Perbaikan RTLH di Mentawai Disalurkan ke Dua Desa

  • Bagikan
Salah satu rumah yang mendapat bantuan perbaikan RTLH di Mentawai pada tahun 2019 lalu. (Foto: Sabarial/Datiak.com)

Mentawai | Datiak.com – Dua desa di Kabupaten Kepulauan Mentawai mendapat bantuan perbaikan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH). Yakni Desa Sipora Jaya dan Puro tahun ini. Bantuan tersebut dari Dana Alokasi Khusus (DAK) yang dialokasikan pemerintah pusat.

Program perbaikan RTLH di Kepualauan Mentawai digerakkan oleh Dinas Perumahan dan Kawasan Pemukiman (DPKP) Kepulauan Mentawai. Total bantuan rehab RTLH di dua desa itu sebanyak Rp 1.607.700.000.

“Dominan rehab RTLH dialokasikan ke Puro, yakni Rp 1.165.000.000. Sedangkan di Sipora Jaya sebesar Rp 442.700.000. Hal itu karena di Puro memang lebih usulan rehab RTLH,” ungkap Kepala Bidang Perumahan DPKP Kepulauan Mentawai, Irdelius T. Oinan, kemarin.

BACA JUGA:  Mutakhirkan RKPD Padangpariaman, Seluruh Program Kerja Sinkron

Nantinya, lanjut Irdelius, masing-masing RTLH mendapatkan bantuan sebesar 23,3 juta. Ditambah upah tukang sebanyak Rp 2,5 juta per rumah. “Di Puro itu ada 50 unit rumah tidak layak huni. Sedangkan di Sipora Jaya sebanyak 19 unit rumah yang harus direnovasi,” ucapnya.

Kendati demikian, pihaknya belum bisa memastikan seluruh RTLH yang diusulkan bakal mendapat bantuan tersebut. Pasalnya, sebelum bantuan disalurkan, tim dari DPKP Kepulauan Mentawai bakal melakukan verifikasi lapangan terlebih dahulu.

“Verifikasi ini untuk memastikan apakah setiap rumah yang diusulkan benar-benar layak mendapatkan bantuan perbaikan rumah tidak layak huni ini. Ini untuk mencegah adanya rekayasa data yang diusulkan,” ungkapnya.

Perubahan Sistem

Usai verifikasi lapangan, penerima bantuan RTLH yang dinilai layak, baru diserahkan bantuannya. Yakni dengan mengirim mengirimkan dana bantuan ke rekening penerima bantuan yang sudah didaftarkan ke DPKP.

BACA JUGA:  HUT Ke-13 Bawaslu: Evaluasi untuk Lebih Tangguh

“Tahun ini memang berbeda dengan sebelumnya, karena bantuan disalurkan dalam bentuk non tunai. Jadi, seluruhnya menjadi tanggung jawab penerima,” ungkapya.

Namun, tambah Irdelius, dana tersebut baru disalurkan ketika bahan kebutuhan renovasi sudah berada di rumah penerima bantuan. Pengiriman dana bantuannya pun akan dilakukan dalam tiga tahapan.

“Cara ini dilakukan untuk mencegah ‘membandelnya’ penerima bantuan, seperti tidak jujur dalam membangun rumah sehingga tidak memenuhi standar rehab RTLH,” bebernya.

Untuk itu, setiap penerima bantuan RTLH diminta membentuk kelompok. Sehingga, suplayer mudah mengantarkan bahan bangunan ke rumah mereka. “Nanti ka nada pengantar dari kita kepada suplayer untuk mengantarkan bahan bangunan ke rumah penerima bantuan,” pungkasnya. (da.)

  • Bagikan