Rabu, 21 Februari 2024

Datiak.com

Berita Sumbar Terbaru Hari Ini dan Info Terkini

Datangi Lokasi Gempa, BMKG: Ada Potensi Bencana Lanjutan

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati, memperingatkan adanya potensi bencana lanjutan pasca guncangan gempa 6,2 magnitudo di Pasaman Barat, Jumat (26/2). (Foto: Ist)
275 pembaca

Pasaman Barat | Datiak.com – Kepala BMKG Dwikorita Karnawati, datangi lokasi gempa di Pasaman Barat (Pasbar), Minggu (27/2). Ia memperingati terkait potensi ancaman bencana lanjutan usai gempa 6,2 magnitudo pada Jumat (26/2). Yakni berupa potensi longsor, banjir, dan banjir bandang (galodo) di area hulu sungai lereng Gunung Talamau.

”Untuk gempa insya Allah perkembangannya jauh melandai. Artinya, gempa-gempa susulan yang terjadi semakin melemah menuju kestabilan,” ungkap Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, saat datangi lokasi gempa di Pasbar, Minggu (27/2).

Dwikorita mengatakan, justru yang saat ini perlu diwaspadai adalah potensi bencana hidro meteorologi berupa potensi banjir ataupun banjir bandang, serta longsor, mengingat saat ini masih musim penghujan. Masyarakat yang tinggal di sepanjang aliaran sungai pada lereng Gunung Talamau harus lebih waspada dan siaga, karena potensi tersebut bisa sewaktu-waktu terjadi.

”Jadi kewaspadaan masyarakat harus bergeser, tidak lagi soal gempa tapi bencana akibat musim penghujan. Berdasarkan hasil survei, teridentifikasi luapan banjir sedimen mencapai radius kurang lebih 200 meter dari tepi sungai,” ujarnya.

“Makanya, warga yang bermukim dan beraktivitas di sepanjang aliran sungai yang mengalir dari lereng atas Gunung Talamau diimbau untuk menghindari zona dalam radius 200 meter dari tepi sungai, apabila hujan turun di lereng gunung tersebut. Situasi ini diperkirakan akan berlangsung hingga Maret-April,” imbuhnya.

Dwikorita menyebut, saat ini BMKG bersama Balai Wilayah Sungai (BWS) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) langsung datangi lokasi gempa, yaitu Kabupaten Pasaman Barat, untuk terus melakukan upaya mitigasi. Tujuannya guna mereduksi dampak jika sewaktu-waktu bencana hidrometeorologi menerjang.

Pencegahan dilakukan BMKG dengan datangi lokasi gempa (Pasbar), dan terus memonitor cuaca dan intensitas hujan. Sedangkan BWS melakukan pengerukan sedimen lumpur atau material longsoran yang terjadi akibat gempa dan tersapu oleh hujan atau aliran sungai menggunakan alat berat. Sehingga, aliran air tidak meluap ke pemukiman warga.

Upaya pengerukan ini juga sekaligus untuk mencegah terbentuknya sumbatan material endapan longsoran pada lembah sungai. Sumbatan-sumbatan material tersebut sering terjadi akibat longsor saat gempa, dan berbahaya bila membendung aliran air hujan dan aliran sungai dari arah hulu. Pasalnya, bendung tersebut sewaktu-waktu dapat jebol bila air terus terakumulasi dan menekan seiring peningkatan curah hujan.

BMKG, lanjut dia, lebih intensif terus melakukan monitoring cuaca menggunakan radar cuaca, serta memberikan prakiraan dan peringatan dini potensi cuaca ekstrem di area hulu sungai lereng Gunung Talamau. ”Kami juga melakukan identifikasi zona bahaya di sepadan sungai dan sempadan lereng,” ujarnya. (da.)


Baca berita Pasaman Barat hari ini di Datiak.com.

Avatar photo