Pembukaan Lahan Dianggap Penyebab Banjir di Pessel

  • Bagikan
Kadis Kehutanan Sumbar Yozarwardi Usama Putra, bersama sejumlah pejabat Pemkab Pessel dan Balai Besar TNKS melakukan penelusuran sepanjang aliran Sungai Batang Kambang, Kamis (5/11). Mereka menilai pembukaan lahan pertanian yang mengakibatkan kegundulan hutan sebagai pemicu utama luapan sungai. (Foto: Istimewa)

Pesisir Selatan | Datiak.com – Dinas Kehutanan Sumbar menemukan kondisi hutan di hulu aliran Batang Kambang, gundul akibat pembukaan lahan atau areal berladang oleh masyarakat. Makanya setiap kali hujan, terutama hujan yang cukup deras dan lebih dari dua jam aliran sungai langsung meluap dan terjadi banjir.

“Dari penelusuran yang kami lakukan, memang terlihat beberapa lokasi hutan di hulu aliran sungai ini gundul akibat pembukaan areal berladang oleh masyarakat,” kata Kepala Dinas Kehutanan Sumbar, Yozarwardi Usama Putra, bersama sejumlah pejabat Pemkab Pessel dan Balai Besar TNKS melakukan penelusuran sepanjang aliran Sungai Batang Kambang, Kamis (5/11).

Berdasar peninjauan itu, pihaknya bersama tim menyimpulkan perlu dilakukan pemetaan kawasan, serta beberapa solusi. Hal itu akan dilakukan pihaknya bersama Pemkab Pessel, serta Balai Besar TNKS. Di antaranya, permasalahan pembukaan lahan berladang terutama di kawasan hutan, katanya, akan ditempuh dua opsi. Yakni penegakan hukum dan pola kerja sama dengan masyarakat.

BACA JUGA:  Pelayan Publik di Mentawai Divaksinasi

“Jika para peladang membuka diri maka akan diterapkan pola kerja sama sesuai dengan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan tentang Perhutanan Sosial. Namun jika tidak penegakan hukum akan dilakukan,” tegasnya seraya mengatakan pada pola kerja sama akan ada pendampingan yang komprehensif.

Sehingga hutan tetap lestari di tengah aktivitas berladang. Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional III Pesisir Selatan, Laskar Jaya Permana, yang juga ikut kelapangan menyebutkan, khusus di Kecamatan Lengayang selain adanya warga berladang, di dalam taman nasional juga terdapat aktivitas ilegal logging.

“Terkait hal itu kami terus melakukan sosialisasi akan pentingnya menjaga kawasan hutan serta sanksi bagi masyarakat yang melakukan pengrusakan. Selanjutnya kami juga intens melaksanakan patroli rutin,” sebutnya.

BACA JUGA:  Industri Sagu bakal Dikembangkan di Kepulauan Mentawai
Dampak Luapan Sungai

Sementara Asisten II Bidang Ekonomi dan Pembangunan Setdakab, Mimi Riarti Zainul, menyebutkan banjir yang terjadi akibat meluapnya sungai Batang Kambang pada Sabtu (31/10) itu, berdampak terhadap 3.988 kepala keluarga serta menyebabkan 55 unit rumah rusak parah.

“Bahkan ada 4 kepala keluarga yang terancam kehilangan tempat tinggal akibat sebagian rumahnya terseret Batang Kambang. Dengan adanya kegiatan ini, kami berharap ditemukan jalan keluar yang baik. Tidak memberatkan masyarakat namun di satu sisi mampu meminimalkan terjadinya banjir,” harapnya. (da.)

  • Bagikan