Rabu, 28 Februari 2024

Datiak.com

Berita Sumbar Terbaru Hari Ini dan Info Terkini

Kisah Berkesan dari Ali Mukhni yang Diajarkan Rekan Politik saat Bersedekah

Potret almarhum Haji Ali Mukhni semasa hidupnya yang tampak memancarkan kebaikan. (Foto: FB Fadhil Interista)
273 pembaca

Meski kenal dalam waktu yang singkat, saya sempat menyaksikan banyak kisah berkesan dari Ali Mukhni, Bupati Padang Pariaman 2010-2021 yang wafat 28 Oktober 2023. Salah satunya waktu almarhum Ali Mukhni diajarkan rekan politiknya saat bersedekah.

Kisah berkesan dari Ali Mukhni yang akan saya ulas yaitu tentang bersedekah. Aktivitas yang hampir setiap hari saya lihat dilakukan oleh almarhum semasa hidupnya. Di mana saja dia berada, dan dalam kesempatan apapun itu. Jika hatinya tersentuh untuk berbagi kepada orang yang dilihatnya patut, tak akan ada yang dapat menghalanginya.

Sebenarnya, banyak hal berkesan dari almarhum Ali Mukhni dalam ingatakan saya. Misalnya seperti yang diulas dalam tulisan seorang guru besar dan ulama kita, Prof Duski Samad. Atau yang dibahas para senior dan guru saya dalam profesi junalistik ini, seperti Ahmad Damanuri dan Suardi Chaniago.

Untuk itu, saya memilih mereflesi kembali sepenggal kisah berkesan dari Ali Mukhni pada sudut pandang berbeda. Sudut pandang yang tak pernah saya ulas selama ini. Baik dalam tulisan opini ataupun pemberitaan.

Sekaranglah waktu yang tepat untuk mengulas kisah berkesan dari Ali Mukhni ini. Tentunya, harapan penulis bisa menjadi teladan bagi kita semua. Sebab, kisahnya mengajarkan kita keikhlasan. Dan, bukti kekuatan sedekah sebagaimana diajarkan agama kita orang Minang, yaitu Islam.

Ceritanya berawal dari Kantor Bupati Padang Pariaman di Parik Malintang pada suatu siang. Kala itu, almarhum bapak Haji Ali Mukhni didatangi salah seorang rekan politiknya. Seorang tokoh yang bagi saya juga sudah tidak asing di kancah perpolitikan Sumatera Barat. Namun, tak mungkin saya sebutkan nama dan partai dari si tokoh politik itu.

Saat itu, usai berbincang sejenak, almarhum Ali Mukhni menawarkan rekannya itu untuk makan siang. Seperti kebiasaannya, Ali Mukhni membawa tamunya ke tempat-tempat makan kampung dengan masakan sederhana. Saya yang kebetulan berada dalam momen itu, turut diajaknya pula menemani makan siang nan sederhana itu.

Kala itu, almarhum Ali Mukhni memilih RM DD Pondok Panantian, di kandis dekat rel, Jalan Syekh Burhanuddin, Nagari Parik Malintang, Kecamatan Anam Lingkuang. Dari Kantor Bupati Padang Pariaman, tentunya tak butuh waktu lama untuk sampai ke rumah makan dengan spesifik ikan bakarnya yang terkenal itu.

Namun, dalam perjalanan yang singkat itu, terjadilah sebuah peristiwa yang benar-benar berkesan. Peristiwa yang benar-benar melekat dalam pikiran saya hingga kini. Kejadian yang menggambarkan bagaimana Ali Mukhni sebagai seorang pemimpin, rekan politik yang baik, dan hamba dari pencipta langit dan bumi ini, Allah Swt.

Peristiwa itu dimulai dari perbincangan yang dibuka oleh sang rekan politik. Perkataan yang dimaksudkannya untuk mengedukasi Ali Mukhni dalam menjalankan strategi politik. ”Saya lihat Uda begitu jor-joran mengeluarkan untuk orang-orang,” kata si rekan kepada Ali Mukhni.

Melalui spion di sisi kiri mobil, saya berupaya melihat wajah Ali Mukhni yang duduk tepat di belakang saya saat itu. Sebab, saya penasaran bagaimana ia menanggapi perkataan rekannya itu. Ya, seperti biasa, ia hanya senyum kecil dan mengangguk-angguk dengan tenang.

Ternyata tak sampai di situ, si rekan masih melanjutkan ucapannya. Kata-kata yang menurut saya lebih nekad lagi ia sampaikan kepada almarhum Ali Mukhni. ”Pacayo lah Da. Panek Uda dek nyo. Indak kacukuik pitih bakaruang kalau Uda mode itu taruih,” pesan si rekan itu. Ali Mukhni masih dalam sikap yang sama meresponnya.

Merasa Ali Mukhni menyimaknya dengan baik, si rekan pun bercerita bagaimana caranya memanajemen keuangan dalam membangun basis politik. Dari sekian panjang ceritanya, penulis menyimpulkan teknik yang digunakannya yaitu dengan membentuk kelompok partisan, lalu memberi mereka gaji bulanan.

“Kalau Ambo, yo cukuik 900 urang sajo dipilih Da. Dan 900 urang tu nan kadididik untuk mamenangan kito Da. Jadi, jaleh bara pitih nan kadikaluaan untuk manggaji e,” ucap si rekan begitu bersemangat.

Si rekan makin bersemangat lagi bercerita dalam perjalanan menuju rumah makan itu, ketika Ali Mukhni mulai meresponnya dengan kata-kata. “Ancak tu ma diak. Mudah-mudahan adiak duduak baliak,” ucap Ali Mukhni yang disambut ucapan syukur oleh rekan politiknya itu.

Menjelang sampai di pondok ikan bakar itu, tepatnya di Simpang Parik Malintang, Ali Mukhni meminta sopirnya, bang Men, menghentikan mobil. Ia membuka kaca mobil dan memanggil pekerja ojek yang mangkal di simpang itu.

Salah seorang dari tukang ojek itupun menghampiri Ali Mukhni dengan senyuman. Semereka seakan sudah tahu kenapa dipangggil oleh Ali Mukhni. “Ada apa pak?” tanyanya.

Ali Mukhni pun bertanya; “Alah makan?” mereka hanya merespon dengan senyum malu sembari berkata sudah kepada Ali Mukhni.

Namun Ali Mukhni yang tampaknya kurang yakin dengan jawaban itu, memberikan uang kepada si pekerja jasa transportasi roda dua tersebut. “Ko saketek razaki. Pai makan siang dulu samo kawan-kawan,” ujar Ali Mukhni yang disambut terima kasih oleh pekerja ojek itu.

Setelah itu, Ali Mukhni meminta izin dan meminta sopirnya melanjutkan perjalanan yang hampir sampai. Dalam perjalanan yang sudah sangat dekat dengan rumah makan, Ali Mukhni berkata kepada rekannya itu;

“Razaki tu kuaso Allah diak. Nan jaleh, sadoalah hamba Allah dapek razaki. Jadi, ndak usah pulo kito bapikia panjang dan mamiliah untuak babagi dan basadakah,” kata Ali Mukhni.

Selain itu, Ali Mukhni mengatakan bahwa dirinya tidak sedikit pun mengharapkan balasan apapun ketika berbagi kepada orang lain. Sebab, baginya setiap rezki yang diperolehnya, ada hak orang lain pula di dalamnya.

“Uda baragiah, dek uda punyo urang tuo diak. Hanyo doa dan sadakah anak-anak di dunia ko yang dapek malapangan kubua urang tuo kito,” sambung Ali Mukhni.

Penjelasan Ali Mukhni itupun tak dapat dibantah sedikit pun oleh sang rekan politik. Ia hanya mengangguk, seakan salut dengan kepribadian Ali Mukhni.

Penulis bersaksi bahwa almarhum Ali Mukhni sungguh seorang yang baik. Semoga Allah menerima amalan dan ibadah beliau. Alfatihah…(*)