Ini Riwayat PDP yang Meninggal di RSUD Padangpariaman

  • Bagikan
Juru Bicara Tim Komunikasi Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Padangpariaman, saat memberikan keterangan pers terkait meninggalnya salah seorang PDP di RSUD Padangpariaman, Jumat (17/4) pagi.

Padangpariaman – UF (20 tahun), salah seorang warga Korong Simpang, Nagari Lurah Ampalu, Kecamatan VII Koto yang dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten Padangpariaman, dinyatakan meninggal dunia, Jumat (17/6) pagi.

Meskipun hanya sehari berada di RSUD tersebut, wanita muda langsung dimasukkan ke dalam daftar Pasien Dalam Pengawasan (PDP) dugaan covid-19 atau virus corona.

Hal itu dibenarkan Juru Bicara Tim Komunikasi Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Padangpariaman, dr. Jasneli, di ruang Bagian Humas dan Protokol Sekdakab Padangpariaman, Jumat (17/6) sore.

“Sebelumnya, PDP atas nama UF ini tidak pernah melakukan perjalanan ke daerah yang terjangkit wabah (covid-19, Red). Namun, aktivitas sehari-harinya yang berjualan, bisa dibilang rentan terkena covid-19, karena ia pasti bertemu dengan banyak orang,” hemat Jasneli.

Jasneli mengungkapkan UF menderita batuk dan sesekali sesak nafas sejak 27 Maret 2020. Awal mengeluhkan penyakit tersebut, ia sudah berobat di Pustu Sikilir dan Puskesmas Ampalu.

“UF juga pernah dirawat selama lima hari di RS Tamar Medical Center (TMC) Pariaman. Namun, tanggal 14 April 2020, UF keluar dari RS TMC itu,” ungkapnya.

Hanya sehari berada di rumah, Rabu (16/4), UF mengalami kejang-kejang. Sehingga, pihak Puskesmas Ampalu melarikannya ke RSUD Padangpariaman.

Beruntung, Dinas Kesehatan sudah mengambil sampel swab PDP yang berasal dari Korong Simpang, Nagari Lurah Ampalu, Kecamatan VII Koto itu. “Kamis (16/4) kita minta pihak RSUD untuk mengambil sampel swab UF,” kata Jasneli.

Namun malang tak bisa dihindari. Kondisi UF yang semakin drop, membuatnya tak bisa bertahan, sehingga dinyatakan meninggal dunia pagi tadi.

“Penyelenggaraan jenazah UF dilaksanakan oleh pihak RSUD. Ini dilakukan sesuai protokol penananganan pasien covid-19,” ungkapnya.

Bahkan, imbuhnya, jenazah UF tidak diizinkan untuk singgah ke rumahnya. Protokol penanganan itupun diakuinya sempat ditentang keluarga UF. Hanya saja, pihaknya berhasil menyelesaikan setelah dimediasi oleh pihak kepolisian serta TNI setempat.

Walau begitu, sebagai pengobat kesedihan mendalam keluarga UF, pihaknya mengizinkan dua anggota keluarga terlibat dalam proses pemakaman UF. Pihaknya memfasilitasi kedua anggota keluarga UF itu, dengan Alat Pelindung Diri (APD) lengkap.

“Mereka (dua anggota keluarga UF, Red) hanya mengangkat peti dari ambulans saja. Kalau memasukkan peti ke lahat kan pakai tali,” ungkap Jasnel. “Almarhum dimakamkan masih di kampugnya,” tambahnya.

Usai pemakaman UF ini, pihaknya langsung memulai tracking (penelusuran) riwayat kontak UF. Khusus anggota keluarga yang berada di rumahnya, otomatis langsung diperiksa oleh pihaknya. “Anggota keluarga almarhum cukup banyak. Sekarang masih kita data untuk diperiksa,” katanya.

Di samping itu, Jasneli juga mengungkapkan bahwa pihaknya meminta 4 petugas medis di Puskesmas Ampalu, menjalani isolasi mandiri terlebih dahulu. Hal itu dilakukan sembari menunggu hasil tes swab UF dari Laboratorium Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas.

“Berkemungkinan dalam waktu dua sampai 3 hari ke depan hasil swab-nya keluar. Mudah-mudahan hasilnya negatif, sehingga dapat menghapus segala kecemasan masyarakat karena UF yang diketahui menunjukan gejala covid-19,” ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama, Jasneli turut mengimbau masyarakat untuk tidak merasakan kecemasan secara berlebihan. Menurutnya, hal terpenting dalam menghadapi kondisi pandemi ini, masyarakat harus menjalankan segala anjuran yang disosialisasikan pemerintah, dalam memutus mata rantai virus tersebut. (da.)

  • Bagikan