Iklan Melayang
Iklan Melayang

DPRD dan HMI Bukittinggi Cekcok saat Audiensi

  • Bagikan
Ketua, Wakil Ketua dan sejumlah Anggota DPRD Bukittinggi menggelar jumpa pers. Hal ini dilakukan pasca insiden cekcok (berbantahan) antara DPRD dan HMI Bukittinggi dalam audiensi, Senin (17/5).
Foto: Istimewa
banner 468x60

Bukittinggi | Datiak.com – Hubungan anggota DPRD dan HMI Bukittinggi memanas. Pasalnya, audiensi antara legislatif dan kalangan mahasiswa tersebut, berakhir cekcok (saling bantah), Senin (17/5). Baik HMI ataupun DPRD pihak saling tuding tidak sopan saat audiensi. Sejumlah anggota dewan merasa tersinggung karena diinterupsi saat berbicara.

Di sisi lain, mahasiswa HMI yang merasa direspons secara kasar, memilih walk out (WO) alias meninggalkan gedung dewan. Tidak hanya itu, saat audiensi berlangsung beberapa oknum anggota dewan tersulut emosi hingga menggebrek meja rapat. Mahasiswa HMI juga bergantian mengajukan interupsi dan tidak terima mikrofon mereka dimatikan.

banner 336x280

Ketua DPRD Bukittinggi, Herman Syofian menyebut, pihaknya merasa kecewa atas sikap para mahasiswa yang telah difasilitasi untuk bersilaturahmi. Dirinya bersama wakil ketua bahkan sudah turun langsung memimpin pertemuan itu.

”Silaturahmi yang sengaja kita agendakan ini, membuat kami kecewa karena beberapa penyampaian dari DPRD sering dipotong secara kurang sopan oleh rekan mahasiswa,” kata Herman saat jumpa pers usai insiden tersebut.

Seharusnya, imbuh Herman, kegiatan itu bisa menjadi penghubung aspirasi masyarakat yang diwakili mahasiswa tetapi malah memicu ketegangan saat diskusi. ”Kita menerima aspirasi rekan mahasiswa. Kita mencoba menjelaskan apa yang sudah dikerjakan, dan juga mempertanyakan kehadiran mereka dan kepengurusan HMI saat ini. Tetapi, kemudian malah emosi,” katanya.

Menurutnya, ada kesalahfahaman penilaian dari mahasiswa yang menyebut DPRD Bukittinggi tidak menghasilkan atau tidak bekerja selama ini. ”Seharusnya, rekan mahasiswa menilai DPRD Bukittinggi dengan melihat perbandingan dengan kabupaten/kota lainnya. DPRD Bukittinggi masih di posisi atas dengan menghasilkan 10 Ranperda dari 15 target yang akan diselesaikan,” kata Herman.

Dugaan Buntut Perselisihan

Wakil Ketua DPRD Bukittinggi, Nur Hasra menambahkan, pertemuan DPRD dan HMI Bukittinggi yang berakhir dengan jalan buntu itu, sejatinya dipicu juga oleh beberapa rangkaian kejadian sebelumnya. Pasalnya, surat permintaan audiensi yang dikirimkan pertama kali oleh HMI dirasa kurang tepat, karena tujuan audiensi yang diminta itu berbunyi dalam rangka pengevaluasian kinerja DPRD. Surat itupun dikembalikan DPRD untuk direvisi oleh HMI.

”Setelah surat kedua berbunyi permintaan silaturahmi dan menjalin relasi, maka bisa diagendakan hari ini. Saat mereka sudah hadir, tentu kami tanyakan identitas mereka untuk disesuaikan dengan pengurus HMI yang menandatangani surat sebelumnya. Namun, kenyataannya ketua dan sekretaris yang menulis surat audiensi tak ada. Hanya diwakili anggota beserta ketua formatur saja,” katanya.

Anggota DPRD Bukittinggi lainnya yang hadir saat jumpa pers itu mengungkit beberapa kejadian sebelumnya. Di mana, aktivis HMI disebut-sebut melecehkan marwah lembaga legislatif itu dengan membawa spanduk ke depan gedung DPRD, memberikan rapor merah, dan menyebut para wakil rakyat itu mandul alias tidak produktif menghasilkan perda.

Alasan Pilih WO

Terpisah, Ketua Umum HMI Bukittinggi Muhammad Irvan mengatakan, pihaknya bersama rekan mahasiswa lainnya memilih WO dari forum silaturahmi tersebut karena dinilai sudah tidak kondusif. ”Ada oknum DPRD yang sampai memukul-mukul meja dan berbicara dengan intonasi keras, dan selalu memotong pembicaraan kami tanpa etika forum,” ungkapnya.

“Main nyelonoh berbicara tanpa ada izin dari pimpinan. Kalau mau berbicara tentu seharunya minta izin dulu kepimpinan atau moderator. Ditambah dengan DPRD yang selalu mematikan mik, ketika kami berbicara dan menjabarkan tujuan kami,” imbuhnya.

Irvan menolak HMI disebut tidak beretika dan justru menilai sebaliknya. ”Kami dicap tidak beretika, malahan yang tidak beretika adalah DPRD Bukittinggi yang seharusnya menyambut baik maksud masyarakatnya untuk mnyampaikan aspirasi,” sebutnya.

Ditanya niat awal untuk meminta audiensi, Irvan mengaku hal itu timbul setelah adanya diskusi internal HMI  Bukittinggi menyoroti kinerja pemerintah dan kondisi warga Bukittinggi. (da.)

banner 336x280
banner 120x600
  • Bagikan