Saksi Dugaan Korupsi Lapangan Merdeka Kota Solok Diminta Jujur

  • Bagikan
Para saksi dugaan korupsi proyek tribun lapangan merdeka Kota Solok saat memberikan kesaksiannya dalam persidangan. (Foto: Istimewa)

Padang | Datiak.com – Sidang lanjutan dugaan tindak pidana korupsi proyek tribun lapangan merdeka Kota Solok, digelar di Pengadilan Negeri Padang, Senin (3/8). Terdapat tiga terdakwa dalam perkara itu. Yakni Syofia Handayani selaku Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) serta Pejabat Pembuat Komitmen (PPK), Jaralis selaku Pengguna Anggaran (PA), dan Sahidin yang menjadi kontraktor proyek tersebut.

Dalam sidang, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri (Kejari) Solok, Teddy cs, menghadirkan lima orang saksi. Yakni Wakil Wali Kota Solok Reiner, Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK) Fuswati Erpita, Kabag PAP Jufri Swardi, serta Kelompok Kerja (Pokja) dan tim teknis Ronal, serta Ketua DPRD Kota Solok, Yutris Can.

Hanya saja, dalam sidang itu Yutris Can tidak hadir, dengan alasan ada kesibukan lain.
Dihadirkannya para saksi tersebut, bertujuan untuk memeriksa kembali atau mengkonfrontir keterangan saksi dan terdakwa.

Dalam sidang, Reiner mengaku tidak hadir sejak rapat persiapan pelaksanaan pekerjaan atau PCM (pre construction meeting). Namun, ia mengaku sering meninjau proyek lapangan merdeka itu. “Permasalahan yang saya tahu, ada uang yang diambil,” kata Reinier.

Menanggapi keterangan Reinier, majelis hakim yang dimpimpin Yose Ana Roslinda, meminta kejujuran saksi, karena seluruh saksi sudah diperiksa. Ia juga mengingatkan bahwa hakim tidak pernah menekan saksi, sehingga saksi tak pantas membuat laporan hakim kepada atasannya.

“Tidak ada untungnya bagi kami (menekan saksi, red). Bila saudara saksi memberikan keterangan palsu, maka dipidana hukuman tujuh tahun, dan itu ada pasal yang mengatur,” tegas Yose Ana yang damping hakim Zaleka dan M. Takdir. Mendengar hal itu, Reiner tampak terdiam.

Saksi Lainnya

Usai Reinier, Fuswati Erpita diminta memberikan kesaksiannya. PPTK ini mengaku telah menerima uang. “Ya benar saya terima uang. Tapi itu saya anggap membayar hutang,” ungkap Fuswati. Ia juga menjelaskan bahwa proyek lapangan merdeka itu mengalami perubahan angka menjadi 93 persen.

“Perubahan angka itu terjadi saat pertemuan Ricky selaku manejer dengan Adek. Saya menyaksikan pertemuan itu, karena saya ada di sana waktu rapat,” ujar saksi.

Sedangkan Ronal mengaku proyek pengerjaan lapangan merdeka dilakukan dengan Pemantauan Lingkungan Hidup (UPL). “Sistem UPL, itu hanya berlaku satu kali,” imbuhnya.

Usai mendengarkan keterangan saksi, majelis hakim memutuskan sidang ditunda hingga 14 Agustus 2020. Selanjutnya bakal dilaksanakan sidang dengan agenda tuntutan.

Seperti berita sebelumnya, dugaan korupsi proyek tribun lapangan merdeka Kota Solok, telah merugikan keuangan Negara sekitar Rp 1 miliar. Hal itu diduga karena terjadi penggelembungan (mark up) volume pekerjaan. Pasalnya, bobot pekerjaan yang diajukan sebesar 93,00 persen, dari hasil pemeriksaan lapangan oleh konsultan pengawas, progress pengerjaannya hanya 84,304 persen. (da.)

  • Bagikan