Miris, Remaja Pilih Bunuh Diri Setelah Dicabuli Oknum Mantan Pendeta

  • Bagikan
KAKTPA Kabupaten Kepulauan Mentawai saat melakukan aksi solidaritas di Tugu Sikerei Kilometer 9, Tuapejat, Kamis (2/7). Mereka meminta kasus KL yang diduga dicabuli oknum mantan pendeta diusut tuntas. (Foto: Istimewa)

Mentawai | Datiak.com – KL mengakhiri hidupnya dengan cara tragis, Minggu (28/6). Remaja 15 tahun yang tinggal di Desa Tuapeijat, Kecamatan Sipora Utara itu, memilih menimun racun setelah diduga dicabuli oknum mantan pendeta berinisial RP (46 tahun). Kejadian itu pun membuat heboh Bumi Sikerei tersebut.

Lembaga yang tergabung dalam Koalisi Anti Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak (KAKTPA) Kabupaten Kepulauan Mentawai, terdorong melakukan aksi solidaritas di Tugu Sikerei Kilometer 9, Tuapejat, Kamis (2/7). Mereka menuntut pelaku kekerasan seksual terhadap KL dihukum seberat mungkin.

“Peristiwa yang menimpa KL adalah peristiwa yang memilukan dan membuat luka banyak pihak. Seharusnya kasus tersebut tidak boleh terulang kembali di Kepulauan Mentawai. Tidak ada kata lain, selain hentikan kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak di Mentawai. Cukup ini menjadi kasus yang terakhir,” kata Koordinator Aksi, Nikanor Saguruk.

Data yang dihimpun Jaringan Peduli Perempuan, katanya dari tahun 2003 hingga 2020 terdapat 39 kasus kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak di Kepulauan Mentawai. Bahkan, ada dugaan kasus kekerasan seksual itu melebihi dari angka tersebut.

“Ada stigma negatif yang disematkan kepada korban, sehingga masih banyak korban yang tidak bersedia melapor,” tegasnya.

Menyikapi proses hukum yang masih berjalan, Nikanor juga meminta aparat penegak hukum untuk mengusut tuntas kasus KL, sesuai aturan berlaku. Kemudian, meminta untuk kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak lainnya dituntaskan secara cepat, profesional dan transparan.

Pihaknya juga meminta Pemerintah Kabupaten Kepulauan Mentawai memberikan penanganan optimal terhadap korban kekerasan. Terutama dalam memberikan hak-hak korban seperti perlindungan rumah aman atau rumah singgah, dan tenaga psikolog yang memadai dan memberikan pendampingan sampai pulih dari trauma.

“Mengingat kondisi geografis daerah Kepulauan Mentawai, dukungan akomodasi dari pemerintah terhadap keluarga korban selama pendampingan juga perlu dilakukan,” hematnya.

Penegakan Hukum

Sedangkan Wakapolres Kepulauan Mentawai, Kompol Maman Rosadi mengatakan, kasus perbuatan cabul di Kepulauan Mentawai cukup tinggi. Terkait kasus KL yang diduga dicabuli oknum mantan pendeta, Polres Mentawai sudah membentuk tim khusus untuk menangani perkara.

“Alhamdulilah, tidak sampai satu bulan, berkas perkara ini sudah dikirim ke kejaksaan. Sebelum tanggal 15 Juli nanti, tersangka akan kita serahkan ke kejaksaan untuk dilaksanakan persidangan. Kita berharap, hakim bisa memutus perkara ini secara maksimal,” ungkapnya.

Terkait dua kasus dugaan pencabulannya lainnya yang juga melibatkan oknum kepada desa dan oknum tokoh agama yang belum dilakukan penahanan oleh pihak Polres, Maman memastikan berkas penyelidikannya segera dilengkapi.

Sebab, lanjutnya, melakukan penahanan tidak hanya atas dasar status tersangka saja. Namun, harus ada bukti, minimal dua alat bukti yang cukup sesuai KUHAP 184.

“Kalau sudah terpenuhi bukti, kami akan amankan tersangka. Pokoknya, pihak kepolisian tidak main-main dalam masalah ini, terutama perkara-perkara yang melibatkan anak-anak,” pungkasnya. (da.)

  • Bagikan