Gizi Buruk di Pesisir Selatan Menerpa 25 Persen Balita

  • Bagikan
gizi buruk di pesisir selatan
Ilustrasi balita yang mengalami gizi buru atau kekurangan gizi berimbang. (Gambar: Tim Datiak.com)

Pesisir Selatan | Datiak.com – Kasus gizi buruk di Pesisir Selatan sejak dua tahun terakhir perlu penanganan lebih serius. Hal itu ditegaskan Sekretaris Daerah Kabupaten (Sekdakab) Pesisir Selatan, Mawardi Roska, saat membuka kegiatan Forum Konsultasi Publik Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Tahun 2023, di Bappedalitbang, Kamis (27/1). Hadir di sana Ketua DPRD Pesisir Selatan, Ermizen.

Dijelaskannya, persentase gizi buruk di Pesisir Selatan anak balita cenderung mengalami peningkatan dan bertahan dari tahun ke tahun. Hingga kini berdasarkan data yang disampaikan, sebanyak 25,2 persen anak balita mengalami gizi buruk di daerah itu. “Artinya, kalau ada 100 anak balita, sekitar 25 orang statusnya sudah mengalami gizi buruk,” jelasnya.

Menurut Mawardi, jika permasalahan gizi buruk di Pesisir Selatan tidak ditangani secara maksimal, maka dikhawatirkan akan melahirkan sumber daya manusia yang lemah. Permasalahan gizi buruk di Pesisir Selatan, katanya sudah berakumulasi.

Stunting disebabkan kekurangan gizi yang tidak berimbang, terutama pada anak balita, ibu hamil dan menyusui serta perilaku keluarga balita. Selain dipicu oleh lemahnya sumber daya orang tua memahami asupan gisi terhadap anak, hal lain yang mempengaruhi juga oleh faktor kemiskinan.

“Jadi, pemicu gizi buruk ini sudah berakumulasi. Orang tua juga terbatas informasinya soal asupan gizi, vitamin dan protein yang baik. Dan sayangnya, banyak di antara masyarakat yang juga tidak  memaksimalkan kekayaan alam yang ada. Kita punya lahan dan pekarangan luas di rumah. Tapi, tidak dimanfaatkan untuk menanam sumber-sumber vitamin, seperti sayur dan buahbuahan,” ujarnya.

Berdasarkan hal itu, maka pemerintah kabupaten akan melakukan pemetaan dan mendata by name by adress agar upaya pemulihan gizi anak di Pesisir Selatan dapat tercapai. Tentu saja, upaya tersebut melibatkan seluruh stakeholders terkait.

Dia mengatakan, gizi buruk terjadi karena anak-anak kekurangan asupan gizi dan protein secara berimbang. Protein sendiri dihasilkan dari daging sapi, ikan, ayam dan kacang-kacangan. Sementara vitamin dihasilkan dari berbagai sayur dan buah-buahan.

“Asupan gizi yang baik bakal membantu jaringan sel, dan jaringan otak anak menjadi banyak. Kalau sel jaringan otak banyak, maka anak akan menjadi cerdas. Tapi, faktanya, kita belum berhasil  mengahasilkan sumber-sumber protein secara maksimal. Makanya ini perlu kita sikapi bersama,” ucapnya.

Mawardi mengatakan, peningkatan sumber daya manusia dari dini sangat diperlukan dan semua itu didasari dengan memperbaiki asupan gizi anak. Dari itu pemerintah daerah perlu upaya konkret dalam menyelesaikan persoalan itu. Kuncinya bagaimana keluarga dan lingkungan sekitar mampu memproduksi sumber-sumber protein secara berkelanjutan.

Disamping itu juga memberikan edukasi kepada sasaran keluarga agar pengetahuan, keterampilan dan pengetahuan akan pentingnya asupan gizi yang berimbang menjadi meningkat. “Untuk itu, perlu  kebijakan dan eksekusi konkret di lapangan, agar keluarga dan nagari sasaran mampu memproduksi sumber protein dan vitamin serta edukasi untuk perubahan perilaku,” katanya.

Ditambahkan lagi, untuk mendukung upaya menekan kasus gizi buruk di Pesisir Selatan, pemerintah daerah melalui pemerintah nagari juga bisa menyelaraskan, seiring dengan program ketahanan pangan dan hewani yang ditetapkan Pemerintah Pusat.

“Sebab sebesar 20 persen dana desa (DD) dialokasikan untuk progam itu, guna mendukung dalam melahirkan sumber protein dan vitamin bagi keluarga dan masyarakat,” tutupnya. (da.)


Baca berita Pesisir Selatan hari ini di Datiak.com.

  • Bagikan