Kelangkaan Pertalite di Siberut, Polisi: Masalahnya saat Distribusi

  • Bagikan
Kelangkaan Pertalite di Siberut
Warga di Kecamatan Siberut Selatan saat antrean untuk mendapatkan BBM. (Foto: Ist)

Mentawai | Datiak.com – Kelangkaan pertalite di Siberut Mentawai, mendapat perhatian pihak kepolisian. Kasat Reskrim Polres Mentawai, Iptu Doni Putra, mengatakan bahwa pihaknya akan tetap berkomitmen memantau penyaluran BBM dari kapal di pelabuhan hingga ke SPBU.

Dari hasil pantauan pihaknya, yang terjadi ketika BBM sampai di dermaga, hanya sebagian yang masuk ke SPBU. Sedangkan sebagian lainnya didistribusikan ke pangkalan atau pengecer. Dampaknya tentu saja pasokan BBM di SPBU akhirnya terbatas dan cepat habis.

“Mau tidak mau (karena kelangkaan pertalite di Siberut, Red), masyarakat atau konsumen terpaksa membeli di pangkalan atau pengencer yang harganya relatif di atas harga SPBU. Kita juga sudah ingatkan SPBU untuk tidak menjual BBM ke pangkalan,” ungkapnya.

Pihaknya tidak melarang warga yang membeli BBM ke SPBU menggunakan jeriken. Asalkan untuk kebutuhan yang jelas, seperti nelayan dan untuk usaha pertanian. Hal itu juga sudah ada regulasi yang mengaturnya.

Hanya saja, sambungnya, kalau masyarakat yang membeli BBM di SPBU sudah menggunakan tangki atau dalam kapasitas ton, tentu akan dipertanyakan. Di samping itu, pangkalan atau pengecer BBM di Siberut, rata-rata hanya memiIki izin pangkalan minyak tanah, bukan BBM pertalite atau Pertamax.

“Sebetulnya, kalau mereka mau membuat SPBU bisa dengan mudah, seperti membuat SPBU Pertashop. Namun, mereka enggan mengurus izinnya, dengan alasan tidak mau ribet dan hanya ingin mendapatkan untung besar. Inilah yang kita tertibkan untuk kepentingan masyarakat semata,” katanya.

Sekarang, menurutnya pelaku usaha memanfaatkan situasi ini dengan cara membenturkan aparat dengan masyarakat. Seolah-olah aturan distribusi BBM dari kapal ke SPBU menghalangi-halangi usaha pengecer. Imbasnya, masyarakat sendiri yang mendapatkan harga BBM di atas harga nasional.

Kelangkaan pertalite di Siberut tersebut, terjadi di SPBU Maileppet, Kecamatan Siberut Selatan. Sehingga, SPBU Kompak milik PT Energi Saibi Jaya itu, diserbu warga yang ingin mendapatkan BBM.

Saat ini, SPBU milik PT Energi Saibi Jaya, baru tersedia 3 unit, untuk melayani 5 kecamatan. Yakni SPBU Maileppet, SPBU Saibi Samukop, dan SPBU Muara Sikabaluan. Untuk SPBU Maileppet, melayani wilayah Kecamatan Siberut Barat Daya dan sebagian desa-desa Kecamatan Siberut Tengah.

Rinal, warga yang tinggal di Maileppet mengatakan, antrean warga untuk mendapatkan BBM di SPBU Maileppet sudah berlangsung sejak 2 hari belakangan. Tidak saja dari Maileppet, warga yang antre juga dari desa-desa di luar Siberut Selatan.

“Ada yang rela datang dan antre dari pedalaman Siberut hanya untuk mendapatkan BBM. Kelangkaan pertalite di Siberut terjadi semenjak Lebaran, warga yang datang juga takut tidak kebagian BBM,” ungkapnya.

Menyikapi itu, Direktur PT Energy Saibi Jaya, Andre Satoko mengatakan, antrean warga untuk mendapatkan BBM, sekarang sudah berkurang. Artinya, tidak terjadi lagi kelangkaan pertalite di Siberut saat ini. Warga yang sudah mendapatkan BBM di SPBU sudah dilayani dan kembali ke rumah.

“Puji Tuhan, situasi di SPBU saat ini sudah relatif kondusif. Warga yang semula takut tidak kebagian, akhirnya bisa tenang setelah dilayani dan mendapatkan BBM. Kita juga dibantu oleh aparat penegak hukum untuk menertibkan antrean BBM di SPBU,” ungkapnya.

Menurutnya, kelangkaan pertalite di Siberut tersebut disebabkan karena pasokannya yang berkurang. Di samping itu, kapasitas tangki di SPBU juga terbatas untuk menampung BBM yang masuk ke Siberut. Meski begitu, pihaknya tetap berkomitmen menjamin agar kelangkaan pertalite di Siberut, khususnya di SPBU Maileppet, tidak lagi terjadi.

“Saat ini BBM yang masuk ke SPBU Maileppet berjumlah 103 ton. Dengan rincian, 90 ton pertalite, 8 ton Pertamax dan 5 ton Dexlite. Untuk kapasitas tangki penampungan kita di SPBU, memang masih terbatas,” ungkapnya.

Di samping itu, pihaknya juga sempat terkendala kerusakan mesin pompa untuk melayani puluhan konsumen dan pengendara yang membutuhkan BBM. Hal itu juga salah satu yang memperlambat proses penyaluran BBM kepada konsumen di Pulau Siberut. (da.)


  • Bagikan