Mencegah Pergaulan Bebas Remaja Sangatlah Mudah

  • Bagikan
Kasubag Protokol Bagian Humas dan Protokol Setdakab Padangpariaman, Baiq Nila Ulfaini. Ia menduga pembuangan bayi di Pessel dilakukan oleh pasangan muda belum menikah yang terjebak seks pada pergaulan bebas. (Foto: Dok Pribadi Nila)

Masyarakat Sumatera Barat digemparkan dengan penemuan seorang bayi di Kabupaten Pesisir Selatan, Jumat (21/8). Bayi perempuan itu berada dalam kardus air mineral yang ditutupi sehelai sarung, diletakkan di pinggir jalan kawasan Painan, Kecamatan IV Jurai. Kejadian tersebut ramai diberitakan media massa, serta viral di media sosial. Penulis langsung menduga kuat bayi tidak bersalah itu hasil pergaulan bebas sepasang remaja.

Kesimpulan itu muncul dibenak penulis, karena memang remaja yang kerap mengambil jalan pintas dan berfikir pendek untuk menyelesaikan masalahnya. Kejadian serupa juga bukan kali pertama terjadi. Dominan, pelaku yang ditangkap polisi adalah pasangan muda yang belum menikah. Kebanyakan alasannya mengambil keputusan melanggar hukum, pasti demi menutupi perbuatannya dari keluarganya.

Remaja, pelajar ataupun wanita muda hamil di luar nikah memang bukan kejadian baru. Bahkan sudah lumrah di masyarakat. Sebab, beberapa pasangan muda ada juga yang berani mengambil sikap untuk menikah dini. Memang, hamil di luar nikah hingga memilih putus sekolah, menurut penulis masih bisa diterima akal sehat, dibandingkan dengan tindakan aborsi remaja dengan alasan malu dan ‘aib’.

Perbandingan penulis itu lantaran keputusan aborsi sangat berisiko buruk. Artinya, pelaku tidak hanya menanggung malu, tetapi juga bisa kesakitan. Selain itu, aborsi juga dilarang keras oleh agama dan aturan hukum di Indonesia ini.

Tindakan aborsi juga tak jarang membuat pelakunya meninggal dunia. Sebab mereka sampai nekat meminum obat-obatan yang dipercayai bisa menggugurkan kandungan. Kejadian itu juga bisa dialami pasien aborsi melalui praktek illegal.

Kejadian seperti ini harus kita sikapi serius. Sebab, kita yakin setiap daerah di Indonesia bisa jadi pernah mengalami peristiwa serupa, mungkin dengan fakta dan data mengejutkan. Untuk itu, sudah saatnya bagi kita mengontrol pergaulan anak atau remaja.

Pergaulan bebas di kalangan remaja pasti berdampak buruk. Di antaranya tindakan penggunaan narkoba, kekerasan hingga seks. Selain terjarat hukum, perbuatan itu sering membuat mereka terjangkit penyakit berbahaya. Salah satunya HIV/AIDS akibat perilaku seks pada pergaulan bebas.

Analisa

Bicara seks pada pergaulan bebas remaja, penulis menilai ada dua faktor penyebab. Yakni kurangnya pengetahuan atau pendidikan beragama, serta pengaruh lingkungan yang buruk. Analisa penulis mulai dari minimnya pengetahuan dan pendidikan agama. Pertanyaannya, berapa kali dalam seminggu dilaksanakan pembelajaran agama di SMP, SMA ataupun perkuliahan?

Jika hanya satu kali seminggu, tentunya sangatlah minim. Bagi pemeluk Islam, penulis yakin pelajar bahkan mahasiswanya yang sangat sedikit mendapatkan pendidikan agama, belum tentu memahami Rukun Iman dan Islam, serta Fiqih Ibadah seperti tata cara wudhu dan sholat, aqidah, akhlak dan adab bergaul dengan orang tua, guru ataupun teman. Terlebih, orang tua yang diharapkan untuk memperdalam pendidikan agama mereka, ternyata juga minim keilmuan agamanya.

Selanjutnya menyangkut lingkungan. Faktor ini sebenarnya masih bisa diatasi apabila remaja memiliki pendidikan agaman yang baik. Sebab, mereka otomatis beriman teguh dan taat beribadah. Jika tidak, pengaruh buruk lingkungan sudah pasti mudah merasukinya.

Pengaruh lingkungan biasanya masuk saat anak atau remaja mencari jati diri. Sebab mereka selalu ingin tahu dan mencoba. Syukur-syukur jika mereka berada dalam lingkungan yang mengarahkannya pada aktivitas positif. Kalau sebaliknya, mereka tentu mudah terjerembap dalam kerusakan pisik ataupun psikis. Misalnya karena narkoba, seks, dan kekerasan. Kondisi itu menurut penulis akan semakin sulit diperbaiki.

Solusi

Rapuhnya berbagai sistem dan sendi kehidupan remaja, pasti bakal berdampak buruk pada perkembangan suatu Negara. Artinya, remaja adalah unsur paling penting Negara. Salah satu pepatah Arab yang penulis baca, menjelaskan bahwa “Sesungguhnya masa depan suatu Bangsa adalah pada pemudanya. Kalau pemuda baik maka Negara akan baik. Sebaliknya, kalau pemuda rusak maka Negara akan hancur”.

Untuk mencegah kehancuran Negara karena kerusakan para pemudanya, ada beberapa hal yang menurut penulis bisa dilakukan. Dimulai dari penguatan ilmu agama tadi. Pembelajaran agama harus dilakukan kapan pun dan di mana pun. Seluruh pihak harus peduli terhadap pendidikan agama remaja sekitarnya. Terlebih orang tua mereka.

Bagi kita umat Islam, menuntut ilmu sudah menjadi kewajiban, khususnya ilmu keagamaan. Bahkan, tuntutan memperdalam ilmu bagi umat Islam, tertuang dalam hadits-hadits sahih. Di antaranya berbunyi bahwa “Menuntut ilmu diwajibkan kepada setiap muslim laki-laki dan perempuan” dan “Berjalan mencari ilmu akan mempermudah jalan menuju surga”.

Bagi orang tua yang anaknya sekolah di tempat minim pendidikan agama, harus selalu meluangkan waktu mengajarkan anak di rumah. Salah satu waktu yang tepat yaitu sehabis Maghrib. Jadi, setelah sholat berjamaah, orang tua harusnya mengajarkan anaknya mengaji atau memberi pemahaman tentang tauhid serta fiqih keagamaan.

Andaikata orang tua tidak mampu, tidak ada salahnya mereka datangkan guru mengaji atau guru les agama untuk mengajar anaknya. Mereka (orang tua minim ilmu agama) juga bisa mengambil waktu untuk memperdalam ilmu agama dari para guru tersebut. Ketahuilah, agama paling utama penuntun kehidupan ini.

Sedangkan di lembaga pendidikan, penulis menyarankan agar pendidikan agama dijadikan prioritas. Sehingga, pelajaran agama tidak melulu harus diajarkan oleh guru bidang studi agama, tetapi seluruh guru bidang studi. Misalnya saat mengajar biologi, guru bisa menjelaskan anatomi tubuh dan mengingatkan anak murid akan besarnya kekuasaan dan ciptaan Allah SWT.

Lalu guru bimbingan konseling bisa harus rutin mengajarkan adab dan budi pekerti, sehingga anak baik dalam menjalani kehidupannya. Setahu penulis, dalam Kurikulum 2013 ini, setiap pembelajaran harus mengandung nilai-nilai keagaman. Jadi, sudah seharusnya karaktek atau akhlak anak terbentuk dengan iman kokoh di sekolahnya.

Mungkin sebagian orang tua kesulitan mengawasi pergaulan anaknya. Hal itu karena kesibukan kerja mencari nafkah keluarga. Namun, hasil usaha itu tidak aka nada artinya, apabila anak tak terperhatikan hingga terjerumus pada kesalahan pergaulan.

Jadi, sesibuk apapun orang tua, memberikan perhatian kepada anaknya adalah kewajiban. Caranya sederhana, yaitu dengan selalu berkomunikasi baik dengan anak. Selalu pantau dan minta anak bercerita tentang pergaulannya. Selalu ajarkan mereka dengan lembut dan terbuka tentang menghindari pergaulan yang tidak baik.

Sebaliknya, orang tua jangan sampai permisif apabila anaknya berhubungan dengan lawan jenisnya. Hapuslah mindset “tidak punya pacar tidak laku atau kuno”. Kita pasti akan sangat merugi jika anak yang susah payah kita besarkan, malah rusak karena sikap kita sendiri.

Untuk itu, penulis yakin orang tua bisa menerapkan saran ini. Orang tua pasti mudah memahami anaknya daripada orang di luar lingkungan rumahnya. Artinya, orang tua tentu bisa memberikan pemahaman yang baik kepada anaknya.

Jika hal ini bisa kita lakukan, insya Allah keluarga kita terhindar dari dosa. Harus diketahui, dosa anak juga akan dipertanggung jawabkan di akhirat kelak. Walahu alam bishowab. Hanya Allah sebaik-baiknya penuntun dan pemberi pengajaran. (*)

*Artikel opini ini ditulis oleh Baiq Nila Ulfaini (Kasubag Protokol Bagian Humas dan Protokol Setdakab Padangpariaman)

  • Bagikan