Iklan Suhatri Bur Kiri
Iklan Rahmang Kanan

Pulang dari Rantau, Yogi Langsung Tinggal di Tengah Sawah

  • Bagikan
Kondisi rumah tempat Yogi Arman menjalani isolasi mandiri di Nagari Bahagia, Kecamatan Padang Gelugur, sepulangnya dari Bogor. (Foto: Istimewa)

Pasaman – Yogi Arman memiliki kesadaran yang tinggi terhadap bahaya covid-19 atau viruscorona. Sehingga, ia sangat antisipasi terhadap keselamatan keluarganya. Sepulang dari Kota Bogor, Jawa Barat, Senin (13/4), Yogi langsung memilih mengisolasi dirinya.

“Saya memilih pulang kampong karena belakangan usaha saya di Bogor merosot pendapatannya. Mungkin memang karena pandemi ini,” ujar Yogi via telepon pribadinya, Sabtu (18/4).

Tak tanggung-tanggung, pria 24 tahun itu mengisolasi diri di salah satu pondok yang terletak di tengah sawah, di Nagari Bahagia, Kecamatan Padang Gelugur, Kabupaten Pasaman.

Keputusan itu diambil Yogi, karena dirinya menyadari bahwa kota yang dipimpin oleh Bima Arya dan Dedie Achmad Rachim tersebut, salah satu zona merah virus corona di Indonesia.

Hingga Sabtu (18/4) ini, di Bogor tercatat sebanyak 66 orang positif covid-19. 11 orang di antaranya meninggal, 5 orang sembuh, dan 48 orang masih dalam perawatan di rumah sakit.

”Ini saya lakukan untuk memastikan apakah saya terpapar atau tidak selama di Bogor atau saat perjalanan pulang. Makanya, saya langsung melakukan isolasi mandiri,” kata alumni Manajemen Industri Institut Pertanian Bogor itu.

Jika hal itu tidak dilakukan, imbuh Yogi, dirinya merasa keluarga ataupun lingkungannya bisa terancam bahaya covid-19. ”Saya memasuki lingkungan apalagi sampai ke dalam rumah, sudah pasti saya kontak dengan keluarga,” hematnya.

Untuk itu, menurutnya yang harus dilakukan saat ini menjaga jarak terlebih dahulu. Soal makannya di tengah sawah itu, diantarkan keluarganya setiap hari. Mereka datang dengang menggunakan masker, lalu meletakkan makanan Yogi di depan pondok tersebut.

”Saya makan menggunakan piring dan gelas plastik. Jadi hanya untuk sekali pakai. Ini kan memang intruksi protokol kesehatan,” ujar pria berlatar belakang pendidikan.
Yogi juga menyampaikan bahwa dirinya sangat berharap tidak terpapar covid-19. Sebab, ia merasa sudah menjalani segala arahan pemerintah, serta super teliti dalam setiap geraknya sejak dari Bogor hingga sampai di Pasaman.

”Saya sebenarnya sangat rindu dengan keluarga, karena sudah setahun tidak pulang. Namun demi keselamatan bersama, saya harus lakukan ini. Bahkan, saya tidak salaman dengan keluarga,” pungkasnya.

Yogi juga mengemukakan pandangannya soal larangan perantau untuk pulang. Menurutnya hal itu akan sulit terlaksana. Begitupun imbauan pemerintah agar perantau mengisolasi diri ketika sampai di kampong halaman.

”Namanya imbauan terkadang tidak didengarkan. Bagusnya disediakan fasilitas isolasi, lalu wajibkan setiap perantau dari daerah terjangkit isolasi diri di sana,” pungkasnya. (da.)

BACA JUGA:  Kantor Nagari Harus Pajang Nama Penerima Bantuan Covid-19

  • Bagikan