Ayunan di Tiram Ditarif Rp 5 Ribu, Wisatawan: Rasa Diprank

  • Bagikan
Ayunan di Tiram Ditarif Rp 5 Ribu
Tangkap layar postingan akun Facebook milik Mailon Maneza tentang ayunan di Tiram, Kecamatan Ulakan Tapakih, kemarin (3/8/2022). (Hasnul Uncu/DatiakFoto)

Padang Pariaman | Datiak.com – Ayunan di Tiram, Kecamatan Ulakan Tapakih menjadi perbinacangan di akun Facebook seorang tokoh muda Lubuk Alung, Mailon Maneza. Sebab, pria yang akrab disapa Adek itu mengungkapkan kekecewaannya, lantaran dipungut tarif penggunaan ayunan di kawasan wisata Kecamatan Ulakan Tapakih tersebut.

Postingan berupa video yang direkam langsung oleh Adek tersebut, ditayangkan di akun Facebook-nya, Rabu (3/8/2022) pukul 11.33. Dalam postingan itu dituliskan dirinya merasa kena prank. “Duduk-duduk sebentar di ayunan ini, diminta Rp 5 ribu,” kata Adek –sapaan Mailon Maneza– dalam video tersebut dalam bahasa Minang.

Ia pun menjelaskan bahwa lokasi ayunan itu di kawasan wisata Tiram, tepatnya dengan Polair. “Itu dia bapak/bapak yang minta (tarif ayunan di Tiram, red),” ungkapnya sembari mengarahkan kameranya ke pria yang berjalan membelakanginya di jarak yang sudah cukup jauh.

Pria yang pernah mencaleg di Pileg 2019 tersebut itupun mengingatkan, agar wisatawan berhati-hati ketika melihat ayunan di Tiram tersebut. Yakni dengan menanyakan terlebih dahulu sebelum menyentuhnya.

“Teman-teman yang mau pergi ke sini, tolong tanyakan dulu. Daripada kaget nanti, duduk sebentar diminta Rp 5 ribu,” akhir penjelasan Adek dalam video berdurasi 37 detik tersebut.

Postingan Adek itupun mendapatkan puluhan tanggapan. Ada yang menjelaskan bahwa ayunan di Tiram itu memang dibuat warga setempat, sehingga wajar pemungutan dilakukan.

Bahkan, akun Facebook Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Disparpora) Padang Pariaman, Muhammad Fadhly, juga terlihat muncul dalam kolom komentar status Adek tersebut. Ia mengucapkan terima kasih atas informasi tersebut, dan menganggap masukan itu sangat berarti.

Muhammad Fadhly yang dikonfirmasi terkait kejadian itu, mengatakan bahwa kawasan wisata tersebut di bawah pembinaan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) setempat. Sedangkan Pemkab Padang Pariaman sifatnya memfasilitasi untuk kemajuan pariwisata di sana.

“Jadi, fasilitas yang bangun pemda di sana, pengelolaannya diserahkan ke nagari, dan pembinaan kepariwisataannya oleh Pokdarwis,” kata Fadhly ketika dihubungi ke nomor ponsel pribadinya, kemarin.

Ia pun mengaku belum mendapat laporan terkait kejadian tersebut. Untuk itu, dirinya memastikan akan mengkonfirmasinya kepada pihak nagari dan Pokdarwis setempat. “Soal tarif itu memang harus ada informasinya. Itu salah satu pembinaan yang harus dilakukan Pokdarwis,” tukasnya. (da.)


  • Bagikan
Daftar dan masuk untuk mengambil konten!