Rabu, 21 Februari 2024

Datiak.com

Berita Sumbar Terbaru Hari Ini dan Info Terkini

Demo PPDI Pesisir Selatan: “Kok Ndak Mampu Manambah Jan Mangurangi…”

Para anggota PPDI Pesisir Selatan yang memegang spanduk bertuliskan "Kok Ndak Mampu Manambah Jan Mangurangi...", saat demo di depan Kantor Bupati Pesisir Selatan, Senin (20/3/2023). (IST)
916 pembaca
“Kok Ndak Mampu Manambah Jan Mangurangi…”. Kalimat tersebut penulis lihat di salah satu spanduk saat PPDI Pesisir Selatan melakukan orasi di depan Kantor Bupati Pesisir Selatan. Apa yang mereka tuntut?

PPDI Pesisir Selatan demo di depan Kantor Bupati Pesisir Selatan pada Senin (20/3/2023). Mereka memperjuangkan hak hak-hak atau kesejahteraan para anggota Persatuan Perangkat Desa Indonesia (PPDI) di Pesisir Selatan.

Kalimat “Kok Ndak Mampu Manambah Jan Mangurangi…” sangatlah santun dan menyentuh hulu hati. Ditambah lagi yang memegangnya kaum ibu-ibu. Bila hati para pemangku kebijakan tidak terenyuh, cara apalagi yang akan sungguh sangat keterlaluan.

Aksi itu diikuti banyak perangkat nagari yang tergabung dalam PPDI Pesisir Selatan. Namun  yang perlu diperhatikan, maksud dan tujuan berdemo mereka tercapai. Yaitu menyadarkan tim penyusun anggaran daerah. Sebab, mereka keliru dalam mematok ADD yang berakibat akan dihilangkannya tunjangan, dan dipotongnya penghasilan tetap perangkat nagari.

Boleh-boleh saja sekarang ada yang mengatakan bahwa pemda mengembalikan atau tidak mengubah kebijakan terkait Penghasilan Tetap (Siltap) dan tunjangan, bukan karena desakan PPDI Pesisir Selatan. Tapi, bagaimanapun juga tidak bisa dipungkiri, sebelum Epi Syofyan (Ketua PPDI Pesisir Selatan berteriak bersama rekan-rekannya, masalah ini bisa-bisa saja lain ceritanya.

Entah apa maksud dan tujuan mereka dahulu. Tentunya, mereka yang menjelaskan kepada Epi Syofyan dan kawan-kawan, serta hanya Tuhan yang tahu. Di balik semua itu, walaupun beragam pandangan disampaikan kepada Epi Syofyan, namun semua dijalani dengan tenang.

Tidak bisa dipungkiri semua ini adalah proses dan perjalanan politik. Semua tentu sah-sah saja. Yang penting, caranya sesuai ketentuan undang-udang dan bisa raso dibawo naiak, pareso dibawo turun. Tidak hiperbola rasanya mengatakan ini menjadi catatan sejarah.

PPDI Pesisir Selatan di bawah komando Epi Syofyan berjuang dengan bermandi peluh mereka sendiri. Tidak ada tanggapan atau pertolongan dari anggota dewan seperti yang diutarakan oleh Epson (nama keren Epi Syofyan), di Padang TV pada (17/3).

Sekarang semua telah berlalu dengan janji bahwa pihak perangkat nagari tidak ada gaji yang dikurangi atau tunjangan ditiadakan. Hasil yang manis dari sebuah perjuangan. Meski tidak semua perangkat nagari berpartisipasi, tapi akan dinikmati seantero perangkat di Negeri Sejuta Pesona (julukan Pessel) ini.

Jika memang semua telah dipenuhi kembalilah bekerja. Pemerintahan nagari merupakan garda terdepan penyangga kehidupan berbangsa dan bernegara. Dengan tercukupinya masalah pariyuak nasi, mudah-mudahan semua stakeholder mampu mencurahkan fikiran, waktu, dan tenaga untuk kebaikan bersama.

Mudah-mudahan kesalahan hitung-hitungan ini tidak terjadi lagi. Jika kebijakan itu sampai terlaksana, yang akan teraniya tentu dunsanak bapak-bapak juga. Yang tidak akan berjalan dengan rancak tentu pemerintahan Pesisir Selatan juga.

Sekarang hari elok angin salasai, riak dan gelombang sudah menari di lautan. Di hari baik bulan baik ini, dan bertepatan akan memasuki bulan mulia. Mudah-mudahan kita sambut dengan muko nan janiah dan hati nan suci. Fastabiqul khairat. (*)


Artikel opini ini ditulis oleh Irwandi (alumnus Fakultas Ilmu Budaya Adab IAIN Imam Bonjol Padang/warga IV Jurai Pesisir Selatan)