Mahyeldi Rasakan Langsung Kesulitan Petani Kopi

  • Bagikan
Mahyeldi Ansharullah mencoba langsung menjalani pekerjaan petani kopi di Situjuah Limapuluh Kota. (Foto: Istimewa)

Limapuluh Kota | Datiak.com – Petani kopi Situjuah Limapuluh Kota mendapat tamu spesial, Kamis (5/11). Menyusul kedatangan Wali Kota Padang non-Aktif Mahyeldi Ansharullah. Pria yang akrab dipanggil Buya ini, sejak dulunya dikenal sebagai pencinta kopi, terutama brand lokal.

Bukan hanya sekadar berkunjung dan mendengarkan persoalan-persoalan yang dihadapi petani kopi setempat, Buya juga melihat proses pembuatan kopi. Bahkan, mantan Wakil Ketua DPRD Sumbar ini turut menanam, memetik dan melakukan penyulingan biji kopi bersama petani setempat.

”Bapak ibu semua yang saya cintai, saya Mahyeldi ingin menyapa,” ucap Mahyeldi sewaktu memulai kunjungannya ke sentra kopi Situjuah Limapuluh Kota ini, kemarin. Sapaan ramah Mahyeldi, disambut antusias petani setempat.

Suasana penuh keakraban pun langsung terbangun. Termasuk, sewaktu Mahyeldi melihat proses pembuatan kopi bersama petani setempat. Petani pun tanpa sungkan berbicara akrab dengan Mahyeldi, terkait persoalan-persoalan yang mereka hadapi selama ini.

BACA JUGA:  ASN Padangpariaman Harus Ekstra Menjaga Netralitas

Tanpa kikuk pula, alumni Fakultas Pertanian Unand ini membantu petani mengangkat biji kopi sewaktu melakukan penyulingan. Mahyeldi seakan sangat menikmati kunjungannya kali ini. Dia ingin merasakan langsung bagaimana sebetulnya sasahnya petani dalam memproduksi kopi ini.

Buya yang didampingi petani setempat bernama Chairul Anwar mengatakan, biji kopi khas Situjuah ini bisa berbuah setiap waktu, bukan musiman seperti biji kopi lainnya. Dalam kesemaptan itu, Buya jugamenikmati hasil kopi yang sudah jadi. Menurutnya, nagari ini akan menjadi landmark kopi ke depannya.

Kecintaan Mahyeldi terhadap kopi brand lokal ini, sebetulnya bukan kali ini saja. Beberapa pertemuan baik dengan petani kopi maupun Komunitas Kopi Minang, Mahyeldi menyatakan kepedulian dan keseriusannya dalam mengembangkan kopi brand lokal ini.

BACA JUGA:  Sekolah Tatap Muka Desember, 700 Guru Ikut Swab Massal

Diakuinya, Sumbar miliki potensi besar menjadi salah satu provinsi penyuplai kopi nasional. Seperti kopi gayo di Aceh, kopi kerinci dan lainnya. Pasalnya, Sumbar dikaruniai bentangan alam yang cocok untuk menanam kopi. Cuma saja, sejauh ini brand kopi Minang belum setenar brand kopi daerah lainnya.

Menurut Mahyeldi, bagaimana pun perlu dilakukan peningkatan pendapatan petani salah satunya lewat hilirisasi atau pengolahan hasil. Sehingga, komoditi tersebut punya nilai tambah. “Apa yang dilakukan oleh pegiat kopi di Sumbar, seperti kopi rajo, kopi pak datuak, kopi talamau, kopi jangguik, kopi cap timbangan dan kopi situjuah, serta lainnya, perlu kita support,” akunya.

Jika kopi yang baru dipanen langsung dijual berapalah harganya, pasti petani akan untung sedikit sekali dan kadangkala rugi. Namun, ketika diolah, mulai dari sortasi buah, pengupasan kulit, fermentasi, pencucian, pengeringan, pengukuran kadar air, penyaringan, pendinginan, pembubukan, dan pengemasan, pasti harganya kan mahal dan untungnya cukup besar bagi petani.

BACA JUGA:  Nelayan Sengsara, Ketua DPRD Berang

“Makanya, ke depan perlu didorong hilirisasi bidang pertanian, perternakan, perikanan dan perkebunan. Salah satunya mengalokasikan anggaran 10 persen dalam APBD provinsi untuk pengembangan pertanian, dalam artian luas dimaksud,” ucap Mahyeldi. (da.)

  • Bagikan