Rabu, 28 Februari 2024

Datiak.com

Berita Sumbar Terbaru Hari Ini dan Info Terkini

PMK di Sumbar 1.063 Kasus, Pemotongan Paksa Dimulai

Warga saat menguburkan ternak yang mati diduga karena terinveksi virus PMK. (Foto: Ilustrasi)
235 pembaca

Padang | Datiak.com – Kasus PMK di Sumbar telah sampai pada tahap pemotongan paksa. Hal tersebut dilakukan di Kabupaten Solok terhadap dua ekor sapi. Langkah itu ditempuh karena kondisi sapi-sapi tersebut tak kunjung membaik setelah dilakukan perawatan.

Kepala Bidang Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnak Keswan) Sumbar M. Kamil menjelaskan, kebijakan potong paksa dilakukan hanya jika kondisi kesehatan hewan terpapar PMK (penyakit mulut dan kuku) terus menurun setelah masa pengobatan selama 14-15 hari.

”Seperti yang kita ketahui itu setiap hewan memiliki daya tahan yang berbeda-beda dalam menerima virus PMK. Ada yang bisa sembuh setelah pengobatan dan isolasi selama 14-15 hari. Ada juga yang karena daya tahan fisiknya lemah, sehingga dua hewan tersebut harus di potong agar dagingnya masih bisa dikonsumsi,” ujarnya.

Dia menekankan, perawatan dan juga pengobatan telah diberikan semaksimal mungkin kepada hewan tersebut, namun kondisi tidak kunjung membaik. ”PMK tidak menular kepada manusia. Kepala dan kakinya bisa dibuang. Sementara dagingnya tidak masalah untuk kita konsumsi,” terangnya.

Pemotongan terhadap ternak tersebut, sambungnya, juga melalui pengawasan dan dilakukan sesuai prosedur dari arahan tim di lapangan dan juga dinas terkait yang ada di daerah tersebut. Kemudian, hewan yang telah dipotong paksa bisa dikonsumsi oleh masyarakat, sebab virus PMK akan mati jika berada di dalam suhu 50 derajat celsius. Artinya, masyarakat Sumbar tidak perlu takut untuk mengkonsumsi daging PMK.

”Apalagi kalo kita orang Minang, masak rendang saja berapa lama? Berapa panas suhunya, sudah pasti virusnya akan mati. Dan tidak akan menular pada kita manusia,” katanya.

Hingga saat ini Disnak Keswan Sumbar telah mencatat 51 ekor hewan ternak sembuh dari wabah PMK, setelah menjalani proses pengobatan yang cukup lama. ”Adapun daerah yang hewannya sudah sembuh berasal dari daerah Agam tujuh ekor, Pariaman empat ekor, Sijunjuang 31 ekor, Solok Selatan sembilan ekor,” terang Kamil.

Sementara untuk jumlah kasus yang terdata sampai saat ini adalah sebanyak 188 kasus. Rinciannya 1.063 hewan terpapar PMK, sebanyak 2 ekor mati yang mati pada 28 Mei 2022 di Agam dan Kabupaten Solok.

”Adapun sekarang sebanyak 996 ekor sapi dan 67 ekor kerbau yang sedang terpapar dalam proses pengobatan di tempat isolasi,” jawabnya.

Kamil menuturkan, dengan semakin bertambahnya kasus PMK saat ini ketersediaan obat-obatan pun semakin menipis. Kemudian obat-obatan yang diminta dari pusat pun masih dalam proses.

”Yang dari pusat belum sampai. Memang situasi ke depan akan kritis terhadap penyembuhan ternak yang terpapar PMK yang semakin hari semakin banyak, tetapi tidak didukung oleh penyediaan obat-obatan. Akan tetapi sesegara mungkin persediaan dari pusat sampai ke kita,” jelasnya.

Ia menambahkan tidak adanya ketersediaan anggaran khusus untuk pengendalian PMK di Sumbar, sebab virus PMK tersebut muncul setelah penetapan APBD selesai. Meskipun begitu pihaknya saat ini sedang menunggu adanya perubahan anggaran kedepannya.

Terpisah, akademisi dari Fakultas Perternakan Unand Adrizal menilai, penanganan pemerintah terhadap PMK di Sumbar sejauh ini sudah bagus. Meskipun begitu, masih ada sedikit hal yang perlu di jadikan perhatian.

”Diantaranya, jika masih dibebaskannya masuk sapi atau hewan dari daerah luar Sumbar yang tepapar PMK seperti Sumatera Utara dan Aceh maka penyebaran wabah ini akan terus bertambah,” ucapnya.

Akan tetapi, untuk memenuhi kebutuhan kurban Sumbar tetap harus mendatangkan hewan dari luar Sumbar. Sehingga dalam hal ini pemerintah memang harus memperketat proses dan persyaratan saat hewan hendak masuk ke Sumbar.

”Sehingga harus jelas surat kesehatan hewan tersebut. Harus dilakukan isolasi telebih dahulu. Harus jelas siapa pemiliknya, dan darimana asalnya,” sambungnya.

Terkait hewan yang dipotong paksa, Adrizar menuturkan, kebijakan tersebut sudah tepat untuk dilakukan oleh pemerintah terkait. Daripada hewan harus mati dan peternak rugi. Ini sekaligus juga bisa mengurangi penyebaran PMK yang lebih luas lagi.

”Apalagi sudah dilakukan penanganan yang lama tapi tidak sehat atau sembuh juga. Jadi ini sudah tepat dilakukan,” ucapnya.

Ia menambahkan, ada baiknya pemerintah memberikan kompensasi terhadap peternak yang ternaknya dipotong paksan atau mati karena PMK. ”Karena kasian juga peternak, hewannya sudah terpapar dan di potong juga, ini jelas akan merugikan mereka,” sebutnya.

Selain itu, tambah Adrizar, pemerintah juga harus menggiatkan kembali asuransi ternak. Sehingga ketika terjadi hal serupa seperti sekarang peternak tidak terlalu merugi. ”Kalau perlu pemerintah juga harus menyubsidi peternak yang ekonominya lemah. Asuransinya disubsidi pemerintah sehingga pemerintah juga tidak terlalu banyak menutupi kerugian masyarakat,” terangnya.

Hal yang sama juga disampaikan Ketua Komisi II DPRD Sumbar Mochlasin. Katanya, Disnak Keswan Sumbar dan Unit Reaksi Cepat (URC) telah membuat standar operasional prosedur (SOP) untuk penanganan wabah. Seperti, tentang isolasi, pengobatan dan penyembuhan, pemberian vitamin dan makanan yang sehat kepada hewan ternak yang terpapar PMK.

Kemudian pasar hewan yang ditutup sementara, serta melakukan pengawasan yang tegas dan ketat terhadap hewan yang masuk ke Sumbar. Hanya saja saat ini, pelaksanaan SOP itu harus dipastikan berjalan secara maksimal.

Dan yang paling penting adalah upaya penyembuhan terhadap hewan. ”Mungkin sapi yang agak parah sakitnya, bisa jadi karena kurang dosis atau bagaimana kita juga belum tahu. Dan ini tentu harus kita cek ke lapangan. Bagaimana kejadian pastinya kita belum tahu seperti apa,” tuturnya.

Namun dia memprediksi upaya penyembuhan di lapangan belum berjalan dengan maksimal.  Menurutnya penyakit mulut dan kuku pada ternak, bisa dihambat dengan meningkatkan kesehatan hewan tersebut. ”Karena sebenarnya virus ini tidak ada obatnya, tapi kita bisa mendorong dengan mengatur makanan yang bisa menambah daya tahan fisiknya untuk menghadapi virus PMK tersebut,” ungkapnya.

Menurutnya, selain adanya URC, pihak kabupaten/kota juga harus berupaya membantu menyukseskan penanganan PMK di Sumbar tersebut. ”Terkait pemotongan hewan, memang harus dilakukan SOP terlebih dahulu dan juga lewati masa karantina dan pengobat dulu. Jika memang sudah tidak memungkinkan untuk bisa sembuh maka tidak masalah dipotong,” jawabnya. (da.)


VIRUS PMK DI SUMBAR MENGINFEKSI 1.063 HEWAN TERNAK

[su_table responsive=”yes” fixed=”yes”]

KABUPATEN/KOTASEBARAN
1Agam12 kecamatan
2Limapuluh Kota2 kecamatan
3Padang1 kecamatan
4Padang Pariaman9 kecamatan
5Pariaman4 kecamatan
6Pasaman1 kecamatan
7Pasaman Barat1 kecamatan
8Payakumbuh4 kecamatan
9Sawahlunto1 kecamatan
10Sijunjung4 kecamatan
11Kabupaten Solok4 kecamatan
12Solok Selatan3 kecamatan
13Tanah Datar10 kecamatan
JENIS TERNAKJUMLAH (EKOR)
Kerbau67
Sapi996
PERKEMBANGAN/TINDAKANJUMLAH (EKOR)
Mati2
Potong Paksa2
Sembuh51

[/su_table]