Iklan Suhatri Bur Kiri
Iklan Rahmang Kanan

Si Manis yang Menggoda Wisatawan di Kelok Pinyaram

  • Bagikan
Pedagang Kelok Pinyaram, Fitri, mengambilkan Pinyaram untuk pelanggannya. Pinyaram adalah makanan khas Padangpariaman yang dibuat dengan cara digoreng. (Foto: Datiak.com)

Kabupaten Padangpariaman memiliki banyak makanan khas. Salah satunya Pinyaram di Kelok Pinyaram. Camilan satu ini tampilannya sangatlah sederhana. Namun, rasanya akan sangat menggoda lidah. Jadi, sangat rugi jika wisatawan dari Padang ke Bukittinggi mencicipi Pinyaram. Kenapa?

Toko kue Pinyaram bisa dijumpai di Kelok Pinyaram, Korong Titianpanjang, Nagari Kayutanam, Kecamatan 2×11 Kayutanam, Kabupaten Padangpariaman. Tetapnya di tepi Jalan Padang-Bukittinggi Km 52. Ada sekitar 15 toko Pinyaran di kiri dan kanan jalan tersebut.

Cemilan ini kerap disamakan dengan kue cucur khas Betawi. Kenyataan tidak demikian. Selain Pinyaram tampak lebih sederhana, bahan pembuatannya pun tidak berbelit. Yang paling membedakan, pembuatan Pinyaram tidak membutuhkan santan.

Hal ini diungkapkan Fitri (27) salah seorang pedagang Pinyaram di Kelok Pinyaram. Katanya, Pinyaram yang dijual pedagang di sana, berbahan dasar tepung beras, gula pasir, dan dicampur sedikit vanile.

“Jadi, gula itu dimasak pakai air, lalu diaduk dengan tepung beras,” ungkap pemilik toko Pinyaram Alisa itu.

“Makanya Pinyaram memiliki ketahanan mencapai 10 hari. Sehingga, banyak wisatawan membelinya untuk oleh-oleh,” imbuhnya.

Meskipun sederhana, mengolah bahan baku Pinyaram tetap membutuhkan ketelitian. Sehingga, rasa Pinyaram tidak terlalu manis, atau olahannya terlalu keras, sebaliknya terlalu encer.

“Kalau dicicipi dengan teliti, rasa Pinyaram setiap pedagang ini pasti memiliki perbedaan. Tetangga saya juga bilang, Pinyaram yang saat buat ada rasa khas,” hematnya.

Katanya, seluruh Pinyaram di toko-toko Kelok Pinyaram itu hanya ada empat varian. Yakni original (putih kecokelatan), pandan, ubi ungu dan beras hitam.

“Namun bahan dasarnya tetap tepung beras yang diolah dengan air gula pasir. Makanya, rasa setiap variannya tidak terlalu berbeda,” beber istri Riki Firmansyah, 30, tersebut.

Menurut Fitri, Pinyaram adalah makan riang. Untuk itu, para pedagang Pinyaram membuka tokonya dari pagi hingga larut malam. Sebab, pembeli bisa singgah pada jam berapa saja.

“Ini hanya makanan camilan. Jadi tidak ada waktu asyik untuk makan Pinyaram. Mau pagi, siang atau malam, Pinyaram nikmat disantap,” hematnya.

Menyangkut harga, katanya seluruh pedagang Pinyaram di sana membanderol Rp 10 ribu per kota. Setiap kotanya berisikan 18 buah Pinyaram.

“Apapun varian Pinyaramnya, harganya tetap sama. Makanya, kalaupun dicampur berbagai varian dalam satu kotak, tidak mempengaruhi harganya,” ungkapnya.

Dampak Pandemi Covid-19

Pandemi Covid-19 ternyata juga sangat berdampak buruk bagi pedagang Pinyaram di Kayutanam. Fitri bahkan mengklaim penurunan pembeli mencapai 90 persen. Hal itu terjadi saat penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

“Seperti yang saya jelaskan sebelumnya, pembeli kami itu kan banyak kalangan wisatawan atau orang singgah. Waktu PSBB, aktivitas lalu lintas juga sangat minim. Makanya jarang ada yang singgah beli Pinyaram,” ungkapnya.

“Tapi, alhamdulillah sekarang penjualan sudah mulai normal lagi. Biasanya kan saya bisa jual rata-rata 50 kotak Pinyaram sehari,” pungkasnya.

Sedangkan Kepala Dinas Perdagang, Tenaga Kerja, Koperasi dan UKM Padangpariaman, Dewi Roslaini juga membenarkan bahwa pedagang Pinyaram di Padangpariaman turut terdampak dengan pandemi. “Memang sejak corona ini ada beberapa pedagang Pinyaram yang kita temukan tidak produksi,” ujar Dewi.

Terpisah, Bupati Padangpariaman Ali Mukhni menyarankan kepada OPD terkait mendorong UKM masuk pasar online. Menurutnya, langkah tersebut bisa membantu menggeliatkan UKM, karena pangsa pasarnya tidak terbatas pada aktivitas manusia saja.

“Kalau kita berdagang di toko biasanya kita kan menunggu pelanggan. Namun jika didukung dengan berjualan online, pelanggan kita bisa lebih luas,” hemat Ali Mukhni.

Kuncinya, imbuh Ali Mukhni produk yang dijual harus dikemas dengan baik. Terlebih produk berupa makanan. Ia mencontohkan cokelat Padangpariaman yang tetap lancar produksi dan penjualannya, lantaran dikemas dengan baik sehingga menarik di pasarkan secara online.

“Saya sudah intruksikan sejak jauh hari agar UKM kita punya produk berkemasan. Ini sudah dilaksanakan dan banyak yang berhasil. Kita akan upayakan Pinyaram Padangpariaman bisa kita buat begini,” pungkasnya. (da.)

BACA JUGA:  Industri Sagu bakal Dikembangkan di Kepulauan Mentawai
  • Bagikan