Raihan Syaqib Terpaksa Menanti, Pilu Menyimak Cerita Ortunya

  • Bagikan
Raihan Syaqib balita di batung taba lubuk begalung
Kondisi Raihan Syaqib, anak pasangan Safitri dan Ridho Junaidi yang tinggal di kawasan Pekuburan Batungtaba, Kecamatan Lubukbegalung, Kota Padang, tampak sangat menyayat hati. (Foto: IST)

Padang | Datiak.com – Raihan Syaqib, sekarang hanya bisa terbaring. Tubuhnya tinggal kulit berbalut tulang. Balita yang kini berusia 2 tahun ini, harus bersabar menanti kartu jaminan kesehatannya (BPJS Kesehatan) keluarganya aktif, agar bisa mendapatkan layanan kesehatan di rumah sakit.

Raihan Syaqib anak bungsug pasangan Safitri dan Ridho Junaidi. Mereka tinggal di kawasan pekuburan. Yakni di Pekuburan Batungtaba, Kecamatan Lubukbegalung, Kota Padang. Sekarang, “keluarga kecil” ini menjalani kehidupan yang begitu berat.

Berawal di tahun 2021. Kala itu, Raihan Syaqib masih berusia 1 tahun. Ia mengalami demam. Namun, Safitri dan Ridho menganggap, anak ketiganya itu hanya demam bayi pada umumnya.

“Karena demam putra kami ini tidak kunjung turun, kami pun pergi membawanya ke bidan. Ternyata bidan meminta agar anak kami ini dirujuk ke rumah sakit,” ungkap Safitri dan Ridho.

Ridho yang hanya seorang buruh angkut, berpengasihan paling besar Rp 50 ribu sehari. Itupun, kalau tempatnya mencari nafkah di Pelabuhan Teluk Bayur ada truk yang masuk.

“Kalau tidak ada truk masuk yang bisa dibongkar di pelabuhan, tentu tidak ada pekerjanya. Hasilnya, tentu tidak ada penghasilan,” ungkap Ridho.

Kendati kondisi begitu, Safitri dan Ridho tetap berjuang demi kesembuhan anaknya. “BPJS (jaminan kesehatan, Red) keluarga kami sudah tidak aktif. Sehingga, kami ambil saja jalur umum untuk pengobatan anak kami ini,” ungkap Safitri.

Namun, baru beberapa hari di rumah sakit, Safitri dan Ridho sudah kewalahan. Pasalnya, biaya pengobatan  Raihan Syaqib sudah mencapai sekitar Rp 7 juta.

Biaya pengobatan yang besar tersebut, membuat Safitri dan Ridho memilih membawa pulang Reihan terlebih dahulu. Lalu, memutuskan untuk mengaktifkan jaminan kesehatannya.

“Total tagihan beserta denda yang harus kami bayar untuk mengaktifkan BPJS Kesehatan keluarga kami sekitar Rp 10 juta,” ungkap Safitri.

Tekad yang kuat untuk kesembuhan buah hati, membuat Safitri dan Ridho memutuskan menjual barang-barang di dalam rumahnya. Di antaranya sepeda motor, kursi, kulkas hingga televisi.

“Apa yang bisa kami jual, kami putuskan untuk dijual. Pokoknya BPJS keluarga kami harus aktif. Sehingga, anak kami bisa berobat hingga sembuh,” kata Safitri dengan nada bergetar.

Ternyata, kesabaran Safitri dan Ridho tidak hanya diuji sampai di sana. Meskipun tunggakan jaminan kesehatannya sudah dilunasi beserta dendanya, tenyata baru bisa aktif pada Mei 2022.

“Ya, sekarang kami hanya bisa menunggu 2 bulan lagi agar anak kami bisa mendapatkan layanan kesehatan,” tukas Safitri yang dapat dihubungi ke nomor handphone: 085264532611. (da.)


Baca berita Padang hari ini di Datiak.com.

  • Bagikan