Iklan Suhatri Bur Kiri
Iklan Rahmang Kanan

Pelaku Kekerasan Anak Divonis 2 Bulan dengan Percobaan 5 Bulan

  • Bagikan
Terdakwa LS kasus kekerasan anak saat menjalani sidang putusan di PN Padang Kelas IA, Kamis (9/7). (Foto: Istimewa)

Padang | Datiak.com – Terdakwa perkara dugaan kekerasan anak di bawah umur berinisial LS, divonis dua bulan pidana penjara dengan masa percobaan lima bulan oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Padang Kelas IA, Kamis (9/7).

“Menjatuhkan kepada terdakwa, pidana penjara selama dua bulan. Dengan ketentuan, pidana itu tidak perlu dijalani kecuali terdakwa melakukan kembali perbuatan tersebut sebelum lewat masa percobaan lima bulan,” kata Ketua Majelis Hakim Lifiana Tanjung.

Lifiana menjelaskan hal-hal yang memberatkan perbuatan terdakwa yaitu terbukti melukai korban berinisial ARA. Selain itu, belum ada perdamaian dan permintaan maaf dari terdakwa kepada keluarga korban.

“Keadaan yang meringankan, terdakwa belum pernah dipidana dan baru pertama kali melakukan tindak pidana. Selain itu, terdakwa telah bekerja sebagai abdi negara yang cukup lama dan mengakui perbuatan,” imbuhnya.

Menanggapi vonis majelis hakim, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri (Kejari) Padang, Yuli Silda mengatakan pikir-pikir. Begitu juga dengan Penasihat Hukum (PH) Terdakwa LS, Desmon Ramadhan Cs. Majelis hakim memberi mereka waktu selama satu minggu dan menutup persidangan.

BACA JUGA:  Terduga Pencuri Onderdil Mobnas Terdeteksi, Prosesnya Usai Pilkada

Di luar persidangan PH Korban, Poniman Agusta menyampaikan pihaknya menghormati putusan majelis hakim PN Padang Kelas IA. Namun menurutnya, putusan itu terlalu ringan untuk perkara kekerasan fisik terhadap anak di bawah umur.

“Kami minta kepada penuntut umum untuk melakukan upaya hukum banding. Sebab ini menyangkut kekerasan fisik terhadap anak di bawah umur,” kata Poniman.

Perkara ini adalah perkara dugaan kekerasan fisik yang dilakukan terdakwa LS, yang tidak lain merupakan adik kandung dari nenek korban ARA, pada sekitar 20 April 2018 lalu. Atas tindakan tersebut, terdakwa dilaporkan oleh ayah korban AE ke Polresta Padang.

Berdasarkan hasil visum yang dikeluarkan RS Bhayangkara Polda Sumbar, ditemukan lebam kehijauan pada bahu kiri korban berukuran 3,5×3,5 sentimeter. Lalu lebam pada paha kanan korban berukuran 2×2 sentimeter dengan jarak dari lutut ke atas 14 sentimeter.

BACA JUGA:  Dituntut Lima Bulan Penjara, Wabup Sijunjung Ajukan Pledoi

Terdakwa LS didakwa oleh JPU Kejari Padang dengan dua dakwaan alternatif. Yakni Pasal 44 dan 45 ayat (1) Undang-undang RI Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT).

Surat untuk Presiden

Saat sidang tuntutan, terdakwa dituntut oleh JPU Kejari Padang dengan tuntutan tiga bulan pidana dengan masa percobaan lima bulan. Atas kondisi tersebut, korban ARA mengirim surat terbuka kepada Presiden Joko Widodo.

Surat terbuka itu dibacakannya melalui video berdurasi 2 menit 44 detik. Di dalam video, bocah perempuan tersebut menceritakan bahwa ibunya telah meninggal dunia. Dia pun memohon keadilan hukum dari Presiden Jokowi untuk dia dan adiknya. Sebab kedua anak itu mengaku mengalami penganiayaan berupa kekerasan fisik hingga psikis dari keluarga ibunya.

Tindakan penganiayaan bahkan dialaminya selama tiga tahun. Mulai dari kekerasan fisik seperti pukulan, tinjuan, cubitan, bahkan pernah dihukum berdiri dari pukul 10 malam sampai pukul 3 dini hari, hanya karena persoalan terlambat pulang mengaji.

BACA JUGA:  Amran Minta Jaksa di Sumbar Netral dan Ketat Mengawal

“Kepala saya juga pernah dibenturkan ke dinding hingga saya pingsan dan dia (pelaku, Red) membiarkan saya begitu saja. Adik saya yang mengobati saya,” katanya dalam video tersebut.

Sedangkan, tindakan dugaan penganiayaan juga dialami oleh adiknya sejak masih duduk di bangku taman kanak-kanak (TK). Bahkan, dia juga juga pernah dipaksa dan diancam untuk membuat surat damai dan video agar keluarga ibunya tidak berurusan lagi dengan pihak kepolisian.

“Saya mohon kepada Bapak Presiden dan Ibu Puan Maharani untuk memberikan keadilan dan penanganan hukum untuk pelaku penganiayaan anak di bawah umur, dan rasa keadilan kepada saya dan adik saya. Semoga bapak presiden selalu memperhatikan anak-anak di bawah umur yang dianiaya oleh orang dewasa,” ujarnya. (da.)

  • Bagikan