4 Pelajar Padangpanjang yang Terjebak di Hutan Melihat Hal Mengejutkan

  • Bagikan
3 dari 4 pelajar Padangpanjang yang terjebak di hutan saat melakukan hiking ke lokasi Air Terjun Bostra. (Foto: Istimewa)

Padangpanjang | Datiak.com – 4 pelajar Padangpanjang yang dinyatakan hilang Minggu malam (21/2), ditemukan tim gabungan dalam kadaan selamat, Senin (22/2) sekitar pukul 00.15 WIB. Saat itu, mereka tengah menunggu tim penyalamat setelah terjebak kemalaman di pinggir Sungai Batu Licin.

Diketahui, 4 pelajar Padangpanjang itu bersekolah di SMA Negeri 2 Padangpanjang. Mereka adalah Bariq Ramadhan (18 tahun), Rahma Denil Helza (17 tahun), Rafi Aditia Rahmat (17 tahun), dan M Irwandi Fahrial Surbakti (17 tahun).

Bariq yang merupakan siswa kelas XII/IPS 2, berencana untuk hiking ke lokasi Air Terjun Bostra, bersama tiga rekannya yang duduk di bangku kelas IPS 3 tersebut. Perjalanan yang mereka rencanakan pukul 11.00 WIB, Minggu (21/2), molor 2 jam karena salah seorang teman lainnya ada kesibukan lain.

Bariq menjelaskan, perjalanan menuju lokasi dituju dipandu Rafi yang disebutkan telah pernah menjajaki kawasan tersebut dengan lama perjalanan 2 jam. Namun setelah perjalanan cukup jauh hingga pukul 16.00 WIB, Bariq bersama rekannya malah menemukan air terjun lain dan memutuskan untuk istirahat makan dan shalat di lokasi tersebut.

BACA JUGA:  Mentawai Diguncang Gempa Tektonik Beruntun

”Rute yang ditempuh memang beralih dari jalan yang pernah dilewati Rafi, karena kami menemukan adanya jejak harimau dan babi hutan. Kami memilih jalur aman, kami mengikuti aliran sungai hingga sampai di lokasi air terjun yang bukan Bostra,” beber Bariq.

Selesai shalat dan makan nasi goreng yang di beli di salah satu warung di Padangpanjang, Bariq bersama rekannya memutuskan untuk kembali dengan melewati jalur semula. Namun tidak jauh dari lokasi itu, dirinya menemukan air terjun dimaksud di tebing sisi kiri sungai yang dilalui sebelumnya.

Setelah berhasil mencapai tujuan, Bariq bersama rekannya kembali turun dengan niat melanjutkan perjalanan pulang. “Kondisi hari sudah mulai gelap saat itu sekira pukul 18.45 WIB, sehingga mulai kesulitan menelusuri jalan. Ditambah lagi Rafi yang cidera pada jari kelingking dan manis akibat tertimpa batu saat menuruni tebing air terjun Bostra,” ucapnya.

BACA JUGA:  Perahu Nelayan di Tuapejat Terbalik Dihantam Ombak

“Kami memilih berdiam di salah satu batu besar dengan mendirikan bivak dengan plastik yang tadinya digunakan sebagai alas shalat. Saat itu kami sudah menghubungi salah seorang kakak pramuka di Padangpanjang serta masing-masing orang tua,” tutur Bariq sembari mengaku hanya terjebak gelap dan bukan tersesat.

Keterangan BPBD Padangpanjang

Sementara itu Kepala Bidang Kedaruratan pada BPBD Kota Padangpanjang, Syafrijon mengatakan, informasi ke empat pelajar yang dinyatakan tersesat tersebut diterima dari kesatuan Brimob sekira pukul 21.00 WIB, Minggu (21/2).

Gerak cepat koordinasi lintas jajaran terlibat, sekitar 150 orang anggota tim gabungan yang terdiri dari Basarnas Padang Posko Limapuluh Kota, Brimob, BPBD, Damkar, Tagana, ORARI, RAPI, TNI/Polri dan relawan TRC serta pegiat alam, dibagi menjadi 5 kelompok.

“Alhamdulillah, setelah perjalanan selama 3 jam, tim 2 yang terdiri dari Brimob dan pemuda setempat berhasil menemukan pelajar tersebut dalam keadaan selamat sekira pukul 00.15 WIB. Berdasarkan informasi tersebut, tim logistik sebanyak 18 orang menyusul dan bertemu sekira pukul 03.50 WIB, di lokasi yang berjarak 1,3 kilometer garis lurus dari Posko Jembatan Kembar,” ungkap Syafrijon didampingi Kasubid Kedaruratan, Ireli Sofa.

BACA JUGA:  Jambret yang Beraksi di Angkot Padang Ditangkap Warga

Ireli menambahkan, pencarian cukup dipermudah berkat masih tersambungnya dengan kontak selular salah seorang pelajar tersebut. Pasca mendapat pasokan logistik, para pelajar beserta seluruh tim mulai turun sekira pukul 04.30 dan sampai di posko setelah 1,5 jam berikutnya.

“Sekitar pukul 05.20, semua sampai di posko, ke empat pelajar di bawa petugas PSC 119 menuju RSUD Padangpanjang untuk mendapatkan perawatan medis guna mengantisipasi risiko paska kejadian. Terutama salah satu dari mereka yang mengalami cidera pada jari tangannya,” pungkas Ireli. (da.)

  • Bagikan