Iklan Suhatri Bur Kiri
Iklan Rahmang Kanan

Kelok 44 Putus, Bisa Picu Ekonomi Berbiaya Tinggi

  • Bagikan
Kelok 44 putus kini dalam proses perbaikan secara darurat. (Foto: Istimewa)

Agam | Datiak.com – Pascaamblas pekan lalu, tepatnya Minggu (26/7), ruas jalan Kelok 44 putus hingga kini. Kendaraan roda empat belum bisa lewat di sana. Tidak hanya mengganggu akses lalu lintas, terputusnya jalur Maninjau-Matur menuju Bukittinggi itu, memberi dampak terhadap perekonomian warga di Agam dan Bukittinggi.

”Kondisi terkini jalan rusak di Kelok 10 itu masih sama. Masih ditutup bagi kendaraan roda empat. Rencana perbaikan sedang dalam proses kajian,” kata Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Agam, Syafrizal, Senin (3/8). Jalur Kelok 44 putus untuk sementara hanya bisa dilalui kendaraan roda dua.

Namun demikian, katanya pemerintah memastikan perbaikan bakal dilakukan sesegera mungkin. Sesuai kajian tim teknis Dinas PU dan BPBD Provinsi dan Kabupaten, penanganannya dilakukan secara darurat. Pertimbangannya karena yang terban adalah badan jalan ditambah lagi struktur tanah labil. Kalau dilakukan dengan kegiatan, maka memakan waktu berbulan-bulan.

Jadi, penanganan darurat bisa dalam bentuk pemasangan jembatan darurat. Jika memungkinkan dan memenuhi kebutuhan, serta barangnya tersedia, maka dipasang jembatan bailey atau rangka baja. Opsi terakhir paling tidak memasang jembatan darurat memakai batang kelapa.

Dijelaskannya, stok jembatan bailey di provinsi tidak cukup mengakomodir panjang jalan terban yang mencapai 10 meter. Setahunya, jembatan bailey di provinsi hanya sepanjang 3,5 meter. ”Ini masih dalam kajian. Apakah provinsi akan pesan jembatan bailey sesuai kebutuhan panjang jalan rusak atau tidak,” katanya.

Belum dipastikan kapan waktu perbaikan jalan itu dieksekusi. Namun, namanya kondisi darurat, maka pihaknya menggaransi dilakukan sesegera mungkin. ”Kalau darurat itu kan ada batas waktunya, 14 hari tahap pertama. Jika tak selesai maka bisa diperpanjang,” paparnya.

Di sisi lain, ditutupnya akses Kelok 44 diakui Syafrizal tak hanya mengganggu arus lalu lintas tapi juga berpengaruh terhadap perekonomian warga di Agam. ”Sekarang warga kesulitan dan mesti menambah jarak tempuh jalan peralihan yang lebih jauh dari biasanya. Ini sudah pasti menambah besar pengeluaran biaya atau ongkos perjalanan,” jelasnya.

Jembatan Pohon Kelapa

Sementara itu, Kadis PUPR Sumbar Fathol Bari didampingi Kepala UPTD Kawasan Agam Yunita Dwirima dan Plt Kepala UPTD Bahan Jalan dan Jembatan Apriansuri, menjelaskan dalam minggu ini arus lalu lintas Bukittinggi-Lubukbasung bakal pulih kembali.

”Kita akan buat jalan (jembatan, red) dari pohon kelapa supaya kendaraan roda empat dapat lewat dengan tonase tidak lebih dari enam ton,” katanya.

Menurut Fathol Bari jalan dari Bukittinggi-Lubukbasung tidak bisa dilewati kendaraan roda empat sejak Minggu (26/7) pukul 20.15 sehingga arus lalu lintas dialihkan ke Palembayan, setelah badan jalan amblas di Kelok 10 di Jorong Maninjau, Nagari Maninjau, Kecamatan Tanjungraya, Kabupaten Agam. Penyebabnya, curah hujan cukup tinggi, jalan amblas 10 meter, lebar 2,5 meter dan sangat membahayakan untuk dilewati roda empat.

”Sekarang material sudah dikerahkan, termasuk alat berat. Yang penting arus lalu lintas bisa lancar kembali, kalau untuk permanen nanti akan diajukan supaya disetujui oleh DPRD Sumbar. Karena akan dilewati mobil bertonase enam ton, maka pokok kelapanya dicarikan yang sudah tua. Kalau itu nanti selesai, maka untuk lewat dilakukan buka-tutup dan tidak boleh lebih dari enam ton, dikhawatirkan tidak mampu jembatan menahan beban,” katanya.

Mantan Kadis PU Kabupaten Solok tersebut menyebutkan, mobil pengangkut ikan dari Danau Maninjau yang biasanya dibawa ke Bukittinggi terus ke Pekanbaru dan Padang, sekarang terpaksa memutar ke Lubukbasung.

Sementara itu, pengamat ekonomi dari Universitas Negeri Padang (UNP) Prof Hasdi Aimon menilai, secara ekonomi putusnya jalan di Kelok 44 berdampak pada melonjaknya harga jual barang.

”Salah satu unsur harga pokok itu biaya transportasi. Jadi kalau biaya transportasi meningkat karena harus memutar jalan terlalu jauh, maka secara otomatis harga pokok barang jadi naik dan harga jual akan tinggi,” ujarnya.

Guru Besar Bidang Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan ini menyampaikan, pendapatan masyarakat dan masih terdampak akibat virus korona (Covid-19). Dengan putusnya jalan di Kelok 44 dan tingginya harga jual barang, semakin memperburuk kesejahteraan masyarakat.

”Solusinya, pertama mempercepat penyelesaian perbaikan jalan. Selama periode perbaikan itu, pemerintah bisa memberikan insentif terutama kepada produsen pertanian, agar barangnya tidak cepat rusak sebelum sampai di tujuan. Selain itu, pemerintah juga bisa membantu penyediaan transportasi pengiriman barang secara gratis, agar harga jual barang tidak tinggi,” tukas Hasdi. (da.)

BACA JUGA:  Muzni Zakaria Sebut Tak Tahu Soal Pengakuan Saksi
  • Bagikan