Dalam Enam Bulan, Ditemukan 64 Kasus DBD di Agam

  • Bagikan
Proses pengasapan lingkungan masyarakat untuk memberantas jentik nyamuk untuk mencegah peningkatan kasus DBD di Agam. (Foto: Istimewa)

Agam | Datiak.com – Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) masih terbilang tinggi di Kabupaten Agam. Dinas Kesehatan Agam mencatat 64 kasus sejak Januari hingga Juni 2020. Kendati begitu, jumlah kasus tersebut diklaim menurun dibanding periode yang sama pada tahun 2019.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Agam, Tri Pipo menyebut, kasus DBD di Agam per Januari hingga Juni 2019 tercatat 91 kasus.

“Kasus tahun ini berdasarkan laporan dari 10 Puskesmas di Agam. Temuan terbanyaknya di pasar tradisional, karena kurangnya perhatian kebersihan dari pedagang,” hemat Tri Pipo.

Ia menjelaskan bahwa kerawanan DBD paling tinggi terdapat di wilayah kerja Puskesmas Tiku. Sekarang, tercatat 14 kasus di sana. Lalu di Puskesmas Padang Lua 13 kasus, dan Puskesmas Biaro 11 kasus.

Selanjutnya di Puskesmas Lasi 8 kasus, Puskesmas Baso 6 kasus, Puskesmas Koto Alam 4 kasus, Puskesmas Sungai Pua 3 kasus, Puskesmas Matur 2 kasus, Puskesmas Pakan Kamih 2 kasus, dan Puskesmas Pasar Ahad 1 kasus.

“Alhamdulillah tidak ada korban jiwa pasien DBD di Agam. Namun, kami mengimbau warga agar lebih waspada terhadap penyakit DBD ini,” pinta Tri Pipo.

Untuk menekan korban DBD, pihaknya bakal lebih gencar dan intens ke lapangan melakukan pemeriksaan lingkungan dengan target pemusnahan jentik. Sebanyak 100 petugas pun sudah dikerahkan.

“Satu petugas akan memeriksa 10 rumah setiap hari selama satu minggu. Pemeriksaan jentik nyamuk juga dilakukan di sekolah, sarana ibadah dan kantor pemerintahan,” paparnya.

Di samping itu, menurutnya perilaku 3M, faktor utama keberhasilan pencegahan DBD. Yaitu menguras, menutup dan memanfaatkan kembali barang bekas yang berpotensi jadi tempat berkembangbiaknya nyamuk DBD.

Selain itu, warga juga harus melakukan pemberantasan sarang nyamuk. Misalnya dengan menaburkan bubuk larvasida pada tempat penampungan air yang sulit dibersihkan.

“Kesadaran masyarakat kunci utama menekan kasus ini. Terlebih di lingkungan keluarga,” pungkasnya. (da.)

  • Bagikan