Pra-Rekonstruksi Kasus Pembunuhan Seorang Remaja di Bukittinggi

  • Bagikan
Satreskrim Polres Bukittinggi menggelar pra-rekonstruksi kasus pembunuhan seorang remaja di kawasan pendakian Wowo, Kamis (17/12). (Foto: Istimewa)

Bukittinggi | Datiak.com – Penyidik Satreskrim Polres Bukittinggi menggelar pra-rekonstruksi kasus pembunuhan seorang remaja yang jasadnya ditemukan tanpa identitas di kawasan pendakian Wowo, Kamis (17/12). Dalam pra-rekonstruksi ditemukan fakta, jasadnya korban setelah tewas dianiaya dibuang ke parkiran lantai III Terminal Tipe C dekat pendakian Wowo, lalu ditinggal kabur.

Sebanyak 41 adegan diperagakan dalam pra-rekonstruksi pembunuhan seorang remaja tersebut. Pra-rekonstruksi menghadirkan rekan pelaku pembunuhan yang berinisial RS (17 tahun), untuk mengetahui peran dan keterlibatannya dalam membuang jasad korban.

Kasat Reskrim Polres Bukittinggi, AKP Chairul Amri Nasution mengatakan, pra-rekonstruksi dilaksanakan sesuai petunjuk dari jaksa. Itu setelah aparat berwajib berhasil menangkap pelaku berinisial RS yang merupakan rekan dari terduga pelaku pembunuhan, DS.

Penyidik katanya, menemukan fakta bahwa dalam kasus ini ada tiga pelaku yang terlibat. Selain DS sebagai pelaku utama penganiayaan, ada RS dan IP. Dua rekannya ini terlibat membuang jasad korban. Salah satu rekannya yakni RS, berhasil ditangkap polisi pada 6 Desember lalu, sementara IP masih DPO.

BACA JUGA:  Test Pack Dua Garis Samar Buat Calon Ibu Ragu?

Usai RS ditangkap, penyidik mengebut penyelesaian berkas perkaranya dan telah diserahkan ke Kejaksaan Negeri Bukittinggi. Penyerahan berkas RS diakui Chairul, didahulukan dikarenakan RS berstatus masih di bawah umur.

”Nah, atas petunjuk jaksa, kita lakukan pra rekontruksi terhadap RS untuk mengetahui perannya. Dalam pra rekonstruksi tergambarkan bahwa RS berperan membantu IP (DPO) dalam menyembunyikan dan mengangkut jasad korban ke TPR Lantai 3 Pendakian Wowo, Pasar Bawah Kota Bukittinggi,” katanya.

Atas perbuatannya, RS sendiri dijerat dengan pasal 80 Ayat (1), (2), (3) jo 76c UU Nomor 35 Tahun 2004 tentang perubahan atas UU Nomor 23 Tahun 2020 tentang perlindungan anak jo Pasal 181 KUHP dengan ancaman 15 tahun penjara.

BACA JUGA:  Masjid di Padangpariaman Terus Bertambah
Kilas Balik

Seperti diketahui, sesosok mayat pria tanpa identitas ditemukan di kawasan Terminal Pasar Banto, Kota Bukittinggi, Jumat (6/11). Jasad pria malang itu didapati sudah terbujur kaku di parkiran Lantai III Terminal Tipe C dekat Pendakian Wowo, persisnya di depan pos Tempat Pemungutan Retribusi (TPR) Terminal.

Sebulan setelahnya, lewat hasil koordinasi Polres Bukittinggi dengan Polsek Kualah Hulu, Polres Labuhan Batu, Polda Sumatera Utara, identitas jasad berhasil diungkap. Korban diketahui bernama Dwangkara Wirayuda, warga Aek Kanopan, Kabupaten Labuhan Batu, Provinsi Sumatera Utara.

Korban merupakan seorang remaja pengamen jalanan yang masih berusia 13 tahun. Ia diduga tewas karena dianiaya. Dugaan ini diperkuat oleh serangkaian hasil identifikasi Tim Inafis dan hasil autopsi yang mengindikasikan penyebab kematian korban karena adanya kekerasan benda tajam di bagian dada.

BACA JUGA:  Miris, Remaja Pilih Bunuh Diri Setelah Dicabuli Oknum Mantan Pendeta

Dari hasil olah TKP, alat bukti dan keterangan sejumlah saksi terkuak bocah malang ini tewas dianiaya kawanan pemabuk. Pelaku utamanya DS (27 tahun), warga Tarok Dipo, Kota Bukittinggi. Pria ini pun lantas diciduk aparat pada Rabu (2/12). Hasil pengembangan, empat hari kemudian polisi pun meringkus RS. Satu pelaku lain berinisial IP masih dalam pengejaran aparat hingga kini. (da.)

  • Bagikan