Iklan Suhatri Bur Kiri
Iklan Rahmang Kanan

Keamanan Pangan Tergantung Kecerdasan Masyarakat

  • Bagikan
Legafatman ketika berdialog tanya jawab dengan awak media yang menjadi peserta diskusi KIE Keamanan Pangan di Dinkes Padangpariaman, Kamis (5/11).

Padangpariaman | Datiak.com – Masalah ketelitian dalam membeli dan mengelola pangan penting dilakukan masyarakat. Terlebih di zaman sekarang dominan panganan bersentuhan dengan bahan kimia seperti pengawet. Hal itu disampaikan sumber ahli Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) di Padang, Legafatman, saat diskusi Komunikasi Informasi dan Edukasi (KIE) Keamanan Pangan, di Dinas Kesehatan (Dinkes) Padangpariaman, Kamis (5/11).

“Keamanan pangan yang harus dipahami dengan baik di masyarakat, salah satunya dari sisi fisiknya. Makanan yang aman dikonsumsi harus diperhatikan kerapian dalam kemasannya. Makanan di dalamnya ditemukan bahan-bahan rambut, kuku, staples, serangga mati ataupun hidup, ketikil, serta bahan tak wajar lainnya, juga tidak boleh dikonsumsi,” kata Legafatman.

Sedangkan faktor lain harus diperhatikan masyarakat yang kimia dan biologis. Kedua faktor itu bisa dipastikan tidak mengancam kesehatan masyarakat. Apabila masyarakat membeli makanan kemasan dengan selalu memperhatikan produk telah memiliki nomor verifikasi dari BPOM.

“Kalau soal sertifikasi halal, itu kan menyangkut keagamaan. Artinya, produk yang terverifikasi BPOM belum tentu tersertifikasi halal. Jadi, kita umat Islam saja yang menentukan agar tidak sampai mengonsumsi produk yang diduga tidak “halal”,” ungkapnya.

BACA JUGA:  Merosot Dua Minggu, Padang Kembali Temukan 13 Positif Corona

Di samping masalah makanan kemasan, menurut Legafatman makanan bisa saja tidak aman dikonsumsi karena pengolahan tidak higenis. Misalnya menggunakan air yang terkontaminasi atau tidak bersih. “Kebanyakan air menjadi media yang membuat makanan terkontaminasi bakteri ataupun virus. Makanya, kebersihan air juga pantut diperhatikan,” hematnya.

Sanitasi dan Air Bersih

Usai memaparkan materinya, Legafatman pun mendapat pertanyaan dari salah seorang jurnalis. Yakni menyangkut air yang menjadi media yang rencana membuat makanan justru menjadi tidak bersih. Terlebih dalam kehidupan masyarakat dengan sanitasi buru. Contohnya menggunakan jamban tanpa septic tank, sedangkan air yang digunakan bahkan dikonsumsinya dari sumur.

Parahnya lagi, jarak antara sumur dan kolam pembuangan tinja memiliki jarak yang dekat. Jadi, apa yang harus dilakukan masyarakat, agar air yang digunakan dan dikonsumsi dari sumur itu bisa terhindar dari paparan bakteri atau virus?

Legafatman tidak memungkiri pernyataan tersebut banyak terjadi di masyarakat. Terlebih masyarakat sampai saat ini masih bertahan mengonsumsi air sumur. Menurutnya, kondisi itu bisa diatasi dengan ketelitian warga.

BACA JUGA:  Wisata Pantai Nagari Katapiang Ditanami 800 Pohon Cemara Laut

“Memang, kadang ada warga yang buat septic tank tidak di lantai. Sehingga, air kotor yang masuk dalam septic tank itu terserap oleh tanah. Ini tidak menjami sepenuhnya air akan bersih ketika terhubung dengan aliran air sumur,” hematnya.

Untuk itu, ia menyarankan masyarakat untuk memperhatikan empat syarat air yang bisa dikonsumsi. Yakni berwarna jernih, tidak berbau, rasanya tidak aneh, lalu bentuknya tidak kumuh atau ada zat lain. “Kalau syarat itu sudah terpenuhi, air dimasak dengan suhu 100 derajat celcius biasanya aman karena bakterinya sudah mati,” hemat Legafatman.

“Kalau ada yang membandingkan antara air masak dan air kemasan depot, bagi saya itu tergantung keinginan kita mengonsumsi saja. Semua aman apabila dikelola dengan baik. Air depot itu kan juga ada pengawasannya dari Dinkes,” ujarnya.

Sedangkan air yang tampak kurang jernih, menurutnya bisa dipejernih menggunakan tawas. Memang, ia belum mendapatkan penelitian kenapa tawas bisa membersihkan air. Namun, dari sisi kesehatan sejauh ini masih aman. “Namun kita tidak merekomendasi penggunaan tawas ini untuk air yang akan diminum,” pungkasnya.

BACA JUGA:  Desak Gubernur Sumbar Usut Tuntas Dugaan Korupsi Dana Covid-19
Cara Sosialisasi di Masa Pandemi

Kepala Dinkes Padangpariaman, Yutiardi Rivai mengatakan, awalnya pihaknya cukup kesulitan untuk mengadakan sosialisasi soal keamanan pangan tersebut. Sebab, pandemi membuat kegiatan terbatasi waktu dan jumlah pesertanya.

“Makanya kita berinisiatif mengundang teman-teman media untuk menyukseskan sosialisasi ini. Kita juga atur kegiatan dengan protokol kesehatan dan memberikan masker kepada setiap peserta,” ujar Yutiardi Rivai.

“Sebelumnya hal ini juga kita lakukan dengan Pramuka Padangpariaman. Ini akan berlanjut secara maksimal hingga ke puskesmas-puskemas, karena kita juga akan bagikan masker,” imbuhnya.

Yutiardi menilai, diskusi dengan awak media itu penting dalam mendukung sosialisasi keamanan pangan. Terlebih konsep sehat dan kondisi sanitasi di Padangpariaman yang masih membutuhkan perhatian serius.

“Jadi semua yang berhubungan dengan keamanan pangan kita kupas agar masyarakat memahami dengan baik. Terlebih menyangkut makanan kemasan,” hematnya. (da.)

  • Bagikan