Rabu, 21 Februari 2024

Datiak.com

Berita Sumbar Terbaru Hari Ini dan Info Terkini

Larangan Mendaki Gunung di Sumbar Dilanggar 15 Pemuda dan 1 Warga

Tim BKSDA Sumbar sangat memberikan arahan kepada pendaki yang kedapatan melanggar larangan mendaki Gunung Singgalang, pada Minggu (31/12/2023). (Foto: BKSDA Sumbar)
160 pembaca

Padang | Datiak.com – Meskipun telah diberlakukan larangan mendaki gunung di Sumbar oleh Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumbar, ternyata masih saja ada pendaki nekad. Mereka tak peduli dengan imbauan pemerintah.

Pendaki itu diamankan oleh BKSDA Sumbar, Minggu (31/12/2023). Jumlahnya sebanyak 15 orang pemuda. Mereka mengaku berasal dari dari Medan, Provinsi Sumatera Utara. Hal ini disampaikan oleh Plt Kepala BKSDA Sumbar, Lugi Hartanto.

Lugi menjelaskan bahwa pengumuman penutupan kawasan konservasi Gunung Singgalang, Gunung Tandikat, Gunung Sago, dan Gunung Marapi dari tanggal 3 Desember hingga 18 Desember 2023 sudah disosialisasikan.

Ia pun sangat menyayangkan masih ada yang nekad melanggar larangan mendaki gunung di Sumbar. Padahal, pelanggaran itu sangat bahaya untuk keselamatan nyawa mereka.

“Saat melakukan patroli beberapa waktu lalu, kami berhasil mengamankan 15 orang pendaki yang hendak mendaki Gunung Singgalang melalui jalur Pandai Sikek,” kata Lugi, Senin (1/1/2023).

Katanya, 15 orang pendaki dari Medan mengaku hendak merayakan pergantian tahun di puncak Gunung Singgalang itu. “Seorang warga juga kami amankan karena meminta pungutan kepada 15 orang pendaki itu,” ungkapnya.

Setelah di perjalanan, tim patroli yang terdiri dari BKSDA Sumbar dan Polsek X Koto, melakukan pengamanan terhadap para pendaki tersebut. Mereka pun diberikan pembinaan, dan diproses lebih lanjut.

“Kepada para pendaki kami jelaskan bahwa mereka tidak boleh melakukan pendakian hingga waktu yang ditentukan, atau sampai diumumkannya kembali izin mendaki,” katanya.

“Kami juga menjelaskan kepada mereka tata cara pendakian yang baik dan benar serta pengaturan pengelolaan pendakian, sebagai bentuk pembinaan,” sambungnya.

Lugi memastikan bahwa untuk melastikan larangan mendaki gunung di Sumbar tak dilanggar, seluruh pintu masuk jalur pendakian diawasi dengan ketat. Misalnya di Nagari Pariangan, Nagari Aie Angek, Nagari Kotobaru, Nagari Batu Palano, Nagari Sikabu, Nagari Padang Laweh, dan Nagari Singgalang.

“Kami juga bekerja sama dengan pokdarwis di masing-masing pintu masuk. Sehingga, upaya mencegah adanya upaya naik ke atas gunung dapat dilakukan dengan maksimal,” ucapnya.

Ia pun mengingatkan kembali bahwa tragedi Gunung Marapi mesti menjadi pembelajaran hidup bagi seluruh pihak. Khususnya para pecinta alam dan yang hobi melakukan pendakian. Begitupun bagi pengelola wisata pendakian gunung di Sumbar.

“Wisata pendakian sejatinya adalah wisata terbatas atau tidak massal. Penutupan gunung atau kawasan konservasi adalah upaya memberikan ruang kepada alam untuk memulihkan dirinya pasca tekanan manusia,” tukas Lugi. (*)