yang diperkuat ilmu keislamannya.

Terakhir, silat Sunua ini disempurnakan khalifah ke-5 Syekh Burhanuddin, yakni Anduang Ijuak, yang merupakan putra asli Sunua. Namun, di tahun 2004 lalu, silat Sunua hampir terancam punah. Untungnya, salah seorang anak nagari di sana terpanggil untuk kembali membangkitkannya. Ia bernama Sudirman, yang kini menjadi guru silat di Kabun Sunur.

BACA JUGA:  Percepat Pahami Peraturan Kemendagri

Sudirman terpanggil menjaga silet Sunua tetap ada, karena dirinya memang sudah mempelajari silat sejak usia SD. Selain itu, ia tidak ingin perjalanan silat Sunua berakhir pada perjuangan dan semangat Ali Musa saja. “Motivasi awal saya ingin melestarikan silat ini, agar Nagari Sunua tidak hilang dari peredaran. Bak kata orang, jan mangaku urang Sunua, kalau indak pandai silat Sunua. Hal ini membuktikan silat merupakan jati diri orang Sunua,” hemat Sudirman ketika diwawancarai dikediamannya, Jumat (23/10).

Selain untuk melestarikan budaya, menurutnya silat Sunua penting terus diajarkan, karena bermanfaat bagi generasi muda. Namun, bukan untuk mereka menyombongkan diri. “Nilai penting yang terkandung dalam silat ini justru untuk melatih kesabaran. Kalau keterampilan beladiri itu sifatnya untuk melindungi diri,” ujarnya.

Untuk latihan silat Sunua, imbuh Sudirman, kini dilakukan dua kali seminggu yang biasanya. Pembelajarannya bisa dilaksanakan pada malam hari. “Semua anak Sunua berhak belajar silat ini. Namun tidak juga tertutup kemungkinan bagi muda-mudi dari luar Sunua ikut mempelajarinya,” ungkap Sudirman.

Sejak dibangkitkan kembali oleh Sudirman, silat Sunua ternyata cukup diminati generasi muda di sana. Sekarang saja, di Korong Kabun terdapat 30 orang muridnya. Lalu di Korong Padangkalam sekitar 20 orang yang mempelajari silat tersebut. “Masih banyak murid-murid yang menjadi sasaran. Contohnya di Nagari Sunua, Sunua Barat dan Nagari Sunua Tengah. Makanya kita akan terus kembangkan kembali silat ini,” ujarnya.

BACA JUGA:  Vaksinasi Corona di Payakumbuh Diusulkan untuk 1.084 Orang
Masuknya Pesilat Wanita

Silat sunua ini tidak hanya dipelajari anak laki-laki, tetapi juga kaum hawa (wanita) di Nagari Sunua tersebut. Salah satu pesilat wanita di sana yaitu Wiwid Mulya Putri. Sejak silat Sunua dibangkitkan. Ia menjadi murid wanita pertama di perguruan silat tersebut. Memang, latar belakang keluarga Wiwid juga kalangan para pesilat.

“Saya tertarik mempelajari silat Sunua ini sejak masih usia SMP. Saya tertarik karena kakek saya juga pesilat dulunya,” ungkap wanita 29 tahun tersebut.

Awal belajar silat, banyak tantangan yang dihadapinya. Salah satunya karena silat Sunua masih dianggap tabu untuk seorang perempuan. Ia bahkan dicemooh karena silat tersebut dianggap tidak penting dan bukan untuk perempuan. Anggapan itu tidak hanya diterimanya dari masyarakat luar, tetapi juga dari keluarganya sendiri. Namun, anggapan itu berhasil ia tepis karena tekadnya yang kuat mempelajari silat Sunua itu.

“Alhamdulillah, dengan semangat dan tekad yang kuat, saya dapat membuktikan perempuan juga bisa mempelajari silat. Alhasil, sekarang banyak anak perempuan Sunua yang berminat dan ingin mempelajari silat Sunua,” katanya.

Wiwid turut menjelaskan, tujuannya mengikuti silat Sunua juga tidak terlepas dari niat untuk memotivasi kaum muda di nagarinya. Sebab, baginya silat Sunua yang berlandaskan nilai Islami, sudah tentu baik untuk dipelajari generasi muda. Untuk itu, ia selalu melibatkan para pemuda setiap kali diadakan acara atau kegiatan silat tersebut.

BACA JUGA:  Wagub Sumbar bakal Pakai Helikopter ke Mentawai

“Saya beharap ke depannya silat Sunua bisa semakin berkembang. Sebab silat Sunua ini sangat berguna bagi semua kalangan. Silat ini juga warisan leluhur yang harus dijaga dan dilestarikan,” pungkasnya.

Perhatian Pemerintah

Sejak dibangkitkannya kembali Silek Sunua, Pemerintah Nagari Sunua dan Pemkab Padangpariaman langsung memberikan perhatian serius. Tampaknya, mereka menyadari potensi besar yang terdapat pada silat tersebut.
2009 lalu, Pemkab Padangpariaman membantu melestarikan silat Sunua dengan memberikan seragam silat. Tujuannya, agar eksistensi para pesilat di sana semakin meluas kembali. Lalu dari Pemerintah Nagari Sunua, selalu dialokasikan sekitar Rp 2,5 juta setiap tahunnya guna kelangsungan silat Sunua itu.

Kabid Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Padangpariaman, Suhatman, menjelaskan dalam rangka mendukung kelestarian budaya, Pemkab Padangpariaman juga sudah membuatkan rencana strategis yang mengacu pada Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pengajuan Kebudayaan yang dituangkan dalam Pokok-Pokok Kebudayaan Daerah (PPKD).

“Rencana strategis bidang kebudayaan kita dimuat dalam Keputusan Bupati Nomor: 392/Kep/BPP/2018 tentang Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah Kabupaten Padangpariaman. Di dalamnya ada soal cagar budaya tak benda termasuk silat dan randai,” papar Suhatman.

Dalam melestarikan silat, lanjutnya, tahun 2017 pihaknya juga telah membuat program digitalisasi cagar budaya tak benda. Salah satunya silat Sunua yang juga telah tertuang dalam PPKD Padangpariaman. Lalu ada pula sanggar khusus silat di Aur Malintang dan Sungai Limau. (da.)

  • Bagikan