Cegah Klaster Baru di Padangpariaman, Basafa Ditiadakan

  • Bagikan
Pjs Bupati Padangpariaman Adib Alfikri berembuk bersama MUI Padangpariaman, Tuanku Khalifah ke-15 Syekh Burhanuddin, Buya Heri Firmansyah, ninik mamak dan para tokoh masyarakat di Kecamatan Ulakan Tapakih. Hasilnya basafa ditiadakan tahun 2020 ini. (Foto: Humas)

Padangpariaman | Datiak.com – Kegiatan basafa yang rutin diadakan setiap tahun di Kabupaten Padangpariaman, diputuskan untuk ditiadakan tahun 2020 ini. Keputusan basafa ditiadakan tersebut diambil, setelah Pemkab Padangpariaman berembuk bersama MUI Padangpariaman, Tuanku Khalifah ke-15 Syekh Burhanuddin, Buya Heri Firmansyah, ninik mamak dan para tokoh masyarakat di Kecamatan Ulakan Tapakih.

Penundaan basafa dilatarbelakangi pandemi Covid-19 yang tak kunjung redah di Sumbar. Dikhawatirkan, hal itu bisa memicu munculnya klaster baru penyebaran virus korona tersebut. Terlebih lagi, basafa yang merupakan tradisi ritual keagamaan yang bernuasa wisata religius, diikuti ribuan orang yang berkumpul di satu lokasi, yakni kawasan makam Syekh Burhanuddin.

“Saya dengar biasanya jemaah (basafa) lebih dari 10 ribu orang dari berbagai wilayah. Ini jumlah yang luar biasa. Rata-rata mereka berusia di atas 60 tahun,” ujar Pjs Bupati Padangpariaman, Adib Alfikri, usai rapat koordinasi dengan Ketua MUI Padangpariaman Buya Sofyan Tuanku Bandaro, Buya Heri Firmansyah, ninik mamak dan para tokoh masyarakat di Kecamatan Ulakantapakih, serta Kepala OPD Pemkab Padangpariaman, Kamis (1/10).

BACA JUGA:  Pembangunan Irigasi di Pariaman Batal karena Pandemi

Menurut Adib, apabila basafa tetap dilangsungkan, risiko penyebaran Covid-19 sangatlah besar. Sebab, mengontrol ribuan orang beraktivitas di kawasan yang sempit, sangat sulit dijamin bisa berjalan dengan maksimal.

“Kalau tidak pandai-pandai nanti dampaknya luar biasa. Jadi, lebih banyak mudarat daripada manfaatnya. Perlu kami tekankan ini murni untuk kemaslahatan bukan karena tendensi lain,” ungkap Pjs yang kini juga berstatus sebagai Kepala Dinas Pendidikan Sumbar tersebut.

Jika tradisi ritual basafa tidak ditunda, ia khawatir bisa membuka peluang terbentuknya klaster baru di Padangpariaman. Sebab, para jemaah basafa datang dari berbagai daerah di Indonesia, bahkan ada yang dari Negara tetangga. “Jadi tidak mudah untuk memetakan mana orang yang dari zona merah dan sudah terpapar. Apalagi, Covid-19 ini ada yang menginfeksi seseorang dengan tanpa gejala,” cermatnya.

BACA JUGA:  Jabatan Wali Nagari Paritmalintang Memiliki Tugas Berat

Untuk itu, ia menginstruksikan kepada seluruh stakeholder terkait menindaklanjuti keputusan meniadakan basafa di tahun 2020 ini. Yakni dengan sosialisasi atau memberitahukan kepada masyarakat secara langsung. Untuk lebih maksimal, upaya tersebut dimintanya agar disertai dengan pengawasan.

“Kami juga meminta kepada seluruh SatpolPP dan Dinas Perhubungan agar menyiapkan posko di perbatasan, untuk mencegah masuknya masyarakat luar Kabupaten Padangpariaman yang berniat berziarah di makam Syekh Burhanudin dan beribadah pada bulan safar ini,” pungkasnya.

Sedangkan Ketua MUI Padangpariaman, Buya Syofyan Tuanku Bandaro, meminta agar Pemkab melalui Dinas Kesehatan Padangpariaman lebih memberikan pemahan serta sosialisasi kepada masyarakat. Sehingga, masyarakat lebih mengerti dan paham tentang Covid-19. Hal itu menurutnya sangat penting untuk mencegah timbulnya kesalahpahaman di tengah masyarakat terhadap ulama.

BACA JUGA:  Wisata Pantai Nagari Katapiang Ditanami 800 Pohon Cemara Laut

“Dengan ditundanya (ditiadakan, Red) basafa tahun ini, memunculkan anemo baru di tengah masyarakat. Mereka menyangka para alim ulama telah berubah haluan, dan tidak lagi membimbing masyarakat dalam keagamaan. Pemahaman ini jangan sampai terjadi,” ungkapnya.

Padahal, imbuhnya, kepurusan itu disetujui para alim-ulama lantaran untuk kemaslahatan atau keselamatan umat. Sebab, sampai saat ini belum ada jaminan orang aman dari paparan Covid-19. Terlebih saat berada di lokasi yang sangat ramai.

“Jadi semua ini demi kebaikan bersama. Kami para alim ulama juga sudah memberikan pemberitahuan kepada jamaah yang berada di luar Padangpariaman terkait penundaan basafar tahun ini. Walau begitu, pemerintah harus lebih gigih dalam menyosialisasikannya,” pungkas Buya Syofyan. (da.)

  • Bagikan