Kamis, 9 Februari 2023

Datiak.com

Berita Terbaru Hari Ini dan Informasi Terkini

Kue Pilin, Usaha yang Potensial untuk Oleh-oleh Wisatawan

Suasana toko kue pilin yang kembangkan Desri dan Nurmi di kawasan Pinus, Nagari Padangganting, Kecamatan Padangganting. (Foto: Ist)
85 pembaca

Merintis usaha, terutama usaha yang tergolong kecil tidaklah gampang. Butuh tekad yang kuat dan keyakinan untuk tetap menjalankan usaha tersebut. Meski begitu, masih tersimpan harapan dengan keyakinan yang kuat agar usaha dapat terus berkembang. Hal itulah yang dilakukan oleh pemilik Usaha Kue Pilin Bersaudara di kawasan Pinus, Nagari Padang Ganting, Kecamatan Padang Ganting.

SEJAK menjalankan usahanya pada 2011 silam, Usaha Kue Pilin Bersaudara yang dilakoni oleh Desri Winda (35 tahun), serta bibinya Nurmi Rosinta (47 tahun), mengalami pasang surut. Meski begitu, usaha yang digeluti keluarga itu saat ini menjadi salah satu ikon kuliner dari Padang Ganting.

Kedua orang tersebut saat dijumpai ditempat usahanya yang terletak di pinggir jalan Batusangkar- Lintau tepatnya di kawasan Pinus, Jorong Koto Godang Hilia itu, menuturkan jika usaha mereka awalnya dirintis kecil-kecilan.

Kepandaian membuat kue didapat saat itu setelah Nurmi Rosinta bekerja dari salah seorang pengusaha Kue Pilin yang ada di area itu. Namun, setelah itu, diputuskan untuk berusaha sendiri dengan keluarganya.

“Awalnya kami bekerja pada orang. Kemudian, kami membuka usaha sendiri secara kecil-kecilan,” ujar Nurmi.

Awal usaha itu digeluti pada tahun 2011, selama tiga tahun usaha itu digeluti dengan cara memutar modal yang masih tergolong kecil. Bahkan, untuk memasarkan kala itu, dijajakan hingga ke pasar-pasar tradisional serta dititip di warung-warung.

Lama-kelamaan, usaha itu kemudian menjadi usaha yang menopang hidup keluarga. Hingga kini usaha itu masih berjalan dan menjadi oleh-oleh khas dari Padang Ganting. Kue ini banyak diminati oleh orang dari luar daerah maupun dari warga lokal Tanah Datar sendiri.

“Selama tiga tahunan usaha ini dimulai dari kecil-kecilan, dijajakan hingga ke pasar dan warung. Pada awal itu kami tidak memikirkan laba, modal yang kembali dari hasil penjualan kami putarkan lagi untuk modal selanjutnya,” tutur Nurmi.

Karena masih tergolong sedikit, usaha kue tersebut bisa menarik hati pembeli. Tidak jarang orang-orang yang lewat berhenti untuk membeli kue itu dan dijadikan buah tangan dari bepergian.

“Kadang ramai juga yang dari luar daerah, seperti dari Sijunjung dan Dhamasraya. Apalagi kalau lebaran, para perantau yang ingin balik menjadikan kue ini sebagai buah tangan,” ucapnya.

Selama pandemi Covid-19 melanda, imbasnya juga dirasakan oleh pengusaha kue pilin tersebut. Meski begitu produksi tetap diusahakan agar terus berjalan meski pembeli merosot tajam.

Pengusaha itu tidak mengurangi ukuran dan rasa yang ada meski kondisi sempat merosot tajam. Bahkan selama dua tahun selama pandemi hampir bisa dikatakan usaha tidak berjalan lancar.

“Karena perantau tidak ada yang pulang karena waktu itu masa pandemi, usaha kami merosot. Bahkan mobil-mobil yang lewat yang biasanya belanja juga jarang,” kenangnya.

Untuk memproduksi kue pilin itu terang Nurmi, bahan bakunya dibeli, seperti bahan pokok gula, tepung, telur, minyak, kelapa, belum lagi kayu bakar dan minyak tanah.

“Saat barang-barang itu naik kami kewalahan. Meski begitu, kami tidak memgurangi ukuran ataupun menaikan harga, karena kami takut pelanggan kecewa dan langganan yang ada hilang,” ucapnya.

Untuk satu pekan, biasanya kue pilin diproduksi dua kali. Setiap kali produksi berkisar dua karung atau 100-120 bungkus. Dimana setiap bungkus dijual dengan harga Rp 10 ribu.

“Alhamdulillah lebaran kemarin jualan kembali bergairah, banyak perantau yang pulang, dan juga banyak orang yang bepergian belanja,” ujarnya.

Meski begitu, hingga saat ini usaha itu dijalankan secara mandiri tanpa bantuan dari pihak manapun. Bahkan, tidak pernah sekalipun Nurmi maupun keluarga mengikuti pelatihan, apalagi mendapatkan bantuan.

Usaha kue itu dijalani Nurmi bersama saudara dari suaminya. Sejak suaminya meninggal usaha itu hingga saat ini masih berjalan secara keluarga. “Kami berharap usaha ini semakin berkembang dan semakin banyak pembeli,” harap ibu dua anak itu. (da.)


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *