Proyek ECHO Green Lirik Perempuan dan Petani Muda

  • Bagikan
Para peserta peluncuran proyek ECHO Green secara daring, Jumat (16/10). (Foto: Istimewa)

Padangpariaman | Datiak.com – Yayasan Penabulu bersama Konsorsium pendukung Sistem Hutan Kerakyatan (KpSHK), Konsil LSM Indonesia dan ICCO Cooperation, meluncurkan proyek “Promoting Green Economic Initiatives by Women and Youth Farmers in the Sustainable Agriculture Sector in Indonesia (ECHO Green)”. Proyek ECHO Green ditujukan untuk memperkenalkan praktik pertanian berkelanjutan, serta memastikan keterlibatan perempuan dan petani muda dalam perencanaan tata ruang dan penggunaan lahan.

Pelaksanaan didukung anggaran dari Uni Eropa senilai €950.000 atau setara Rp 16,6 miliar. Proyek ini akan memberikan dukungan teknis kepada 120 CSO, 100 petani perempuan, 100 petani muda, dan 100 desa di delapan kecamatan di tiga kabupaten di Indonesia. Yakni Padangpariaman (Sumbar), Grobogan (Jateng) dan Lombok Timur (NTB).

Direktur Yayasan Penabulu Eko Komara menyatakan, ECHO Green dapat digunakan sebagai media pembelajaran untuk mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB) di daerah. Perempuan dan kaum muda memiliki peran penting dalam bidang pemberdayaan SDM.

BACA JUGA:  Tarok City Diincar Perantau untuk Berinvestasi

“ECHO Green memiliki ambisi untuk meningkatkan ekonomi hijau, khususnya di bidang pertanian sebagai sektor andalan menciptakan lapangan kerja yang berkelanjutan, mewujudkan kedaulatan dan keberlanjutan pangan, serta memperkenalkan pendekatan yang lebih inklusif bagi semua pihak,” kata Eko saat peluncuran ECHO Green secara daring, Jumat (16/10).

Sedangkan National Program Manager ECHO Green, Dida Suwarida, mengatakan bahwa proyek tersebut akan memanfaatkan teknologi digital, untuk memperkenalkan konsep ekonomi hijau kepada masyarakat penerima manfaat di Padangpariaman, Lombok Timur, dan Grobogan.

“Pandemi Covid-19 memberikan keyakinan kepada kita, bahwa perempuan dan kaum muda harus mengambil peran mengamankan masa depan kita. Tanpa optimalisasi teknologi digital, pandemi akan menyebabkan kurangnya minat terhadap pertanian berkelanjutan serta terhambatnya distribusi dan rantai produksi, pemasaran dan konsumsi,” hemat Dida.

Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020‐2024, lanjutnya, pemerintah mencatat isu peningkatan kebutuhan pangan seiring dengan pertambahan jumlah penduduk sebesar 1,2 persen. Namun, produktivitas yang relatif rendah dan fluktuasi harga menyebabkan daya tawar petani rendah. Jadi, proyek ECHO Green sejalan dengan agenda prioritas pembangunan nasional untuk tahun 2020‐2024.

BACA JUGA:  Kapal Antarpulau Mentawai, Antara Swasta atau Perusda
Respons Daerah Project

Sedangkan Sekdakab Lombok Timur, Juaini Taofik, mengatakan bahwa strategi dan konsep ECHO Green sejalan dengan apa yang sedang dicanangkan Pemkab Lombok Timur. Yakni bagaimana memanfaatkan potensi lokal seperti perikanan, pertanian dan pariwisata sehingga menggairahkan perekonomian yang inklusif dan berkelanjutan.

Sementara itu, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Grobogan, Anang Armunanto, menjelaskan bahwa ECHO Green sangat penting bagi Grobogan, karena akan mendorong dan memberdayakan perempuan dan pemuda untuk bekerja di sektor pertanian yang menjadi andalan Grobogan. “Proyek ini diharapkan akan menumbuhkan minat dan ketrampilan teknis mereka untuk menggeluti dunia pertanian,” harap Anang.

Hal senada diungkapkan Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Padangpariaman, Yurisman. Untuk itu, ia berharap pembelajaran berharga dari proyek tersebut dapat meningkatkan kesejahteraan petani. “Kesejahteraan petani memang menjadi muara dari seluruh usaha kita. Makanya, kami di Padangpariaman sangat antusias mendukung suksesnya program ini,” kata Yurisman.

BACA JUGA:  UMKM Lokal Sumbar Hanya Butuh Bukti Cinta
Dubes Uni Eropa

Sedangkan Duta Besar Uni Eropa, Vincent Piket mengatakan bahwa Uni Eropa bangga mendukung proyek di tiga daerah tersebut. “Bagi kami, ekonomi hijau yang inklusif adalah bagian dari pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB). Dengan menerapkan prinsip ekonomi hijau dan inklusif di sektor pertanian, akan meningkatkan produktivitas pertanian, menciptakan pendapatan, dan mengurangi ketimpangan dan kemiskinan,” cermatnya.

“Jadi, perempuan dan petani muda bisa memainkan peran penting dalam komunitas pertanian lokal. Melatih mereka menggunakan teknologi pertanian modern akan meningkatkan ketahanan pangan dan nutrisi. Hal ini akan membantu membangun pertanian jangka panjang dan berkelanjutan. Dengan demikian, proyek baru ini akan memberikan manfaat langsung bagi warga Padangpariaman, Grobogan, dan Lombok Timur,” pungkasnya. (da.)

  • Bagikan