Pemimpin, Manumbok Nan Cabiak

  • Bagikan
Bupati Padangpariaman, Ali Mukhni mengatakan bahwa salah satu tugas besar pemimpin adalah manumbok nan cabiak. Caranya dengan selalu mengharumkan nama daerah dan ikhlas dalam mengemban amanah dari masyarakat. (Foto: Datiak.com)

Dalam kearifan adat Minangkabau, manumbok nan cabiak (menutupi yang robek) maknanya adalah segera menutupi keadaan yang robek, terbuka, dan dapat membuka aurat, sehingga mengundang malu bersama. Manumbok nan cabiak biasanya memang tugas dan harus segera dilakukan oleh orang yang memiliki kompetensi dan otoritas dalam satu komunitas atau masyarakat, seperti pemimpin.

Di rumah tangga yang bertanggung jawab menutupi robeknya persatuan antaranggota keluarga adalah ayah. Dalam suku ada penghulu. Dalam organisasi fungsionarisnya. Sedangkan dalam negara tentu pemerintah, dalam hal ini pemimpin formal sesuai tingkatannya.

Terma manumbok nan cabiak ini terasa sudah sangat mendesak. Kita pemimpin negeri harus segera dan diharapkan lebih cepat lagi untuk menutupi potensi yang akan menimbulkan robeknya kehidupan masyarakat yang sudah mengangga luas.

Kasat mata, nampak bahwa pendemi Covid-19 telah merobek banyak sistem kehidupan pribadi, keluarga, dan tak terkecuali dalam berbangsa dan bernegara. Jika tidak segera ditutupi pemimpin, maka akan sangat berbahaya bagi persatuan dan kebersamaan bangsa ini.

Covid-19 yang sudah lebih satu bulan, disadari betul bahwa luka dan robek sosial sudah multidimensi. Mencakup bahagian penting yang dirasakan hampir semua lapisan masyarakat. Ada yang lebih dalam lukanya dan segara harus dijahit dan ditutupi. Yakni mereka yang berada dalam situasi ekonomi pas-pasan, pekerja informal, dan masyarakat pekerja harian atau buruh lepas.

Menutupi Luka Psikologis

Robek atau gangguan psikologis (kejiwaan) kecil atau besar hampir dialami semua orang. Yang lebih tinggi tingkat gangguannya, orang atau keluarganya yang terpapar Covid-19. Jadi, pemimpin harus mencari terobosan dan ikhtiar mengembalikan mental psikologis masyarakat yang mendapat musibah itu.

BACA JUGA:  Berantas Covid-19 di Mentawai, Fakta Integritas Dibentuk

Gerakan memberikan dukungan moral dan material kepada tokoh-tokoh agama, ulama, dan panutan masyarakat untuk tetap kuat dan memberikan nasehat, bimbingan dan taushiyah agama, adalah salah satu pilihan menyediakan konsultan publik.

Motivasi dan pertimbangan kami memberikan zakat maal yang dikumpul Baznas Padangpariaman kepada 500 orang ulama dan pemimpin umat, didasarkan tujuan agar mereka tetap kuat dan tegar mengayomi masyakat di tengah pandemi Covid-19. Di samping ulama, mubalig juga cukup kuat kena dampak ekonomi dari musibah dunia ini.

Kami sangat ternyuh dan menitik air mata mendengarkan tauhsiyah betapa beratnya beban ulama dan mubalig saat ini, yang disampaikan Buya Gusrizal Gazahar, Ketua MUI Sumatera Barat melalui telekonferensi ketika menyerahkan zakat kepada ulama, Kamis 23 Maret 2020 di Masjid Agung Padangpariaman.

Kami yakin, kepedulian pemimpin kepada ulama dan mubalig, dapat memberikan rasa nyaman kepada masyarakat. Tugas pemimpin memuliakan ulama, sama artinya dengan mengangkat martabat agama. Insiatif mempedulikan mereka, terasa betul maknanya dalam sentuhan pribadi dengan ulama dan mubalig tersebut.

Insya Allah, kami akan terus berbuat untuk mempercepat penyembuhan luka psikologis masyarakat, karena dampak tak langsung dari stayathome, social distancing, psichal distancing (di rumah saja, jaga jarak dan hindari kerumunan).

Mengatasi Kesulitan Ekonomi

Robek yang sudah kelihatan nyata dihadapan mata saat ini adalah kesulitan ekonomi. Masyarakat yang kehidupannya bergantung dari kerja harian, buruh, petani, pedagang kecil dan wiraswasta menegah ke bawah, jelas kehilangan kesempatan mencari uang. Akibatnya, mereka menjadi tak punya penghasilan membiayai diri dan keluarganya.

Makan, minum dan kebutuhan pokok tidak bisa ditunda. Uang pembeli tidak ada, sungguh dapat dirasakan penderitaannya. Kita pemimpin tentu harus cepat hadir mengatasi kesulitan keuangan masyarakat ini. Siapapun dan di tingkat manapun pemimpin, lebih lagi pemimpin formal, harus cepat tanggap dan bersegera menolong masyarakatnya.

BACA JUGA:  SDM ASN Profesional dan Konsistensi Sistem Merit

Pemerintah memang sudah menetapkan sekian jenis bantuan dan skema keuangan mengurangi beban masyarakat. Namun, perlu langkah-langkah cepat, tepat dan akurat untuk segera sampai di tangan masyarakat yang berhak. Sebagai bahagian dari pemimpin di negeri ini, perlu kita sadari bersama bahwa saat ini situasinya sudah sulit sekali.

Maka, penyelesaian sengkrut data, validasi data, dan birokrasi lainnya harus segara dituntaskan. Pemimpin bersegaralah turun ke lapangan, lihat dan rasakan keadaan masyarakat, lalu segera eksekusi bantuan dan pertolongan yang dapat diberikan. Jangan lalai lagi, ayo segera kita tumbok (tutupi) nan cabiak (robek).

Menguatkan Teologis (Iman)

Pandangan dan diskusi dengan masyarakat dapat pula dirasakan bahwa kegoncangan iman juga terjadi karena efek dihentikannya kegiatan ibadah di Masjid, Surau dan Musala. Maka, pemimpin harus mendampingi masyarakat dengan mengerakkan potensi ulama dan mualigh secara nyata di masyarakat. Peran pemimpin menyampaikan imbauan, pandangan, arahan dan kepastian kebijakan adalah resep mujarab untuk meneguhkan keyakinan masyarakat.

Dalam bidang kesehatan masyarakat, pemimpin dituntut memastikan ketersediaan layanan kesehatan yang prima bagi mereka yang terpapar. Selain itu, menyediakan promosi kesehatan yang cukup agar terhindar dari penularan Covid-19. Kepercayaan publik bahwa Dinas Kesehatan pada daerah mampu dan kuat mengatasi keadaan, adalah vitamin untuk meneguhkan energi teologi (iman) masyarakat.

Penutup kalam dapat kami tegaskan bahwa dalam suasana pandemi Covid-19, waktunya pemimpin menjadi imam yang akan dipanut, menjadi panglima yang segera memberi komando menghadapi musuh yang sudah depan mata, dan menjadi pamong yang mengayomi masyarakatnya.

BACA JUGA:  Rusma Yul Anwar, Baliak Awah atau Jatuah Tapai?
Ikhlas dan Bertanggung Jawab

Tidak elok bila ada pemimpin negeri yang masih mendahulukan motif tertentu, pencitraan dan iming-iming yang dapat menjadi bom waktu merusak tatanan. Menutupi lubang raksasa, kesulitan ekonomi masyarakat tidak bisa ditahan lama, dan tidak bisa pula diselesaikan orang per orang, atau daerah per daerah. Perlu kordinasi yang terarah, terukur, cepat dan tepat sasaran.

Sebagai bahagian dari pemimpin di negeri ini, kami mengajak pimpinan di level mana saja untuk lebih mengedepankan kepentingan masyarakat. Untuk lebih bersungguh-sungguh mengerakkan mesin birokrasi mengatasi kesulitan ekonomi, dengan segala jenis bantuan yang sudah tersiar luas di masyarakat, namun barangnya masih belum juga nampak. Kesadaran kolektif kita pemimpin untuk memberikan yang terbaik, pastikan mendapat ridha Allah dan kelak akan diberinya pahala yang berlipat ganda.

Kepada masyarakat, kami mengajak untuk terus mematuhi protokol kesehatan Covid-19, sesuai Fatwa, Maklumat dan Taushiyah Majelis Ulama Indonesia (MUI), dan imbauan Dewan Masjid Indonesia (DMI), yang sudah bersepakat bahwa wabah ini adalah Thaun, yang dapat menjadi alasan syariat untuk Jumat diganti dengan zohor di rumah, shalat berjamaah, tarawih dan kegiatan keagamaan yang mengundang kerumunan dihentikan.

Kita semua mendoakan semoga jaga jarak, di rumah saja, pakai masker, dan sering cuci tangan, ini dapat segera memutus mata rantai penyebaran virus Covid-19 ini dan kita dapat kembali hidup secara normal seperti sediakala. Amin. (da.)

*Artikel opini ini ditulis oleh Ali Mukhni (Bupati Kabupaten Padangpariaman periode 2010-2015 dan 2016-2021)

  • Bagikan