Empat Warga Solok Selatan Ditangkap Polda Sumbar

  • Bagikan
empat warga Solok Selatan diduga merusak hutan
Polda Sumbar saat memberikan keterangan terkait penangkapan empat warga Solok Selatan (baju oranye di belakang) yang diduga telah merusak hutan kawasan TNKS. (Foto: Istimewa)

Padang | Datiak.com – Empat warga Solok Selatan (Solsel) ditangkap tim gabungan Balai Besar TNKS, Direktorat Jenderal (Ditjen) Gakkum Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Wilayah Sumatera, dan Polda Sumbar. Penangkapan dilakukan karena 4 warga itu diduga merusak hutan di kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS).

Direktur Reserse Kriminal Khusus (Dirreskrimsus) Polda Sumbar Kombes Pol Joko Sadono mengatakan penangkapan dilakukan beberapa waktu lalu. Empat orang pelaku perambahan/merusak hutan di kawasan TNKS, ditangkap di Jorong Pancuran Tujuah (Desa Wonorejo), Nagari Lubukgadang Selatan, Kecamatan Sangir, Kabupaten Solsel.

“Proses penangkapan warga Nagari Lubukgadang Selatan, Kecamatan Sangir, Solsel ini dilakukan pada Rabu-Kamis atau 2-3 Juni lalu,” tutur Kombes Pol Joko Sadono.

Tertangkapnya Empat Warga Solok Selatan

Empat warga Solok Selatan tersebut berinisial SU, RN, ROH, dan seorang koordinator berinisial ER. Modus operansi tindakan ilegal tersebut, yaitu dengan membuka lahan, bercocok tanam di wilayah TNKS. Kemudian peralatan yang digunakan juga bermacam-macam dan dilakukan secara perorangan.

BACA JUGA:  Gusni Fitri, Divonis Tidak Bersalah Setelah Hampir 4 Tahun Dipenjara

“Mereka merambah tidak untuk perusahaan karena mereka penduduk asli di sana,” kata Joko dalam keterangan persnya, di Mapolda Sumbar, Selasa (15/6).

Ia menjelaskan, saat ini para pelaku sudah ditahan dalam kasus pengrusakan/merusak hutan dilindungi tersebut. Sejumlah barang bukti (BB) juga disita petugas seperti tiga handspayer, tiga chainsaw kecil, lima bilah parang, lima bibit tanaman berbagai jenis seperti kopi, alpukat dan jeruk serta satu genset.

“Atas perbuatannya, para pelaku (empat warga Solok Selatan, Red) yang memanfaatkan hutan ini secara tidak sah, akan dijerat dengan Pasal 36 Angka 19 Ayat (2) jo Pasal 36 Angka 17 Ayat (2) huruf a UU No. 11 Republik Indonesia Tahun 2020 Tentang Penciptaan Lapangan Kerja jo Pasal 55 Ayat 1 sd 1 KUHP, dengan ancaman pidana penjara paling lama 10 tahun,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Bidang (Kabid) Wilayah II Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) Sumbar, Ahmad Darwis menambahkan sebanyak 20 ribu hektare lahan di bawah pimpinannya telah dirambah secara ilegal oleh masyarakat. Menurutnya aksi perambahan yang terjadi di TNKS Wilayah II Sumbar sudah berjalan dua tahun dengan wilayah sebarannya di Kabupaten Solok Selatan (Solsel) dan Pesisir Selatan (Pessel).

BACA JUGA:  Epyardi Asda Dilaporkan Dodi Hendra ke Polda Sumbar

“Kami sudah melakukan pendekatan persuasif, ketika kami melihat beberapa bulan ini dan tidak merespons. Jangankan meninggalkan, yang ada malah menambah luas areal bukaan tersebut. Menurut pengakuan pelaku, ia bisa membuka 75 hektare, tapi dari citra satelit kami sudah mencapai 300 hektare,” paparnya.

Lebih lanjut Darwis mengatakan, di wilayah kerja TNKS II Sumbar, tindakan merusak hutan sudah mencapai 20 ribu hektare. Lahan itu pun juga sudah dirambah secara sporadis secara orang per orang, yang diduga termasuk empat warga Solok Selatan tersebut terlibat di dalamnya.

“Kendala kami luas kawasan TNKS yang di Wilayah II Sumbar ini, petugas kami hanya berjumlah 30 orang dengan luas wilayah pengawasan mencapai 400 ribu hektare. Saya rasa Sumber Daya Manusia (SDM) kami sangat kurang untuk (pengawasan) itu. Namun, kami dibantu oleh rekan-rekan dari Kepolisian Daerah (Polda) Sumbar,” pungkasnya. (da.)

  • Bagikan