Iklan Suhatri Bur Kiri
Iklan Rahmang Kanan

Pelecehan Seksual pada Anak jadi Kasus Tertinggi di Piaman

  • Bagikan
Ilustrasi kasus pelecehan seksual terhadap anak. (Gambar: Istimewa)

Pariaman | Datiak.com – Tindakan pelecehan seksual terhadap anak menjadi kasus paling banyak terjadi di Piaman (Kabupaten Padangpariaman dan Kota Pariaman). Hal itu diungkapkan oleh Kepala Kejaksaan Negeri Pariaman, Azman Tanjung. Untuk itu, pihaknya akan melakukan koordinasi maksimal untuk menekan kasus tersebut.

“Di wilayah Kejari Pariaman ini, yaitu Pariaman dan Padangpariaman, kasus nomor satu tertinggi adalah pelecehan seksual terhadap anak. Nomor dua baru kasus narkoba,” kata Azman Tanjung, Minggu (18/10).

Untuk itu, imbuhnya, Kejari Pariaman terus berupaya menjalin kerja sama dengan Kantor Kementerian Agama di Padangpariaman ataupun Pariaman. Harapannya, dua Kantor Kemenang itu gencar memberikan penyuluhan di tengah masyarakat, sehingga kasus tersebut tidak lagi terjadi.

BACA JUGA:  Inspektur Padangpariaman 2021 Ini kembali Diapresiasi Bupati

“Pelecehan seksual terhadap anak sudah pasti menghancurkan masa depan generasi muda. Pasalnya, dominan korban kasus itu mengalami trauma mendalam,” hemat Azman.

Pernyataan Azman itu dibenarkan oleh aktivis perempuan dan anak, Fatmiyetti Kahar. Data yang dihimpun pihaknya, kasus pelecehan seksual terhadap anak di Padangpariaman, kini tercatat sebanyak 51 kasus. Sedangkan di Pariaman terdapat 6 kasus.

Rata-rata korban pelecehan atau pencabulan di dua daerah ini, korbannya berusia di bawah 15 tahun. Kalau pelakunya dominan berusia di atas 20 tahun,” ungkapnya.

Fatmiyetti menjelaskan, korban perbuatan keji tersebut kebanyakan dialami para anak dari keluarga kurang mampu dengan orangtua yang berpisah. “Tahun ini memang terjadi peningkatan kasus yang cukup drastis. Itu belum termasuk kasus anak berhadapan dengan hukum,” ujarnya.

BACA JUGA:  Polres Mentawai Meraih Penghargaan Terbaik 1 dari Kapolda

Katanya, seluruh korban kasus pelecehan seksual dikirim ke Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan Dan Anak (P2TP2A). Bahkan, pendampingan mereka juga dilakukan oleh Tim Psikolog Polda Sumbar.

“Pendampingan korban sangat penting agar peristiwa yang memilukan tersebut tidak sampai menjadi trauma bagi korban untuk menjalani kehidupan masa depan,” hematnya.

Menurut Fatmiyetti, faktor utama terjadinya pelecehan seksual terhadap anak, karena orang tua yang lemah dalam mengontrol. Terlebih para korban yang orang tuanya telah bercerai.

“Faktor lingkungan yang terkadang membiarkan anak-anak di lingkungannya bermain di luar rumah hingga larut malam juga menjadi faktor penyebab kasus ini,” ungkapnya. (da.)

  • Bagikan