Minggu, 25 Februari 2024

Datiak.com

Berita Sumbar Terbaru Hari Ini dan Info Terkini

Ketika Sekda Pesisir Selatan Berterima Kasih Viralnya Pantai Carocok

Irwandi penulis opini berjudul "Ketika Sekda Pesisir Selatan Berterima Kasih Viralnya Pantai Carocok". Warga IV Jurai Pesisir Selatan ini, adalah alumnus Fakultas Ilmu Budaya Adab IAIN Imam Bonjol Padang. (Foto: FB Irwandi)
351 pembaca

Masjid Terapung di Pantai Carocok ramai diperbincangankan belakangan ini. Terlebih oleh warga di media sosial (netizen). Perkaranya terkait pemungutan retribusi. Namun, Pemkab Pesisir Selatan, khususnya Sekda Pesisir Selatan, malah berterima kasih atas peristiwa itu. Sebab, dianggap sebagai promosi gratis objek wisata unggulan daerah tersebut.

ADANYA uang masuk ketempat-tempat wisata memang sudah lumrah, baik secara resmi maupun tidak. Jika hal tersebut resmi bisa menjadi masukan ke daerah, jika tidak bisa jadi masukan ke oknum-oknum tertentu. Pembayarannya pun berpandai-pandai, jika resmi harus dibayar sesuai yang tertera di karcis, namun bila ilegal tergantung nego saja, atau suara siapa yang paling keras. Jika yang meminta bersuara keras, pengunjung meski bayar, tapi bila pengunjung yang lebih siap mentalnya tentu uangnya bisa dikurangi, atau mungkin gratis saja.

DI kawasan Pantai Carocok yang di dalamnya ada Masjid Terapung pun demikian. Jika mau masuk dipungut retribusi. Pakai karcis, dan ada yang mengaturnya. Tentu resmi. Namun yang kelihatan ganjil, disaat lebaran datang ada tenda yang dibuat di depan gerbang Masjid Terapung tadi.

Di tenda tersebutlah dipungut retribusi yang dipermasalahkan. Pihak pemungut mengatakan bahwa yang membayar cuma masuk daerah wisata, bukan sholat ke masjidnya. Pihak penanya mempertanyakan kenapa tadi beliau membayar, padahal mau sholat. Sebab, disitulah jalan satu-satunya mau ke Masjid Terapung. Begitulah kira-kira perdebatannya.

Kini semua tinggal cerita, untuk pembelajaran di masa-masa selanjutnya. Boleh-boleh saja bagi petugas retribusi sampai ke atasnya berkilah bahwa itu merupakan karcis masuk ke tempat wisata. Bukan pungutan bagi orang-orang yang ingin berdoa ke rabbnya.

Tapi yang harus disadari, “lah basuluah matohari lah bagalanggang mato rang banyak”, adakah tenda tempat memungut itu sebelum hari lebaran bermukim di titik tersebut? Atau siap masalah itu diperbincangkan banyak orang, masih adakah difungsikan tenda itu lagi. Begitu sulitkah meminta maaf karena ada yang salah.

Kalau memang benar itu peraturan, harus dijalankan meskipun penuh pro dan kontra sebelum aturan baru diterbitkan. Kenapa harus saat lebaran pemungutan dilaksanakan dan ditempatkan di jalan mau masuk ke Masjid Terapung di Pantai Carocok. Tentu seolah-olah kelihatannya mau memungut biaya orang yang ingin beribadah juga.

Seharusnya, Sekda Pesisir Selatan berterima kasih pada perantau yang pulang kampung dan pergi liburan ke Pesisir Selatan, karena mampu menggerakan perekonomian. Bukan berterima kasih pada viralnya Masjid Terapung di kawasan wisata Pantai Carocok itu. Hal itu sesuatu yang sumbang kedengarannya. Membuat mashurnya ekonomi dan budaya termasuk tanggung jawab pemerintah, kenapa sampai kalah oleh masyarakat.

Yang terjadi ya sudahlah dak usah melempar lempar siapa yang salah dan siapa bertanggung jawab. Bagus Pasisir Seletan tentu bagus juga kita, kurang elok Pesisir ini telingapun mandangiang dibuatnya.  Bila memang  kontribusi tersebut sudah ada peraturannya, baiyo-iyolah (bermusyawarah) kembali agar di masa depan tidak terulang hal yang sama.

Tidak usah juga mematok dengan angka Rp 5 ribu, kalau hanya fokus untuk hari raya. Lebih baik kecil, semisal Rp 2 ribu, tapi sepanjang tahun dengan pengelolaan yang bagus. Ini tentu akan menggenjot PAD. Puluhan miliar yang sudah digelontorkan untuk membangun masjid, yang salah satu tujuannya sebagai “pamanih” untuk orang jauh agar datang. Tapi sekali lagi jangan diminta uang didepan gerbang yang bisa ditafsirkan bermacam-macam, terlalu kasa garah kelihatannya.

Pengawasan ditempat-tempat wisata juga perlu ditingkatkan, jangan sampai tempat-tempat ibadah hanya untuk berkodak-kodak saja. Bagaimana caranya dipastikan tuan-tuan yang bijaksana tentu arif dengan hal tersebut. Begitu juga halnya gerak-gerik yang menjurus kearah premanisme perlu diperhatikan, kalau masih ada.

Wajib uang yang diberikan pengunjung dipergunakan untuk kebaikan daerah, sebab seperti garah-garah dilapau, bapasan kato mungkin balabiah, bapasan pitih mungkin bakurang. Sudah-saatnya kita saling bahu-membahu untuk kemaslahatan negri, mudah-mudahan dengan seiya sekata akan menjadi sebab terbukanya pintu rahmat dari Allah. (*)


Artikel opini ini ditulis oleh Irwandi (alumnus Fakultas Ilmu Budaya Adab IAIN Imam Bonjol Padang/warga IV Jurai Pesisir Selatan)


Avatar photo