Gasiang Tangkurak Jampi-Jampi Seram, dan Cerita di 50 Kota

  • Bagikan
Gasiang Tangkurak Jampi-Jampi Seram dan Cerita di 50 Kota
Ilustrasi gasing dengan tali kain kafan. (Gambar: IST)

Kisah Gasiang Tangkurak tak asing lagi ditelingan masyarakat Minangkabau. Dua kata ini kental dengan mistis. Diyakini, Gasiang Tangkurak memiliki magi yang paling kuat. Maka dari itu, bukan sekedar dapat memengaruhi batin, tetapi juga jasad korbannya.

DALAM cerita rakyat Minangkabau yang dirangkum Datiakcom, Gasiang Tangkurak adalah alat perdukunan yang memang berbentuk gasing yang dibuat dari tengkorak mayat. Sisi yang diambil dari tengkorak tersebut kebanyakan pada bagian dahi. Lalu dilubangi dan dikasih jalinan dengan tali kain kafan.

Terdapat beberapa keyakinan terkait tengkorak yang diambil. Ada yang ambil tengkorak dari kurbur anak-anak, ada juga dari wanita yang wafat waktu melahirkan. Atau, dari tengkorak gadis masih yang perawan. Selain itu, ada juga kepercayaan menggunakan tengkorak orang yang dibunuh, tapi melakukan perlawanan sebelum meninggal.

Masih dalam cerita lisan masyarakat Minangkabau, Gasing Tengkorak erat kaitannya dengan jampi-jampi. Kisahnya berawal dari seseorang lelaki yang ditolak cintanya. Lalu, ia memohon kepada seorang dukun untuk melakukan guna-guna terhadap wanita idamannya. Sebagai imbalan, si lelaki memberikan emas kepada si dukun.

Jampi-jampi menggunakan Gasiang Tangkurak, dikisahkan membuat wanita yang disasarnya menjerit-jerit. Ia dipaksakan bangun dan berjalan dalam kondisi tidur. Wanita itu jalan untuk mengerjakan perintah dukun atau menjumpai lelaki yang mengupah si dukun.

Lebih mengejutkan lagi, magi ini diceritakan membuat wanita yang menjadi korbannya sampai memanjat dinding. Banyak lagi hal di luar akal sehat yang terjadi pada wanita yang dikendalikan dengan Gasiang Tangkurak.

Saking populernya, seorang pencipta lagu Minangkabau, Syahrul Tarun Yusuf, membuatkan lagu tentang Gasiang Tangkurak ini. Liriknya bak mantra; “gasiang batali jo kain kapan, dipatang kamih malam jumaaik, gasiang tangkurak nan den mainkan, putuihnyo gasiang putuih ma’ripaik”.

Kisah Sibabau dan Puti Losuang Batu

Kisah Sibabau dan Puti Losuang Batu diceritakan awal munculnya guna-guna menggunakan Gasing Tengkorak. Kisahnya berawal dari Sibabau yang terserang penyakit kulit, sehingga diusir dan di dipencilkan warga di tempat yang punyai bentuk serupa kandang.

Menurut Fitri Elia dan Imran T. Abdullah dalam Jurnal Humanika UGM Volume 12 Nomor 2, April 2004, kisah Sibabau dan Puti Losuang Batu terjadi di wilayah Pakandangan yang berada pada sisi Timur Nagari Taeh Bukit, Kecamatan Guguk, Kabupaten 50 Kota.

Satu kali, seseorang wanita namanya Puti Losuang Batu mengolok Sibabau sampai ia sakit hati. Dia lalu bersenandung yang diselingi dengan tiupan siluang (sama dengan seruling yang dibikin dari bambu dengan 5 lobang melodi) untuk melenyapkan kesedihannya.

Tindakan Sibabau pun menimbulkan perhatian beberapa orang yang melihatnya. Mereka lalu datangi Sibabau untuk mendengar dendangnya. Oleh banyak dukun, dendang Sibabau dijadikan mantra untuk panggil jin yang dikenal dengan sebutan sijundai oleh masyarakat Minang. Mantra itulah yang dipakai untuk guna-guna.

Namun, penggunaan mantera itu harus disertai sejumlah alat ritual. Yang paling utama yaitu tengkorak mayat yang dibuat menjadi gasing. Syarat lainya yaitu bonang pincono (benang dengan warna tujuh rupa), telur, kemenyan, dan daun sirih.

“Jika persyaratan itu disanggupi, sang dukun akan pergi ke beberapa tempat sepi yang pantang dikunjungi orang-orang karena dianggap keramat,” tulis Fitri Elia dan Imran T. Abdullah.

Berbeda lagi dalam catatan Ediwar dkk, dalam Musik Tradisional Minangkabau (2017). Dituliskan Sibabau lah yang datangi dukun untuk membalas sakit hatinya pada Puti Losuang Batu. Melalui jampi-jampi Gasiang Tangkurak si dukun, Puti Losuang Batu pun terkagum kepada Sibabau yang udah dihinanya.

Kisah cinta ini lalu di pandang warga sangat menyeramkan. Sebab, banyak pemuda yang terasa terhina oleh gadis-gadis dan cintanya tertolak, mendatangi pawang sirompak untuk membalas sakit hatinya, dan memenuhi kemauannya memiliki si gadis.

“Beberapa cara seperti yang sedang dilakukan lewat sirompak itu, makin lama ditentang oleh warga. Sebab dapat menghancurkan jiwa manusia dan menghancurkan ketenangan warga. Pemain sirompak pun dikeluarkan dan disisihkan oleh warga dari kampung,” tulisnya.

Namun semua itu hanya kisah. Soal kebenaran info dan tuahnya Gasiang Tangkurak, Allahu ‘Alam. Yang jelas, masuknya Islam ke Minangkabau, sudah tentu membuat Gasiang Tangkurak dan perdukunan sangat dikutuk dalam kehidupan masyarakat.

Sebab, perbuatan itu dalam Islam bagian dari syirik dan menyekutukan Tuhan. Sekarang, ideologi masyarakat Minangkabau sudah dicatat dengan tinta emas, yang tidak akan terbelah oleh panas, dan tak akan lapuk karena hujan. Hal itulah yang dikenal dengan falsafah “Adaik Basandi Syarak, Syarak Basani Kitabullah”. (da.)


  • Bagikan
Daftar dan masuk untuk mengambil konten!