Iklan Suhatri Bur Kiri
Iklan Rahmang Kanan

Limbah Medis di Sumbar Meningkat karena Pandemi

  • Bagikan
Kepala DLH Sumbar Siti Aisyah menjelaskan bahwa terjadi peningkatan limbah medis di Sumbar.
Foto: Istimewa

Padang | Datiak.com – Pandemi Covid-19 menimbulkan permasalah limbah di Sumatera Barat. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sumbar mencatat terjadi peningkatan limbah medis di Sumbar. Khususnya, limbah medis infeksius (limbah B3) dan limbah swab. Jumlahnya mencapai 20-30 persen atau sekitar 600-700 kilogram per hari, dibanding saat kondisi normal atau sebelum pandemi Covid-19.

Kepala DLH Sumbar Siti Aisyah mengatakan, dalam kondisi normal sebelum Covid-19, timbulan limbah B3 infeksius di Sumbar yaitu 5,2 ton per hari. “Nah saat kondisi pandemi ini, meningkat sekitar 20-30 persen atau rata-rata lebih kurang 600 sampai 700 kilogram per hari sampah medis infeksius termasuk limbah swab,” katanya kepada awak media, kemarin.

Limbah medis infeksius dan limbah swab tersebut bersumber dari penanganan pasien Covid-19 di Fasilitas Layanan Kesehatan (Fasyankes). Di antaranya rumah sakit, puskesmas, klinik, dan lain-lain, seperti di fasilitas karantina pasien Covid-19 yang dikelola pemda.

BACA JUGA:  Rena Ali Mukhni Ajak Masyarakat Peduli dan Menjaga Lansia

Selain itu, bersumber dari isolasi mandiri pasien Covid-19, laboratoriun pengujian sampel Covid-19, pelaksanaan uji deteksi Covid-19, pelaksanaan vaksinasi Covid-19, dan deteksi Covid-19 melalui Genose C-19.

Siti menjelaskan, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan telah mengeluarkan Surat Edaran (SE) Nomor SE/MENLHK/PSLB3/PLB-3/3/2021 tanggal 12 Maret 2021, tentang Pengelolaan Limbah B3 dan Sampah dari Penanganan Covid-19.

SE ini, sambungnya, merupakan perubahan dari SE Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor SE.2/PSLB3/3/2020 tanggal 24 Maret 2020, tentang Pengelolaan Limbah Infeksius dan Sampah Rumah Tangga dari Penanganan Covid-19.

“Surat edaran ini berlaku sampai dengan pencabutan status bencana nonalam Covid-19 sebagai bencana nasional di Indonesia,” sebut Siti.

Pengelolaan Limbah Medis

Berdasarkan SE tersebut, karena bersifat infeksius, pengelolaah limbah medis di Sumbar harus mengikuti ketentuan pengelolaan limbah B3. Dimana pengelolaannya disesuaikan dengan karakteristik limbah medis tersebut.

BACA JUGA:  Antisipasi Penyebaran Covid-19, ASN Mentawai Wajib Swab

Pengelolaanya mulai dari sumber sampai dengan dimusnahkan juga sudah diatur dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 56 Tahun 2015 tentang Tata Cara dan Persyaratan Teknis Pengelolaan Limbah B3 dari Fasyankes.

“Jadi untuk pengelolaan limbah medis ini harus dikelompokkan berdasarkan rumah tangga, industri, dan sebagainya. Nah, kemudian harus dikemas dengan kemasan yang terbuat dari plastik, berwarna kuning dilengkapi simbol bio hazard, tertutup, tidak bocor, dan kedap udara,” terangnya.

Dia menyebut, pengangkutan limbah medis di Sumbar harus menggunakan alat angkut tertutup atau truk box yang telah memiliki izin dari Kementerian Perhubungan, dan rekomendasi dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, sebelum dimusnahkan.

“Jika daerahnya jauh seperti di Dharmasraya atau Pasaman, kalau dijemput setiap hari kan susah makanya perlu dibuat bepo. Batasan waktunya 2 kali 24 jam. Tapi kalau ada pendingin yang suhunya kurang dari 0 derajat celcius dibolehkan sampai 90 hari,” ujarnya.

BACA JUGA:  Bantuan APD Disalurkan BPBD Sumbar ke Mentawai

“Kalau sebelum keluar surat edaran ini, kita titip di puskesmas. Nah setelah keluar aturan yang baru ini, kita minta pemerintah kabupaten dan kota di Sumbar untuk menjalankannya,” sambung Siti.

Sementara untuk pemusnahan, lanjut Siti, dilakukan oleh pihak yang telah memiliki izin pengelolaan limbah B3 untuk pengelolaan limbah B3 secara thermal. Limbah B3 infeksius Covid-19 dari Fasyankes yang sudah bekerjasama dengan pengangkut dan pemusnah tetap dilanjutkan pengelolaannya seperti biasa melalui pihak ketiga.

“Limbah B3 infeksius dari fasilitas karantina pasien Covid-19, pengujian sampel Covid-19, isolasi mandiri, limbah vaksin, dan limbah Covid-19 lainnya dari pelaksanaan penanganan oleh Pemda diangkut ke PT Semen Padang untuk dimusnahkan dengan insinerator dengan temperatur pembakaran minimal 800 derajat celcius,” pungkas Siti. (da.)

  • Bagikan