Kamis, 22 Februari 2024

Datiak.com

Berita Sumbar Terbaru Hari Ini dan Info Terkini

Dugaan Korupsi di Unand, 13 Orang sudah Diperiksa Kejari Padang

Kasi Intelijen Kejari Padang, Afliandi, menjelaskan bahwa Kejari Padang sudah memeriksa 13 orang sebagai saksi terkait dugaan korupsi anggaran kemahasiswaan di Unand tahun 2022. (Foto: Metrokini)
186 pembaca

Padang | Datiak.com – Dugaan korupsi di Unand (Universitas Andalas) mulai bergulit di Kejaksaan Negeri Padang. Setidaknya, sudah 13 orang dipanggil sebagai saksi.

Hal itu diungkapkan oleh Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Padang, Mhd Fatria, melalui Kasi Intelijen Afliandi dan Kasi Pidsus Yuliandri, Senin (4/12).

Mereka menjelaskan bahwa perkara dugaan korupsi di Unand itu telah memasuki tahap penyidikan sejak 21 November 2021, sesuai dengan Surat Perintah Penyidikan Nomor L.03/L.3.10/Fd 1/11/2023 yang ditandatangani Kepala Kejaksaan Negeri Padang.

“Sejauh ini, tim penyidik Pidsus Kejari Padang sudah melakukan pemeriksanaan terhadap 13 orang sebagai saksi. Mulai dari unsur pimpinan Unand dan pihak yang terkait dalam perkara ini,” ujar Afliandi.

Ia pun tidak menutup kemungkinan bahwa jumlah saksi dalam kasus dugaan korupsi di Unand tersebut bakal bertambah nantinya.

“Dugaan korupsi di Unand ini yaitu menyangkut anggaran kemahasiswaan di Unand tahun 2022,” ungkapnya.

Ia pun menjelaskan, nilai kerugian negara akibat dugaan penyalahgunaan anggaran kemahasiswaan di Unand itu mencapai kisaran Rp 613 juta.

“Kejari Padang berencana melibatkan ahli untuk menghitung secara detail kerugian negara, dan nilai tersebut tidak tertutup kemungkinan dapat bertambah,” jelasnya.

Afliandi pun mengatakan, kasus dugaan korupsi anggaran kemahasiswaan di Unand tersebut berawal dari demonstrasi mahasiswa yang menuntut penyelesaian dugaan penyimpangan dana reward mahasiswa di Unand.

Kejari Padang pun memantau perkembangan situasi dan mendalami laporan tersebut. Setelah pengumpulan data dan keterangan, penyelidikan dilakukan, dan indikasi dugaan tindak pidana korupsi ditemukan.

“Laporan itu kami dalami dan kembangkan. Serta dilakukan pengumpulan data dan keterangan. Tidak begitu lama, kami melanjutkan ke tahap penyelidikan sehingga ditemukan adanya indikasi dugaan unsur tindak pidana korupsi,” tukas Afliandi. (*)