Hepatitis Akut Misterius jadi Momok Anak mulai Masuk Sekolah

  • Bagikan
Hepatitis Akut Misterius jadi Momok Anak mulai Masuk Sekolah
Ilustrasi untuk mengenali gejala hepatitis A. (Gambar: Kemenkes RI)

Jakarta | Datiak.comKasus hepatitis akut misterius menjadi momok saat anak mulai masuk sekolah. Sebab, penyakit yang belum diketahui penyebabnya ini banyak diderita oleh anak. Kewaspadaan untuk menghadapi serangan penyakit ini pun terus digaungkan.

Kendati demikian, risiko untuk menjadi wabah besar dinilai masih jauh. Menurut Kepala Bidang Pengembangan Profesi Perhimpunan Ahli Epidemiolog Indonesia (PAEI) Masdalina Pane, risiko meluasnya penyakit yang belum diketahui etiologinya ini masih tak terlihat.

Selain itu, penyebarannya  masih sporadik, kecuali di Inggris. Di 11 negara eropa lainnya, meski ada letupan-letupan (outbreak) kecil, tapi tidak menyebar dengan cepat. ”Seperti biasa, waspada boleh, tapi jangan panik,” ujarnya.

Karena itu, dia menilai belum dibutuhkan satuan tugas khusus untuk menghadapi ancaman penyakit ini. Disinggung soal upaya prevensi, Masdalina belum memberikan imbauan-imbauan khusus. Pasalnya, hingga kini belum diketahui penyebab pasti dari hepatitis akut misterius ini. Sehingga, prevensinya pun dinilai belum bisa akurat.

”Kita tunggu hasil PE (penyelidikan epidemiologi, Red) dulu saja ya. Kalau sudah didapatkan hasilnya, baru akan keluar kebijakan kesehatan masyarakat yang harus dilakukan,” paparnya.

Namun, orang tua bisa mengantisipasi dengan memperhatikan kondisi anak saat sakit. Terutama anak berusia di bawah 16 tahun. Bila anak menderita diare, mual, muntah, dan lemas, segera bawa ke rumah sakit. ”Jangan nunggu kuning yang menandakan infeksi di hati cukup besar,” tegasnya.

Anggota Komisi IX DPR RI, Kurniasih Mufidayati, mengatakan bahwa yang perlu dilakukan pemerintah sekarang  adalah menyiapkan langkah antisipasi cepat. Sebab, momen lebaran telah usai. Anak-anak kembali masuk sekolah.

Menurutnya, antisipasi bisa dilakukan dengan memberikan edukasi kepada masyarakat melalui pola hidup sehat. ”Kementerian Kesehatan harus mulai membuat dan menerapkan tata laksana dalam memantau kasus suspect hepatitis akut,” ungkapnya.

Kurniasih mengatakan, pemerintah bisa melakukan langkah antisipasi dengan menyiapkan ruang khusus perawatan anak. ”Jika perlu, segera ditetapkan rumah sakit rujukan untuk penanganan jenis hepatitis akut,” ungkap politikus PKS itu.

Ketua DPD RI AA LaNyalla Mahmud Mattalitti juga ikut bersuara. Dia mendesak pemerintah segera mengambil langkah antisipasi dan bertindak cepat. Menurutnya, penyebaran kasus Covid-19 yang sempat di luar kendali harus menjadi pelajaran.

Pemerintah tidak boleh lagi kecolongan. Penyebaran kasus Covid-19 yang sempat di luar kendali harus menjadi pembelajaran. ”Sejak awal pemerintah harus memiliki langkah antisipasi terhadap kasus hepatitis misterius yang telah terjadi di sejumlah negara,” tutur LaNyalla.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin kemarin melaporkan sejumlah perkembangan di bidang kesehatan kepada Presiden Joko Widodo dalam Sidang Kabinet Paripurna. Salah satunya terkait dengan hepatitis akut misterius.

Budi menjelaskan bahwa jajarannya telah melakukan penelitian dan berkoordinasi dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat dan Inggris. Dalam diskusi tersebut disimpulkan bahwa penyebab dari penyakit hepatitis akut belum dapat dipastikan. ”Kemungkinan besar adalah Adenovirus 41, tapi ada juga banyak kasus yang tidak ada Adenovirus 41 ini,” katanya.

Dia menegaskan, saat ini Indonesia tengah melakukan penelitian bersama Inggris dan AS. Untuk mencegah bertambahnya kasus hepatitis akut, Budi mendorong masyarakat rajin mencuci tangan. Sebab, penularan virus tersebut berasal dari asupan makanan lewat mulut.

Selain itu, apabila muncul gejala lain seperti demam, Menkes menganjurkan untuk segera dilakukan pemeriksaan serum glutamic pyruvic transaminase (SGPT) dan serum glutamic oxaloacetic transaminase (SGOT) di rumah sakit. ”Kalau udah naik agak tinggi, sebaiknya di-refer ke fasilitas kesehatan terdekat,” imbuhnya.

Pada kesempatan lain, Juru Bicara Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tarmizi menyatakan, pemerintah belum membentuk satgas khusus untuk mengatasi hepatitis akut ini. ”Dengan jumlah perkembangan kasus sekarang belum diperlukan kebijakan khusus terkait PTM (pembelajaran tatap muka, red),” ujarnya.

Menurut dia, sejauh ini dinas kesehatan akan melakukan verifikasi secara berjenjang. Rumah Sakit Sulianti Saroso di Jakarta ditunjuk untuk meneliti sampel yang diambil dari pasien. ”Menjaga higienisan dan sanitasi personal itu penting,” ingat Nadia.

Ini dilakukan juga ketika anak mulai masuk sekolah. Antisipasi tak hanya datang dari pemerintah. Nadia berharap masyarakat juga sadar untuk melakukan pencegahan. ”Hepatitis ini sebenarnya penyakit lama yang menular juga lewat makanan,” ungkapnya.

Unit Kerja Koordinasi Infeksi Tropik Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dr Nina Dwi Putri SpA(K) memberikan saran bagi orang tua untuk menghindari penyakit infeksi pada anak. Yang harus dilakukan pertama adalah pastikan status vaksinasinya. Pada anak, terdapat vaksinasi rutin yang harus diberikan. ”Vaksinasi merupakan cara paling aman untuk melindungi anak dari penyakit infeksi,” tuturnya.

Dia juga menyarankan agar anak berada di rumah saat sakit. Ini untuk menghindari penyebaran penyakit. Selain itu juga pemulihan pada si sakit diharapkan akan lebih cepat dengan beristirahat di rumah. Nina juga tidak menganjurkan membawa anak pada tempat yang terlalu ramai. ”Salah satu cara sederhana namun penting untuk mencegah penyebaran infeksi adalah mencuci tangan,” katanya.

Karena itu, orang tua bisa mengajarkan cuci tangan yang benar kepada anak. Selain itu, kebersihan lingkungan juga perlu dilakukan. ”Jangan panik. Apapun infeksinya, yang penting selalu melakukan pencegahan,” imbuhnya. (da.)


  • Bagikan